Log in

Menunggu Pencopotan Menteri


Setiap kali Liga Primer Inggris mulai digelar, lazimnya akan selalu muncul prediksi di kalangan pengamat sepak bola di negerinya Queen Elizabeth itu, soal siapa pelatih yang paling cepat dipecat dan klub mana saja yang bakal mengalami degradasi.

Dalam konteks demikian, menunggu pencopotan menteri bukanlah sesuatu yang bersifat agitatif serta cerminan sikap pesimis dalam menyikapi pelantikan para menteri kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin.

Namun, hal itu sesungguhnya merupakan sebuah warning sekaligus sebagai cambuk bagi para menteri tersebut. Bahwa, menjadi menteri bukanlah sekadar gengsi-gengsian, melainkan sebuah tantangan yang sangat berat.

Untuk itu, wajar jika Presiden Joko Widodo langsung memberikan penegasan kepada para menteri, bahwa siapa pun yang tidak becus dalam menjalankan tugasnya akan segera dicopot. "Tidak ada visi misi menteri, yang ada adalah visi misi presiden. Semuanya harus serius, yang enggak sungguh-sungguh, hati-hati bisa saya copot di tengah jalan,"tegas presiden.

Terkait hal ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berjanji akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Bahkan, mantan Presiden klub Inter Milan ini mengaku siap melepaskan jabatannya di tengah jalan jika dianggap kinerjanya kurang bagus selama lima tahun ke depan.“Semua menteri harus siap dicopot, saya siap dicopot, karena komitmen kita untuk bangsa yang besar,” ujarnya dalam acara Sertijab di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu.

Erick Thohir bisa dengan entengnya berkata seperti itu, justru karena dia merasa sudah memiliki agenda-agenda riil yang segera dilaksanakannya untuk
membenahi kinerja BUMN di negeri ini. Berbekal segudang pengalamannya di bidang usaha, diyakini Erick akan sukses mengemban amanah sebagai menteri. Karenanya, walaupun dia menyatakan siap dicopot, kelihatannya yang bersangkutan akan lulus dalam mengemban jabatan tersebut.

Memang menarik untuk ditunggu, siapa yang bakal terkena giliran pertama yang bakal dicopot. Sebab, pernyataan Presiden Joko Widodo soal perlunya keseriusan dalam menjalankan tugas kementerian dan konsekuensi bagi yang tidak serius, akan dicopot di tengah jalan. Permasalahan, pada akhirnya bukan hanya sekadar serius atau tidak serius, melainkan juga mampu atau tidak mampu.

Bisa jadi para menteri itu sebenarnya sudah sangat serius dalam menjalankan tugasnya. Namun, yang bersangkutan terkendala oleh keterbatasan kualitas sumberdaya manusianya (SDM) alias kompetensi yang tidak memadai, sehingga tidak maksimal dalam melaksanakan target dan menerjemahkan visi misi presiden-wakil presiden, yang diembankan kepadanya.

Tidak maksimalnya pencapaian tugas itu merupakan konsekuensi dari kurang tepatnya penempatan posisi menteri. Diakui atau tidak, terdapat beberapa nama menteri yang terkesan dipaksakan dan hanya karena rekomendasi dari partai politik. Antara lain posisi Menpora yang dijabat politisi Golkar Zainuddin Amali, Menaker yang dijabat politisi PKB Ida Fauziyah, Agus Suparmanto Menteri Perdagangan, juga Nadiem Makarim yang terlalu hijau menjabat Mendikbud.

Tentunya semua menteri yang telah dilantik dan diberikan amanah sebagai pembantu presiden itu, sudah lolos audisi yang dilakukan presiden. Atas dasar itu pula memang tidak layak untuk bersikap pesimis terhadap para menteri tersebut. Dengan kata lain, mari kita beri kesempatan kepada mereka untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Sembari membiarkan mereka membuktikan diri, tentu tak salah pula jika kita menunggu kabar pencopotan para menteri itu. Diharapkan, kalaupun bakal terjadi pencopotan, hendaknya benar-benar disebabkan ketidakmampuan yang bersangkutan dalam menerjemahkan visi misi menteri presiden dan ekspektasi rakyat. Jangan sampai pencopotan yang dilakukan disebabkan faktor like or dislike dan akibat adanya pressure dari elite politik.(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C