Log in

Vasektomi dan Tubektomi Memandulkan Permanen


Medan-andalas Salah satu program Keluarga Berencana yang dilaksanakan adalah KB dengan vasektomi dan tubektomi. Namun bila cara itu dilakukan, maka kemungkinan untuk kembali normal akan sangat sulit di samping nilai medisnya juga mahal. Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Sumatera Utara (Sumut) dr Delyuzar SpPA mengatakan, vasektomi dan tubektomi ini kemungkinan memandulkan setiap penggunanya secara menetap. Meskipun dapat dilakukan operasi ulang untuk mengembalikan fungsinya, tetapi tingkat keberhasilannya akan sangat kecil. "Intinya, kalau merusak secara permanen itulah yang dianggap MUI (Majelis Ulama Indonesia) haram. Karena, vasektomi dan tubektomi ini, sebetulnya akan mamandulkan orang secara menetap," katanya, Minggu (19/3) di Medan.

Delyuzar menjelaskan, pada vasektomi, operasi yang dilakukan ialah dengan cara memotong saluran sperma lalu diikat. Sehingga bila hal ini sudah dilakukan, maka kehamilan tidak bisa terjadi. Begitu juga pada tubektomi, pemotongan dilakukan pada saluran telur sehingga sel telur wanita yang menggunakannya maka tidak akan dapat lagi dibuahi. "Jadi salurannya sudah dilakukan kanalisasi. Inilah yang membuat kemandulan permanen itu sampai terjadi," terangnya. Namun, katanya, KB vasektomi dan tubektomi ini berbeda dengan kebiri. Sebab, kebiri adalah pengangkatan terhadap semua organ terkait, sehingga mematikan sama sekali fungsinya. Sementara vasektomi dan tubektomi hanya pada satu saluran saja.

"Itulah makanya vasektomi dan tubektomi ini disebut KB mantap. Hal ini dari sisi kesehatan tidak berbahaya, asalkan dilakukan oleh profesional," katanya. Berdasarkan catatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada awal tahun 2017 ini, jumlah Peserta Baru (PB) KB di bulan Januari sudah sebanyak 31.642 orang. Angka ini, kata Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Temazaro Zega, persentasenya mencapai 11,20 persen dari total Perkiraan Permintaan Masyarakat (PMM) dalam setahun sebesar 282.478. "Target yang akan dicapai pada 2017 itu diantaranya Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dengan total 74.686 akseptor (pengguna) baru, sedangkan Non-MKJP sebanyak 207.792 akseptor. Non-MKJP diantaranya kondom 20.564 akseptor, suntik 103.619 akseptor, dan pil 83.609 akseptor," sebutnya.

Sementara untuk MKJP, lanjut Temazaro, diantaranya IUD sebanyak 13.578 akseptor, implant 51.173 akseptor, Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi sebanyak 9.268 akseptor dan Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi 667 akseptor. Karenanya, Temazaro mengatakan pihaknya terus meningkatkan sosialisasi agar pengguna alat kontrasepsi bisa meningkat khususnya pada kontrasepsi jangka panjang demi dapat menekan laju kelahiran. Sebelumnya, MUI mengatakan tidak merekomendasikan KB vasektomi dan tubektomi untuk dipakai dalam mengendalikan jumlah kelahiran anak. Bahkan, Ketua MUI Cabang Medan Prof Mohammad Hatta menyebutkan jika kedua jenis KB tersebut haram.

"MUI memang memperbolehkan program KB, asalkan tidak bertentangan dengan hukum Islam. Tetapi, untuk vasektomi dan tubektomi MUI tidak merekomendasikannya. Tidak merekomendasikan artinya haram," tegasnya. Akan tetapi, jelas Hatta, di luar kedua program tersebut, KB jenis lain seperti pil, spiral, suntik, kondom, dan implant masih diperbolehkan. Namun pemasangan jenis KB tersebut harus dilakukan oleh orang yang tepat. (YN)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 6.44 km/h

  • 28 Jul 2017 31°C 23°C
  • 29 Jul 2017 30°C 23°C

Banner 468 x 60 px