Log in

Kita dan Fanatisme Bollywood

Agus Salim Ujung Agus Salim Ujung

Saya merasa bersyukur, karena sebagai penonton film, saya tidak fanatik kepada jenis film tertentu. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang, saya menyukai segala jenis film.

Ketika masih kanak-kanak dan menjelang remaja saya sudah akrab dengan nama-nama bintang film terkenal dari negeri sungai Gangga semisal Raj Kapoor, Dev Anand, Shammi Kapoor, Dharmendra, Amitabh Bachchan, Shashi Kapoor, Rishi Kapoor, Nargis, Madhubala, Sharmila Tagore, Mumtaz, Hema Malini, Zeenat Aman, Rekha, Dimple Kapadia, Sri Devi, dll.

Saya juga masih terkenang dengan film-film Hongkong yang dibintangi Chen Kuan Thai, Fu Sheng, Chen Sing, David Chiang, Wang Tao, Lin Ching Sia, Carina Lau, atau aktor-aktris Hollywood semisal Marlon Brando, Charles Bronson, Robert de Niro, Robert Redford, Elizabeth Taylor, Raquel Welch, Ursula Andress, Jacqueline Bisset.

Namun industri film Bollywood, sepertinya memang sebuah perkecualian dan sangat berbeda dibandingkan dengan industri film negara lain. Bollywood seolah tidak mengenal pasang surut seperti halnya industri film Indonesia.

Bollywood tetap eksis, sejak mulai ada sekitar tahun 30-an hingga sekarang. Bahkan, di saat pandemi Covid-19 melanda, mereka tetap berproduksi, minimal melalui media streaming. Setiap tahun dari ratusan film yang diproduksi, terdapat puluhan film berstatus blockbuster, hits, semi hit, dan flop.

Sungguh mencengangkan, industri film negerinya Mahatma Gandhi itu sama sekali tidak terpengaruh dengan maraknya televisi swasta dan berbagai jenis hiburan lainnya. Last not but least, film impor dari Hollywood justru jarang mendapat tempat di negeri itu.

Karena pesatnya produksi film di sana, tak mengherankan bila aktor sekaliber Dharmendra, Shashi Kapoor, Rishi Kapoor, Amitabh Bachchan, Mithun Chakraborthy, Govinda, Salman Khan, sudah membintangi 100 hingga 200 film sepanjang karier mereka.

Apresiasi masyarakat terhadap bintang-bintang layar perak juga sungguh mengejutkan dan terkadang tak masuk akal. Masyarakat India misalnya, sering memperlakukan para aktor legendaris dan top sekaliber Raj Kapoor, Dilip Kumar, Dharmendra, Amitabh ‘Big B’ Bachchan, Salman Khan, Shahrukh Khan, bak ‘dewa’ yang datang dari planet lain.

Ya, mereka memang sangat fanatis. Ketika Dharmendra, Sunil Dutt, Hema Malini, Sunny Deol, Govinda, Jayalalitha, atau Jaya Prada misalnya suatu ketika ingin beralih profesi menjadi politisi, dengan sangat mudah mendulang suara dan menghantarkan mereka menjadi member or parliament.

Fanatisme masyarakat India hebatnya tak berhenti pada film produk Bollywood saja. Di negeri-nya Mohammad Rafi (salah satu penyanyi legendaris India) itu juga muncul istilah Tollywood, Kollywood, dan Mollywood, sebutan untuk karya film dihasilkan sineas daerah dari Tamil, Telugu dan Malayalam.

Tepatnya, di sana juga berkembang pesat film berbahasa daerah yang memiliki pangsa pasar tersendiri. Kalau di negeri kita, mungkin film berbahasa Batak, Sunda atau Jawa.

Begitu fanatiknya mereka terhadap film karya sendiri. Sampai-sampai film Bollywood (berpusat di kota Mumbai) dan beredar ke seluruh negeri, dianggap belum cukup, sehingga dipandang perlu membesut film daerah sendiri.

Dan sineas di daerah-daerah India tadi bukan sekadar hadir, melainkan bekerja sangat profesional. Industri perfilman daerah juga melahirkan nama-nama melegenda seperti Sivaji Ganeshan, Jayalalitha, Rajnikant, Kamal Hassan, Chiranjeevi, Nagarjuna, Vijaykant, Sarath Kumar, Gowthami, Radhika, Khushboo, Meena, Simran, Rambha, dll.

Bahkan music director number one di Bollywood saat ini, AR Rahman, justru tumbuh dan memulai kariernya dari perfilman daerah di Chennai (Tamil). Kalau dihitung semua film karya sineas India, mungkin terdapat ribuan film dihasilkan setiap tahun. Sangat njomplang bila dibandingkan dengan produksi film Indonesia. Di tengah booming film horor beberapa tahun silam pun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Kecintaan masyarakat mayoritas beragama Hindu itu terhadap film karya anak negeri sungguh mengagumkan. Fanatisme Bollywood tidak ada tandingannya dan tidak akan pernah luntur sepanjang zaman. Fanatisme seperti ini seharusnya bisa ditumbuhkan di negeri kita. Namaste, mera sanam.(Agus Salim Ujung)

Berita lain dari kategori ini : « Jangan Sok Suci...! Pilkada Tak Perlu Ditunda ! »

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C