Log in

Biarlah Covid Tetap Berjalan, Adat dan Budaya Karo Jangan Ditiadakan

  Bupati Karo Terkelin Brahmana SH MH saat zoom meeting “Protokol Kesehatan dan Adat Budaya Karo”. (andalas/robert tarigan) Bupati Karo Terkelin Brahmana SH MH saat zoom meeting “Protokol Kesehatan dan Adat Budaya Karo”. (andalas/robert tarigan)

Kabanjahe-andalas Sejumlah pakar dan praktisi masyarakat Karo dari beragam latar belakang profesi di Indonesia memberikan sumbangsih pemikiran dan gagasan dalam mengatasi Covid-19 harus satu frekuensi agar penanganannya bisa maksimal. Mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan dan budaya baru di masa pandemi Covid-19. Adanya Pandemi harus bisa menjadikan masyarakat naik kelas atas perubahan perilaku budaya baru.

Hal itu terungkap saat “Forum K3”menggelar zoom meeting dengan tema utama “Protokol Kesehatan dan Adat Budaya Karo” dengan moderator Liasta K Surbakti menghadirkan sejumlah nara sumber, Bupati Karo Terkelin Brahmana SH MH didampingi Kabag Humas dan Protokol Pemkab Karo, Frans Leonardo Surbakti dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, drg Irna Safrina Meliala MKes, Sabtu (08/08/2020) siang dari ruang Karo Command Centre kantor Bupati Karo.

Dalam zoom meeting yang melahirkan sejumlah saran dan gagasan itu, sejumlah tokoh-tokoh informal dan formal masyarakat Karo di Pulau Jawa, Padang, Medan dan sejumlah daerah lainnya, di antaranya, Elias Ginting Dubes Indonesia untuk Finlandia dan Estonia, Senator Dr Badikenita Putri Br Sitepu SE Msi, Dr Sentosa Sembiring SH MH (pakar hukum dan akademisi).

Selanjutnya, Letjen (Purn) Amir Sembiring, Drs NJ Sembiring, Pool Ginting, Pdt Kongsi Kaban Kabid Marturia Moderamen GBKP, Amos Tarigan, Nelson Barus, Arnis Ginting, Matius Purba dan mantan anggota DPRDSU, Siti Aminah Br Peranginangin.

Matius Purba mengungkapkan, “biarlah pandemi Covid-19 berjalan, tapi adat dan budaya Karo jangan ditiadakan,” sebutnya. Nelson Barus menekankan, adat dan budaya Karo perlu tetap dilestarikan sesuai dinamika dan perkembangan zaman terlebih di masa pandemi sekalipun. Namun pelaksanaanya tentu berbeda dengan sebelum adanya pandemi Covid-19, tentunya adat dan budaya harus adaptif dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Demikian juga disampaikan Elias Ginting, bahwa adat dan budaya Karo itu identik dengan kehidupan diplomasi. “Arih-arih muat simehuli”. Namun pelaksanaanya masa pandemi harus disesuaikan dengan protokol kesehatan tanpa mengurangi nilai-nilai adat dan budaya itu sendiri.

Hal yang sama dituturkan seniman Arnis Ginting, bahwa pelaksanaan pesta ada dan budaya Karo digelar sesuai temanya tapi dengan menyesuaikan protokol Covid-19. Dalam zoom meeting itu juga dibicarakan terkait ramuan tradisional maupun obat tradisional asal Karo yang disikapi Kepala Dinas Kesehatan drg Irna Safrina Meliala untuk membumikan obat tradisional dengan mengikuti proses perijinannya.

Sebelumnya, Bupati Karo Terkelin Brahmana menjelaskan, kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan menjadi 'vaksin' khusus untuk mencegah penularan. Pemkab Karo terus mengajak dan mensosialisasikan protokol kesehatan sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari, dan tetap meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

“Dalam waktu dekat Pemkab Karo akan membuat panduan acara pesta-pesta adat dengan melibatkan tokoh adat dan agama. Sebelum membuat panduan itu, tentunya akan digelar simulasi, bagaimana tata acaranya dengan mengedepankan protokol Covid-19,” ujar Bupati.

Inpres 6/2020 Mengatur Penegakan Hukum Protokol Covid

Menurut Terkelin Brahmana, Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020, tanggal 5 Agustus 2020 kemarin, tentang Peningkatan Disipilin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Inpres tersebut di antaranya mengatur sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan. “Nantinya akan kita sosialisasikan ke masyarakat untuk menekan laju peningkatan kasus Covid-19,” tutur Bupati.

Selanjutnya, Bupati Karo mengakui beragam kekayaan alam dan potensi kebudayaan masing-masing suku bangsa, sejak dulu kala menjadi keistimewaan dan keunggulan masing-masing daerah. Termasuk citra masakan kuliner, adat, musik (tarian) etnik termasuk obat tradisional yang punya keunikan tersendiri.

Tak kalah menarik tentang peran penting obat tradisional yang sejak dahulu kala diyakini dan dipergunakan untuk mengobati segala bentuk dan ragam penyakit. Secara khusus misalnya, orang Karo sebelum mengenal rumah sakit, memanfaatkan obat-obat tradisional yang terbuat dari rempah-rempah alami.

“Warisan turun temurun dari leluhur Karo telah meninggalkan sejumlah catatan ramuan obat tradisional seperti rempah (baca sembur-Karo), obat param (tawar/kuning-Karo) termasuk minyak (minak pengalun-Karo) yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, harus terus dilestarikan,” katanya.

“Sembur, Kuning atau Tawar, Minyak Pengalun dan lainnya hingga sekarang masih dipergunakan. Namun munculnya pandemi ini, telah membukakan mata kita, bahwa warisan leluhur itu sudah saatnya go nasional dengan mendorong pelaku-pelaku usaha obat tradisional Karo itu untuk mematenkan hak obat tradisionalnya ke pemerintah,” katanya. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C