Log in

Kemenkes Fokus Stunting, TBC dan Imunisasi

MENTERI Kesehatan dr Nila F Moeloek menggunting pita pada pembukaan Rakerkesda Sumut, Selasa (10/7) di Medan. MENTERI Kesehatan dr Nila F Moeloek menggunting pita pada pembukaan Rakerkesda Sumut, Selasa (10/7) di Medan.

Medan-andalas Tahun 2018, secara nasional pemerintah fokus pada masalah stunting, TBC dan Imunisasi. Terkait Tuberculosis (TBC). Tuberculosis Multi Drug Resistent (TB-MDR) semakin naik. Pada  penelitian di Litbangkes, TBC bukan berasal dari MDR, namun bisa juga manusia sehat terkena TBC. Hal itu dikatakan Menteri Kesehatan dr Nila F Moeloek dalam acara Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), dengan tema, Sinergisme provinsi dan kabupaten/kota di Provinsi Sumut dalam mewujudkan Universal Health Coverage di Medan, Rabu (11/7).

"Saya terkejut mendengar ada satu orang yang bekerja di Jepang, tidak diperbolehkan masuk karena mengalami TBC. Mau nggak kita selalu diusir di luar negeri karena TBC. Kalau bisa kita yang mengatakan begitu ke orang asing tersebut agar jangan masuk negara kita karena TBC. Karena itu kita ingin negara kita bebas TBC," katanya. Ia juga berharap, agar kasus-kasus seperti ini bukan hanya difokuskan ke Puskesmas semata, tetapi juga temuan-temuan berasal dari rumah sakit dan mandiri. Disarankannya, agar para ibu dapat memperhatikan anak-anaknya. Berawal dari dalam kandungan hingga lahir, agar tercukupi asupan gizinya. Para ibu dapat secara rutin membawa bayinya untuk diimunisasi.

Program Imunisasi ini, lanjut Menkes, akan dilaksanakan pada Agustus hingga September 2018. Imunisasi yang diberikan adalah jenis measles rubella (MR). Measles adalah campak dan rubella adalah penyakit ke arah pengkapuran pada otak, jantung, mata dan telinga pada anak. Ini menyebabkan cacat yang parah. "Target di luar pulau Jawa, harus diselesaikan tahun ini. Sementara di pulau Jawa sudah mencapai target hampir 100%. Memang minimal target kita sebesar 95%. Maksudnya, 90% terimunisasi maka dapat mencapai kesehatan yang baik. Jika masih 70%, maka orang sehat dapat tertular penyakit-penyakit yang berbahaya," tukasnya.

Menteri Kesehatan mengaku terkejut, di era globalisasi seperti saat ini masih ada kasus stunting di Indonesia. "Saya kaget di satu kabupaten  tahun 2013, kasus stunting angkanya sangat tinggi, yakni 55,48%. Artinya dari 2 anak, satu di antaranya mengalami stunting. Stunting nggak enaknya bukan hanya fisiknya yang pendek. Masalah ini nggak apa-apa, dalam dunia entertainment masih dicari. Tetapi yang dikhawatirkan otaknya juga ikut pendek. Bayangkan, sebanyak itu, kepandaiannya tidak meningkat," jelasnya didampingi Kadinkes Sumut Agustama.

Dalam artian, negara Indonesia akan terbebani dengan masalah ini. Jika 50% mengalami stunting, maka tidak akan maju. Saat ini sedang difokuskan ke arah pembangunan infrastruktur. Sehingga, pihaknya mengambil program stunting sebagai bahan dasar. Kesehatan adalah hal yang terpenting dan menjadi nomor satu yang menjadi fokus utama. "Tidak mungkin kesehatannya buruk, mengalami fisik dan kognitifnya stunting, akan menjadi orang yang berpendidikan. SDM berkualitas didukung kesehatan yang baik. Sebenarnya, sesuai nawacita Presiden RI, kita telah mendorong sejak dahulu agar masyarakat menjadi manusia yang pandai. Memang geografis setiap daerah tidak sama. Tidak semua wilayah mendapatkan akses yang mudah. Tetapi kita akan tetap berupaya penanganan ini dalam program gerakan masyarakat hidup sehat (Germas)," ujarnya. Menkes juga berharap dengan Gubernur Sumut yang baru maka Sumut menjadi lebih baik kedepannya. (YN)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 25 Sep 2018 30°C 23°C
  • 26 Sep 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px