Logo
Print this page

Sumut dan Perubahan Konstelasi Politik


Pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Sumatera Utara, diprediksi melahirkan hasil yang bisa jadi di luar ekspektasi banyak kalangan, yang diyakini akan menimbulkan perubahan konstelasi politik.

Perubahan peta politik antara lain terkait dengan berubahnya perolehan suara/kursi pada pelaksanaan Pemilihan Legislatif 17 April 2019 lalu, yang telah merontokkan raihan suara sejumlah partai politik. Di antaranya melanda Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Anjloknya raihan suara Partai Hanura di Sumatera Utara, berbanding lurus dengan kegagalan partai ini untuk menembus ambang batas parlemen (parliamentary treshold), yang diharuskan minimal harus mencapai 4 persen. Sementara berdasarkan quict qount, raihan suara Partai Hanura hanya sekitar 2 persen.

Ketidakmampuan Hanura mempertahankan status sebagai salah satu partai yang memiliki wakil di Senayan, berdampak langsung pada merosotnya raihan kursi partai ini di DPRD Sumatera Utara. Bisa dipastikan, mereka akan kehilangan kursi pimpinan dewan.

Penurunan suara signifikan juga dialami Partai Demokrat. Besar kemungkinan, partai ini juga akan kehilangan kursi pimpinan dewan. Sebaliknya, peningkatan raihan kursi secara drastis dialami oleh Partai NasDem Sumut, di bawah kepemimpinan Iskandar ST, yang diprediksi akan meraih 15 kursi.

Hal itu bermakna, partai yang kelahirannya dinakhodai Surya Paloh ini akan mendapatkan kehormatan menduduki kursi pimpinan dewan menggantikan posisi yang selama ini ditempati Partai Demokrat. Sedangkan PKS yang diprediksi memperoleh 10 kursi akan menempati posisi Partai Hanura.

Dalam hal ini menarik untuk dicermati mengapa Partai NasDem dan PKS melejit, sehingga saat ini mampu menempati posisi the big five. Setidaknya terdapat beberapa faktor, membuat kedua partai ini meraih prestasi gemilang. Di antaranya NasDem mampu memetik manfaat dari efek positif dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin. Sedangkan PKS terimbas dukungan terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Namun, yang paling utama adalah kemampuan dalam merekrut caleg-caleg berkualitas seperti dilakukan Partai NasDem. Sedangkan PKS lebih dominan disebabkan 212 effect yang lebih dirasakan Partai Keadilan Sejahtera ketimbang Partai Amanat Nasional.

Nah, perubahan raihan suara secara signifikan dari kedua partai ini pun pada perkembangan selanjutnya akan menyebabkan perubahan konstelasi perpolitikan di Provinsi Sumatera Utara.

Perubahan peta politik tersebut dipastikan juga akan berdampak pada dinamika perpolitikan di daerah ini. Termasuk di dalamnya saat menghadapi rivalitas politik di sejumlah Pilkada kabupaten/kota maupun Pilkada Gubernur Sumatera Utara.

Tentunya kita berharap perubahan konstelasi politik di daerah ini, selain menjadi pelajaran bagi para kader dan elite partai, diharapkan juga akan dapat melahirkan suasana dan kehidupan demokrasi yang lebih baik bagi masyarakat di daerah ini.  Insya Allah... (**)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com