Log in

Hak Moral dan Ekonomi Pencipta Lagu Harus Dilindungi

BERSAMA - Usai audiensi dan diskusi, pengurus OTAROSE diabadikan bersama Bupati Karo, Terkelin Brahmana. BERSAMA - Usai audiensi dan diskusi, pengurus OTAROSE diabadikan bersama Bupati Karo, Terkelin Brahmana.

Komponis Karo 'OTAROSE' Diskusi dengan Bupati Karo

Kabanjahe,Sumatera Utara-andalas Dirikan wadah berhimpun untuk melindungi hasil karya sekaligus miningkatkan kesejahteraan hidupnya, seniman pencipta lagu Karo, tergabung dalam sebuah organisasi yang dinamakan OTAROSE beraudiensi daan diskusi dengan Bupati  Terkelin Brahmana, Kamis (11/10) di ruang kerja bupati.

Kedatangan rombongan pencipta lagu (komponis-red) Karo yang dikoordinir ketuanya Ersada Sembiring didampingi Pemrakarsa Jova Elke T Silangit, Pinta Bangun anggota Aris Ginting, Arsyad Sembiring, Thomson Manik, Darius Sembiring, Eso Oandia, Rachmat Barus dan simpatisan Bastanta Purba langsung disambut bupati.

Pada kesempatan itu, Sekretaris OTAROSE Jova Sitepu menyampaikan, salah satu program kerja organisasinya adalah  melindungi hak karya cipta seniman Karo (pencipta lagu) dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya. “Pencipta lagu profesi mulia. Penyanyi tanpa lagu tak mungkin menyanyi. Industri musik tidak akan ada tanpa pencipta lagu. Di Amerika pencipta lagu jauh lebih dihargai dan sejahtera ketimbang di Indonesia,” tegasnya.

Padahal menurutnya, pencipta lagu telah berjasa menciptakan lapangan kerja, yang dapat menyerap begitu banyak tenaga kerja di industri musik. Rendahnya apresiasi terhadap pencipta lagu, kata Jova dan Ersada, menimbulkan kerugian bagi pencipta lagu, baik kerugian dari aspek Hak Moral maupun Hak Ekonomi. UU RI No 28/2014 tentang Hak Cipta, sudah jelas mengatur hal ini. Ke depan, sosialisasi terkait Undang-undang tersebut akan disosialisasikan dengan sejumlah elemen pegiat seniman Karoa.

“Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta lagu. Pada Pasal 8 jelas dikatakan, hak ekonomi merupakan hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan hak ekonomi atas ciptaannya,” papar Ersada Sembiring.

Betapa rendahnya para seniman, kalau lagu yang kami ciptakan hanya dihargai senilai Rp300 hingga Rp500 ribu. Sementara penyanyi atau perkolong-kolong bisa mendapatkan uang Rp2,5 juta sekali tampil. Padahal, yang mereka nyanyikan lagu ciptaan kami, kalau tak ada lagu yang kami ciptakan, apa yang dinyanyikan," lontar Jova.

Menyahuti aspirasi pengurus OTAROSE, Bupati Karo Terkelin Brahmana mengapresiasi para seniman pencipta lagu Karo, profesi mulia dari segi hak moral dan hak ekonomi, dilindungi Undang Undang tentang Hak Cipta. Dia menyarankan supaya  pengurus OTAROSE menginventarisir pencipta-pencipta lagu di seluruh Indonesia, dengan terdatanya pencipta lagu, dengan sendirinya sebagian besar lagu Karo akan kita ketahui siapa saja penciptanya.

Selanjutnya, kata bupati, dengan terbentuknya organisasi OTAROSE, segera lakukan konsolidasi untuk menyatukan presepsi, kalian harus kompak dan bersatu, bentuk perwakilan-perwakilan di daerah lain. "Lakukan kerja sama dengan pihak yang bisa membantu dan memajukan OTAROSE, buat badan hukumnya dan daftarkan ke instasi terkait supaya legal, kalau perlu rekomendasi dari Pemkab Karo bisa kita bantu," ujar Terkelin.

Menyangkut kegiatan OTAROSE, silakan gunakan fasilitas yang ada di Taman Mejuahjuah, ada sejumlah fasilitas di sana, seperti open stage, gedung kesenian, pentas terbuka, manfaatkanlah itu untuk beraktivitas."Saya selaku bupati siap mendukung kalian, lakukan yang terbaik, supaya masyarakat  dan wisatawan  ramai datang menyaksikan acara-acara  ditampilkan, termasuk nanti kegiatan lomba cipta lagu Karo yang direncanakan itu," ujar bupati. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 98%

Wind: 8.05 km/h

  • 20 Oct 2018 30°C 21°C
  • 21 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px