Log in

Polusi Penyebab Ketidaksuburan Organ Reproduksi


Medan-andalas Setiap orang yang menikah tentu berharap dapat memiliki anak atau keturunan. Namun tak sedikit pasangan suami istri yang telah lama menikah, tapi belum juga memiliki anak. Menurut pakar kesehatan Dr dr Binarwan Halim MKed (OG) SpOG (K) FICS (OBGYN), perkembangan zaman dan polusi menjadi salah satu penyebab ketidaksuburan organ reproduksi. Pada ibu di atas usia 35 tahun hanya menunggu masa kesuburan selama setengah tahun. Jika dalam waktu itu tidak bisa hamil, ia menyarankan sebaiknya segera mengecek ke dokter kandungan. "Perempuan dan laki-laki banyak mengalami ketidaksuburan karena perkembangan zaman dan polusi. Misalnya, produk makanan yang sudah teracuni pestisida," katanya di Medan, Senin (20/3). Dijelaskannya, polusi udara hebat dan faktor industrialisasi menyebabkan produksi sperma menurun. Dulu 120 juta per cc sperma yang dikeluarkan seorang pria. Sekarang hanya 15 juta per cc. Ketidaksuburan pria juga disebabkan alkohol, rokok, seks tidak aman, dan mandi air panas.

Untuk perempuan, sel telur yang dihasilkan juga sedikit. Bahkan ada yang sulit menghasilkan sel telur. Dalam sekali produksi ada 500 ribu sel telur yang dihasilkan indung telur perempuan. Ketidaksuburan wanita disebabkan tidak berevolusi, endometriosis, tuba tersumbat, rahim bermasalah seperti miom, kista, polip, adhesi dan serviks ada mengalami polip, berlendir, kanker, dan infeksi. Kesuburan ditandai dengan rahim sehat dan indung telur menghasilkan sel telur. Kesuburan juga ditentukan dari usia ibu. Karenanya ia menyarankan, wanita sebaiknya mengurangi mengonsumsi makanan cepat saji, sayur-sayuran mengandung pestisida tinggi, dan menghindari gaya hidup bebas. Usia lebih muda berpotensi hamil lebih lebih baik karena produksi sel telurnya masih aktif. "Jika perempuan ada memiliki bekas operasi perut bagian bawah, maka 30 persen hingga 50 persen kondisi ini berisiko menimbulkan perlengkatan di sekitar rahim dan sulit hamil," tuturnya.

Upaya penanganan ketidaksuburan menurutnya dapat dilakukan dengan beberapa langkah. Diawali dengan mengonsumsi obat-obatan sebanyak 12 kali, inseminasi selama tiga sampai enam kali, dan cara terakhir adalah mengikuti program bayi tabung. "Jika penanganan ketidaksuburan melewati dosis yang ditentukan maka harus berlanjut ke cara yang lebih tinggi. Misalnya, konsumsi obat-obatan tidak berpengaruh, maka beralih ke inseminasi atau bayi tabung," katanya. Namun, menurutnya upaya ini tetap berefek samping. Keberhasilan inseminasi 20 hingga 25 persen tergantung usia calon ibu dan ayah. Komplikasinya juga bisa menghasilkan anak kembar. Inseminasi juga menyebabkan ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS) atau efek yang dirasakan tubuh akibat penggunaan obat-obatan hormonal untuk merangsang perkembangan sel-sel telur di dalam ovarium. Obat-obatan berbentuk suntikan itu biasanya diresepkan untuk mengatasi masalah kemandulan. Kondisi ini dapat terjadi selama seminggu atau lebih.

Inseminasi, sambungnya, proses sperma ke uterus menggunakan kateter. Ibu diberikan suntikan agar menghasilkan sel telur lebih dari satu. Pria diambil spermanya melalui masturbasi setelah tiga hingga lima hari tidak berhubungan seks. Kemudian spermanya diberi vitamin, dipilih yang terbaik dan akhirnya disemprotkan melalui selang kecil ke dalam rahim. "Berbeda dengan bayi tabung. Proses ini pembuahan sel telur dan sperma di luar rahim. Sel telur yang sudah matang disedot lalu dibuahi dengan sperma. Proses ini juga mengakibatkan komplikasi OHSS, infeksi sebesar 0,5 persen, dan perdarahan satu persen," pungkasnya. (YN)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 27 Jun 2017 28°C 23°C
  • 28 Jun 2017 30°C 23°C

Banner 468 x 60 px