Log in
BPKD_Pemkab_Aceh_Selatan.jpg

Eriandi, Pegawai Satpol PP Karo Sedih Tak Bisa Mudik Bertemu Ibu

  Eriandi pegawai Sat Pol PP Kabupaten Karo. (andalas/robert tarigan) Eriandi pegawai Sat Pol PP Kabupaten Karo. (andalas/robert tarigan)

Kabanjahe-andalas Lebaran tahun ini terasa sangat berat bagi Eriandi pegawai honorer Sat Pol Kabupaten Karo yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Tebing Tinggi. Makna, momen, dan kehangatan dari perayaan Idul Fitri tahun ini terasa berkurang. Karena, tidak bisa pulang kampung.

Hal itu diungkapkan Eriandi (36), saat bincang-bincang dengan andalas, Senin (25/5) di Kabanjahe. Eriandi bersma istri Yanti dan dua orang anaknya, Alwi (10), Filda (4) melaksanakan salat Idul Fitri di masjid dekat rumahnya di Kabanjahe.

Setelah itu, Eriandi mengaku menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi secara virtual melalui video telepon dengan keluarga di Pekan Baru dan Tebing Tinggi. "Ini pengalaman pertama karena tahun sebelumnya pasti pulang kampung dan bareng keluarga salat Id di masjid, lalu silaturahmi ke rumah keluarga. Sedih, sedih banget,"ujarnya.

Ibu hanya sendiri di kampung, ayah telah lama meningga, tahun 2003, kata Eriandi sambil menatap jauh seakan mengingat jalan hidupnya. "Sedih sekali, salat Id dan Lebaran tidak bersama ibu dan saudara di kampung,"katanya.

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi Eriandi. Istrinya, yang sebelum masa Covid-19, memiliki usaha payet (kebaya perempuan) untuk membantu ekonomi keluarga, berhenti total akibat terdampak pandemi virus corona. Belakangan, virus corona juga membuatnya tidak bisa bertemu dengan keluarganya di desa Paya Pinang, Tebingtinggi untuk merayakan Lebaran.

Ketika mendengar suara takbir, melaksanakan salat Idul Fitri, hatinya berkecamuk, bercampur sedih, teringat seorang ibu renta sendiri di kampung. Untuk mengobati rindu, Eriandi yang sudah 12 tahun honorer Sat Pol PP Kabupaten Karo, bersilaturahmi dengan keluarga secara virtual dari rumahnya di Gang Madu, desa Samura Kecamatan Kabanjahe.

"Sedih, merasa sepi. Biasanya berkumpul, makan, saling cerita dengan keluarga, salat bersama-sama. Makna dan momennya, jauh berkurang. "Tidak ada perbedaan, seperti tidak merasakan Lebaran, karena kami perantauan tidak bisa berkumpul bersama keluarga dekat, karena istri saya juga dari Tebinggitinggi," ujar Eriandi

"Salat Ied di masjid dekat rumah, sedikit mengurangi esensi Lebaran. Karena biasanya salat Idul Fitri berjamaah di masjid atau lapangan bersama keluarga dekat di kampung adalah ritual penting di setiap moment religi perayaan Idul Fitri," tuturnya.

"Seumur hidup saya, melaksanakan salat Ied itu di masjid atau lapangan berjamaah di kampung. Tapi, kali ini jadi di hanya di mesjid dekat rumah, sedih banget Rasanya itu ada satu elemen penting Lebaran yang sakral hilang. Esensi Lebaran jadi sangat berkurang," lontar Eriandi. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C