Log in

Pupuk Bersubsidi Langka di Dairi

Hanry Sihombing Hanry Sihombing

Sidikalang-andalas Para petani di Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi kembali resah dengan peristiwa kelangkaan pupuk bersubsidi di toko-toko pengecer setempat. Petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi sudah terjadi sejak empat bulan terakhir.

Menurut sejumlah warga Desa Buluduri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi yang sedang berkumpul membahas kelangkaan pupuk bersubsidi di desa mereka, Selasa (10/9), mengakui sudah sekitar empat bulan terakhir mereka kesulitan mendapat pupuk subsisidi di kios dan toko-toko penyalur yang ada di desa mereka.

Boru Hutabarat dan Boru Girsang bersama warga lainnya, mengaku heran dengan kelangkaan pupuk di  desa mereka yang mengakibatkan sejumlah tanaman tidak berkembang. Bahkan tidak dapat dipanen akibat kekurangan pupuk.

Menurut Boru Hutabarat, pada Juni 2019 lalu para petani di Desa Buluduri sudah memasuki musim tanam tetapi akibat kekosongan pupuk bersubsidi tanaman mereka bisa dibilang hidup segan mati tidak rela.

Dia mengaku, untuk membeli pupuk non subsidi merupakan hal yang mustahil bagi mereka karena harganya sangat jauh berbeda. "Jangankan untuk beli pupuk non subsidi, modal bertani pun sudah paspasan bahkan haru berutang," sebut Boru Hutabarat.

Sementara menurut Boru Girsang, semua jenis pupuk subsidi di Kecamatan Lae Parira langgka dan harga pupuk subsidi juga tergolong mahal. "Namun jika dibandingkan dengan harga pupuk non subsidi, masih mendinglah kita beli pupuk bersubsidi. Sayangya pupuk subsidinya tidak ada sejak empat bulan ini," ujarnya.

Ironisnya warga setempat juga mengaku heran dengan sistem pembelian pupuk bersubsidi di desa itu. Sebab, sebelumnya jika petani mau membeli pupuk di kios pupuk bersubsidi diharuskan membeli pupuk non subsidi. "Contohnya, kalau kita beli satu sak urea atau pupuk bersubsidi lainnya kita harus beli non subsidi di atas 10 Kg," kata Boru Girsang.

Sementara itu, ketika andalas konfirmasi ke salah satu kios pupuk bersubsidi di desa tersebut yakni UD Balintang, pemilik kios Hanry Sihombig membenarkan kelangkaan pupuk bersubsidi. Menurut Hanry Sihombing, kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut terjadi karena kuota untuk desa itu sudah habis tersalur sejak Juli 2019 lalu.

Ditanya apakah penyaluran atau penjualan pupuk besubsidi sesuai RDKK? Hanry membenarkan untuk penjualan pupuk subsidi oleh semua kios di wilayah Kecamatan Lae Parira tidak musti memberikan kebutuhan kelopok tani atau RDKK.

"Kalau di sini bebas menjual (pupuk bersubsidi, red) asalkan masih warga kecamatan ini. Para petani yang tergabung dalam kelompok tani juga sering tidak menebus pupuk, sehingga untuk menjaga perputaran ekonomi kita terpaksa menjualnya secara bebas," kata Hanry. (JM)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px