Log in

Virus Kolera Resahkan Peternak di Dairi

Tim gabungan lintas OPD penangulangan wabah penyakit babi memberikan keterangan Pers seputar langkah yang telah dilakukan Pemkab Dairi untuk mengatasi penyebaran virus kolera yang menyerang ternak warga di Dairi. (andalas/Parulian Nainggolan) Tim gabungan lintas OPD penangulangan wabah penyakit babi memberikan keterangan Pers seputar langkah yang telah dilakukan Pemkab Dairi untuk mengatasi penyebaran virus kolera yang menyerang ternak warga di Dairi. (andalas/Parulian Nainggolan)

Pemkab Bentuk Tim Penanggulangan

Sidikalang-andalas Kurun waktu satu bulan terakhir ternak babi di Kabupaten Dairi terserang virus kolera yang mengakibatkan kematian. Data hingga 17 Oktober 2017, sedikitnya 1004 ekor ternak mati dan kondisi ini sudah kategori meresahkan peternak akibat kerugian ekonomi yang cukup besar.

Menyikapi kondisi sedemikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi langsung membentuk tim penanggulangan beranggotakan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terdiri dari Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Satpol PP, BPBD, dan pemerintah kecamatan se-Dairi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dairi Posmatua Manurung selaku koordinator tim didampingi Kepala Dinas Pertanian Dairi Herlina Tobing, Plt Kabag Humas dan Protokoler dan anggota tim lainnya dalam konfrensi Pers yang digelar, Jumat (18/10), menjelaskan, penyebaran virus terjadi di wilayah 13 dari 15 kecamatan.

Berdasarkan pemeriksaan 12 sampel yang diteliti Balai Veteriner Regional I Medan, tiga sampel disimpulkan penyebab kematian ternak dinyatakan positif terserang Hog Cholera. Sementara untuk sembilan sampel dilakukan proses pemeriksaan lanjutan guna mengetahui kemungkinan serangan virus African Swine Fever (ASF).

Dijelaskan, kasus kematian ternak di Sumatera Utara juga diketahui terjadi di Kota Medan, Deliserdang, Humbang Hasundutan, Tobasa, Samosir, Tapanuli Utara, dan Dairi. Ciri-ciri ternak yang terpapar kolera ialah tidak mau makan, kemudian panas atau demam tinggi, tubuh berbintik-bintik warna merah terutama pada daerah telinga, leher, dan abdomen, lalu pendarahan dari hidung, anus, dan telinga. "Kalau sudah mengalami gejala itu, tingkat kematian babi mencapai 100 persen," sebutnya.

Selain melakukan pemeriksaan organ dan darah di Balai Veterial Regional I Medan, Pemkab Dairi melalui tim lintas OPD melakukan sejumlah tindakan preventif diantaranya melakukan peningkatan biosecurity dengan desinfeksi dan vaksinasi ternak.

Melakukan investigasi bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Sosialisasi melalui camat, kepala desa termasuk bekerja sama dengan pengurus gereja dan serta menyampaikan himbauan kepada masyarakat agar tidak membuang bangkai babi yang terserang virus secara sembarangan, melainkan dibakar lalu dikubur guna melokalisir dan meminimalkan penyebaran virus.

Pemkab Dairi juga melakukan pembagian desinfektan, obat, dan vaksin gratis, dan mengupayakan bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pusat untuk membantu penyediaan jenis obat yang dibutuhkan.

“Bupati Eddy KA Berutu terus bergerak cepat mengatasi permasalahan, termasuk bertolak ke Jakarta menemui Menteri Pertanian mengupayakan agar pemerintah pusat memberikan atensi dan dukungan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi," sebut Posma.

Pemkab Dairi juga melakukan pembatasan hingga pelarangan sementara arus jual-beli ternak dari luar Kabupaten Dairi.

Kepala Dinas Pertanian Herlina Tobing memastikan, penyakit yang menyerang ternak, bukan penyakit zoonosis dan tidak dapat menular kepada manusia maupun sebaliknya.

Terkait jumlah ternak yang mati, Herlina menyebut angka tersebut merupakan rekapitulasi dari laporan Petugas Penyuluh Pertanian, dan tidak menampik kemungkinan bahwa angka tersebut bisa lebih banyak karena peternak tidak melaporkan. (GOL)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px