Log in

Sentimen anti-China Menguat di Filipina karena Insiden Lempar Puding di Kereta


Insiden warga China melempar puding ke petugas MRT di Filipina memicu kontroversi yang mengarah pada menguatnya sentimen anti-China. Sabtu lalu mahasiswi seni asal China, Zhang Jiale (23), melemparkan puding ke arah petugas stasiun MRT di Manila, demikian sebagaimana dikutip dari The Straits Times, Selasa (12/2). Zhang marah karena ditegur oleh petugas terkait untuk menghabiskan terlebih dahulu "taho" --puding kedelai khas Filipina-- sebelum memasuki area stasiun MRT.

Saat ini, pemerintah Filipina melarang benda cair dan gel masuk ke dalam stasiun MRT, menyusul laporan tentang kemungkinan dua zat itu digunakan oleh kelompok ekstremis untuk mengebom jaringan transportasi umum di ibu kota. Alih-alih mematuhi perintah itu, Zhang, seorang mahasiswa jurusan mode tahun pertama di SOFA Design Institute, berdebat dengan petugas keamanan, dan melemparkan cangkir puding ke arahnya.

Beberapa orang di sekitarnya merekam insiden tersebut via kamera ponsel, dan dengan cepat menyebar ke media sosial, dan memicu kemarahan nasional. Jagat Facebook dan Twitter di Filipina dipenuhi oleh kecaman dan ejekan kepada Zhang, yang kini telah ditangkap dan didakwa bersalah memicu kegaduhan umum. Mereka mengkritik warga negara China itu sebagai sosok yang sombong dan tidak sopan.

Sebagian warganet lainnya menyebut perilaku Zhang sebagai refleksi China yang memandang Filipina sebagai bawahan, terkait dengan kebijakan Presiden Rodrigo Duterte yang pro Beijing. Di saat bersamaan, beberapa pejabat tinggi Filipina ikut buka suara tentang insiden itu, termasuk Wakil Presiden Leni Robredo. Dia menyebut tindakan Zhang "tidak sopan", dan merupakan "penghinaan" bagi negara.

"Dia lebih dari tidak menghormati seorang petugas keamanan, dia juga tidak menghormati seluruh bangsa ini," kata Robredo. Zhang dihadapkan pada tuduhan "serangan langsung, ketidaktaatan, dan sikap tidak adil yang merugikan publik". Jika terbukti bersalah, Zhang terancam dihukum penjara maksimal empat tahun. Hingga Senin siang, warga asing tersebut masih diamankan di salah satu kantor polisi di wilayah metropolitan Manila.

Sementara itu, biro imigrasi Filipina tengah mempertimbangkan untuk mendeportasi Zhang. Tetapi, Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin mengimbau untuk berhati-hati, dan menyarankan agar mengikuti alur hukum yang berlaku. Menurutnya, kemarahan terhadap Zhang bisa memicu respons emosional yang sama di China, di mana berisiko mengancam nasib banyak warga Filipina yang tidak hanya bekerja di Daratan, tapi juga di Hong Kong dan Taiwan.

"Kasus Zhang, dalam konteks yang lebih besar, merupakan cabang dari 'perlakuan khusus' Duterte kepada China. Namun, saya pikir terlalu jauh jika melemparkan taho dinilai seperti melanggar batas wilayah nasional," jelas Locsin. Sebelumnya, pemulihan hubungan ekonomi antara pemerintahan Duterte dan China telah memicu kebencian di antara banyak warga Filipina. Mereka meyakini kebijakan itu mendorong masuknya gerombolan orang Tionghoa yang merebut lapangan kerja di banyak sektor.

Anggota parlemen setempat sedang menyelidiki laporan bahwa jutaan imigran China bekerja dan tinggal di Filipina, bahkan mengambil pekerjaan kasar jangkauan warga setempat. Pekan lalu, sebanyak 30 vendor, juru masak, dan penata rambut asal China yang tidak berdokumen, ditangkap di sebuah kompleks kondominium di Manila, dekat sebuah kasino lepas pantai beroperasi. Kejadian tersebut menambah jumlah pekerja ilegal asal China yang ditangkap oleh biro imigrasi Filipina, menjadi lebih dari 2.000 orang tahun ini.(Mdk)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px