Log in

Sudah Ada Jalur Tembus Karo-Langkat, Perlanja Sira

TUGU KULIKI - Bupati Karo Terkelin Brahmana didampingi unsur Forkopimda beberapa waktu lalu saat survei jalur Karo – Langkat. Rombongan sejenak foto di Tugu Kuliki Batas Karo – Langkat. TUGU KULIKI - Bupati Karo Terkelin Brahmana didampingi unsur Forkopimda beberapa waktu lalu saat survei jalur Karo – Langkat. Rombongan sejenak foto di Tugu Kuliki Batas Karo – Langkat.

Sebelum Ada Jalan Medan-Berastagi

Kabanjahe,Sumaetra Utara-andalas Tugu Kuliki adalah tanda batas antara kawasan Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Tahura) Kabupaten Karo dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat. Dibangun tahun 1987 oleh TNI.

Jarak dari Kabanjahe ke Tugu Kuliki batas Karo-Langkat, sekitar 29 km. Dari Tugu Kuliki ke Kota Binjai sekitar 40 km, dari Tugu Kuliki ke Kota Medan sekitar 70 km. Jarak dari Desa Kuta Rayat (Kecamatan Naman Teran) ke Tugu Kuliki sekitar 7,5 km dan dari Tugu Kuliki ke Telagah (Kabupaten Langkat) sekitar 8 km.

 “Panorama kawasan ini juga sangat menarik. Salah satu alternatif jalan pintas bagi daerah kabupaten/kota lain Seperti Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Singkil, Subusalam, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun dan Karo menuju Binjai, Langkat, Kuala Simpang dan Aceh Timur atau ke Medan,” ujar Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH, Jumat petang (7/9) di Kabanjahe saat bincang-bincang dengan wartawan.

Sehingga bisa mengurangi kepadatan/kemacetan Jalan Utama Berastagi-Medan yang semakin sering terjadi. Jalan tembus Karo-Langkat inilah yang sering didengungkan menjadi jalur alternatif Medan –Tanah Karo dan sejumlah kabupaten lainnya yang melintas dari Karo ke Medan maupun sebaliknya, namun sayangnya hingga hari ini, pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) belum mengijinkannya walaupun sebelumnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah memberi izin pinjam pakai untuk jalan dimaksud.

Namun demikian, saya sangat yakin kekurangan persyaratan akan dipenuhi pihak Dinas PUPR Provinsi. Nantinya, ujarnya mengimbau, agar masyarakat sekitar kawasan ikut bertanggungjawab menjaga kawasan TNGL.

“Jalan ini juga akan mengurangi kemacetan Jalan Kabanjahe-Medan yang berkeinginan ke Langkat, karena tidak perlu lagi dari Medan. Di sisi lainnya, apabila terjadi longsor jalan Kabanjahe-Medan maka sudah ada jalan alternatif lainnya. Hanya memang harus diperhatikan bersama pemerintah dan masyarakat karena kawasan itu termasuk hutan lindung, maka harus ada ketentuan hukum yang jelas,” tuturnya.

Pihaknya minta pembangunan jalan alternatif itu bukan untuk tempat tinggal masyarakat apalagi untuk usaha. Karena itu, jangan sampai ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan pribadi. "Jalan tembus yang dibangun di kawasan ini adalah untuk memerlancar jalur lalulintas, bukan untuk tempat tinggal dan berbisnis," pintanya.

Menurutnya, keselamatan dan kelestarian lingkungan tetap harus dijaga, jangan dirusak, apalagi dieksploitasi kepentingan kelompok. Ketegasan BBTNGL dan dinas kehutanan provinsi sangat diharapkan dan kepatuhan masyarakat harus ditanamkan. "Hutan tersebut harus tetap terpelihara, karena itu harus dijaga dengan ketat jangan sampai terjadi perambahan lahan dan pengambilan kayu illegal logging," harap Terkelin Brahmana.

Jalan tembus Karo-Langkat ini sangat evektif untuk menyelamatkan ribuan warga bila sewaktu-waktu erupsi Sinabung kembali terjadi."Selama erupsi Gunung Sinabung jalan ini sudah digunakan sebagai jalur evakuasi. Hal inilah yang harusnya dikedepankan semua pihak,"ujarnya.

Terkelin menambahkan, betapa pentingnya jalan tembus Karo-Langkat bagi masyarakat kedua kabupaten bertetangga itu. Secara historis dulunya ada hubungan kekeluargaan yang sangat kental antara masyarakat Karo dan masyarakat Langkat. Hubungan kekerabatan secara turun temurun ini, hingga sekarang masih tetap berlangsung. Dan dalam interaksi sosial dalam menjalankan kekerabatan budayanya  jalur tembus ini satu-satunya jalan untuk saling mengunjungi “mburo ate tedeh” (silaturahmi).

Selain itu, jalur ini juga merupakan jalur ekonomis sebagai nafas kehidupan bagi kedua daerah yang dulunya dikenal jalur "perlanja sira". “Artinya, jauh sebelum ada jalan Medan - Berastagi, jalur Karo - Langkat sudah digunakan bagi masyarakat ke dua kabupaten dalam hal perdagangan karena dekat ke kota Binjei dan Medan,” tutup Terkelin Brahmana. (RTA)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

30°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 70%

Wind: 11.27 km/h

  • 23 Sep 2018 30°C 22°C
  • 24 Sep 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px