Logo
Print this page

Kejuaraan Dunia Bulutangkis, Ganda Putra Berpotensi Jumpa


Jakarta-andalas Menjelang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019, stamina Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan belum pulih 100 persen. Faktor usia penyebabnya.

Hendra/Ahsan berbekal dua kali juara ke Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang dilangsungkan di Basel, Swiss, 19-25 Agustus. Selain kenyang pengalaman, usia mereka tak lagi muda menatap ajang itu. saat ini, Hendra menginjak usia 35 tahun, sedangkan Ahsan 31 tahun.

Tampil di tiga ajang beruntun, Indonsia Open, Japan Open, dan Thailand Open, fisik Hendra/Ahsan terkuras. Mereka membutuhkan waktu untuk pemulihan lebih panjang ketimbang ganda putra lain yang lebih muda.

"Daddies masih belum balik 100 persen. Butuh waktu sedikit lama karena usia dan waktu persiapan yang singkat," kata pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi, di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (13/8).

Sementara itu, Hendra mengakui jika tenaganya sempat habis pada saat tur Asia kemarin. Tapi, juara All England 2019 itu berupaya mati-matian untuk mengembalikan stamina idealnya.

"Lebih banyak ke gym dan latihan raket berat, jadi biar balik lagi. Sejauh ini sudah mulai kembali, tapi masih ada waktu latihan di sana lagi. Harus siap," kata Hendra.

Tak hanya menantang stamina, GOR di Basel, Swiss, juga diperkirakan bakal banyak angin karena cuaca di sana memasuki musim panas.

Undian Ganda Putra
Hasil undian Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019 tak menguntungkan ganda putra Indonesia. Tiga ganda putra pasangan Merah Putih berada di bagan yang sama. Dari hasil undian yang dirilis Badminton Wolrd Federation (BWF) pada Selasa (6/8), Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berpotensi bertemu Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto di perempatfinal ajang yang digulirkan di Basel mulai 19-25 Agustus. Siapapun pemenang dari duel itu berpotensi berjumpa dengan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di semifinal. Hanya Berry Angriawan/Hardianto yang berada pada bagan terpisah.

Pelatih pelatnas ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi kecewa dengan hasil undian itu. Sebab, dia memprediksi sulit untuk menciptakan all Indonesian final dengan undian itu.

"Drawing pasti mengecewakan karena dengan dua hasil Indonesia Open dan Japan Open sebenarnya kemungkinan bisa tersaji lagi di Kejuaaraan Dunia. Namun, dengan undian itu kesempatannya jadi tak ada," kata Herry.

Herry menduga ada kesengajaan yang dilakukan BWF saat mengundi. Sebab, seluruh pemain Asia semua dibenturkan sejak awal laga. Tidak hanya Indonesia, Jepang dan China juga mengalami hal serupa.

"Itu yang perlu ditanyakan ke BWF, semua negara-negara Asia dibentrokin semua. Kata mereka (BWF), komputer yang menggerakkan, tapi tetap ada manusia. Mungkin satu sisi mereka tak mau dominasi satu negara tapi ini satu Asia rugi," dia menjelaskan.

Meski demikian, ada sisi positif dari hasil undian kali ini. Indonesia yang memiliki persaingan berat dengan Jepang dan China juga dimudahkan jalannya karena hasil drawing tersebut.

Di bagan bawah, Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang) berpotensi bertemu unggulan dua China Li Jun Hui/Liu Yu Chen. Sementara itu, unggulan kelima Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe (Jepang) berpeluang bertemu Liu Cheng/Zhang Nan. Dengan catatan mereka mampu melewati adangan-adangan sebelumnya. Wakil Jepang lain, Takeshi Komura/Keigo Sonoda kemungkinan bertemu pasangan China Hi Jing Ting/Tan Qiang di babak ketiga.

"Tetap ada sisi positifnya karena kekuatan ganda putra itu ada di China dan Jepang. Dengan mereka bentrok dulu jadi keuntungan buat kami, tapi saya sebagai pelatih tetap optimistis (bisa meraih gelar juara)" ujarnya.(DTC)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com