Log in

Soal Rapid Test pada Wisnus, Kadis Pariwisata : Masih Bersifat Dinamis

  Kadis Pariwisata, Dumosch Pandiangan (tengah) saat membagikan bantuan sembako dari Kemenparekraf kepada pelaku wisata.(Andalas/Dok Dispar Samosir) Kadis Pariwisata, Dumosch Pandiangan (tengah) saat membagikan bantuan sembako dari Kemenparekraf kepada pelaku wisata.(Andalas/Dok Dispar Samosir)

Samosir-andalas Kadis Pariwisata Samosir, Dumosch Pandiangan, minta para pelaku wisata Samosir komit mengikuti SOP protokol kesehatan. "Surat edaran tentang pembukaan kembali pariwisata, bersifat dinamis, karena disusun menjelang penerapan new normal, bersama-sama Forkopimda dan GTPP Covid-19. Jadi, ada ruang untuk berdiskusi bersama kembali tentang surat rapid test,"sebutnya kepada harianandalas.com, Kamis (16/07/2020).

Menurut Dumosch Pandingan, GTPP Kabupaten Samosir melalui wakil bupati di Ambarita, sudah pernah berdiskusi dengan pelaku wisata. Namun, saat itu masalah teknis belum sampai dibahas.

Sebenarnya, kata dia, objek wisata akan dibuka kepada wisatawan nusantara (wisnus) Agustus nanti. Jadi menjelang bulan Agustus, pelaku wisata harus turut mensosialisasikan protokol kesehatan. Artinya menjelang Agustus masih ada kesempatan untuk berdiskusi bagaimana SOP yang akan diterapkan di objek wisata bagi wisatawan nusantara.

Disinggung mengenai apakah tidak cukup wisnus mengurus surat sehat dari tempat asalnya ? Pandiangan kembali menegaskan, wisnus baru bisa berkunjung pada Agustus nanti. Intinya pelaku wisata mengikuti SOP yang ada saat ini dulu."Soal rapid test kepada wisnus, masih ada waktu untuk mendiskusikannya," ujar Pandiangan.

Sebelumnya, para pelaku wisata menuntut GTPP Covid-19 Kabupaten Samosir supaya membatalkan aturan yan mewajibkan setiap wisatawan ke Samosir harus menunjukkan hasil rapid test, dengan alasan:

Kabupaten Simalungun dan Karo tidak membuat syarat harus ada surat rapid test dan sudah buka Juni. Pembuatan syarat ini akan membuat calon wisatawan akan memilih tidak datang ke Samosir dan akan lebih memilih berlibur di Parapat dan Tanah Karo atau Dairi dan Toba.

Rapid test relatif mahal, dan Samosir selama ini dikenal sebagai pilihan liburan keluarga, liburan rombongan gereja, sekolah dan persatuan marga. Coba dibayangkan, satu keluarga dengan dua anak saja, berarti sudah harus membayar di awal Rp 600 ribu, supaya bisa masuk Samosir.

Belum lagi para rombongan gereja, mahasiswa, sekolah dan marga. tentu akan merasa sangat mahal dan memilih daerah lain. Rapid test tidak akurat dan menjamin seseorang itu positif atau tidak positif Covid-19. Karena metode Rapid test adalah sebuah metode yang tidak menghasilkan data keadaan terkini seseorang.

Banyak orang menghindar untuk mengikuti Rapid test, karena takut dirinya dan keluarga, kalau kalau dihakimi masyarakat dan mendapat stigma sosial. Dibeberapa tempat kita saksikan sendiri berita di media bahwa saat disuatu tempat dilaksanakan Rapid Test gratis, tidak ada satu pun masyarakat sekitar datang mengikuti. Karena dianggap tidak akurat serta takut dihakimi masyarakat.

Gabungan pelaku wisata Samosir menyarankan wisatawan nusantara yang hendak ke Samosir cukup dengan mengikuti protokol kesehatan, seperti, penerapan protokol kesehatan secara ketat dan konsisten pada semua objek, semua hotel, restoran dan anggutan umum, atau bila harus ada dokumen kesehatan, cukup dengan surat sehat dari dokter, rumah sakit atau Puskesmas, yang menerangkan tidak ada sakit gangguan pernapasan.

"Dokumen sehat seperti ini tentu lebih mudan dan lebih murah," kata perwakilan pelaku wisata, Manajer Hotel Silintong Setiaman Harefa, pemilik Raja Hotel Wamran Judia Sihaloho, Barbara Hotel Ira Maya Panjaitan dan Pokdarwis Tomok, Trensia Sidabutar, Kamis.(HN)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C