Log in

Oxford Cabut Gelar Kehormatan Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi Aung San Suu Kyi

Dewan Kota Oxford, Inggris, memutuskan untuk mencabut gelar kehormatan Freedom of Oxford yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi. Pencopotan gelar itu dilakukan di tengah tudingan jika Myanmar telah melakukan pembersihan etnis Rohingya.

Pemimpin Dewan Kota Oxford, Bob Price mengatakan, ia mendukung langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyingkirkan kehormatannya.

Ia mengatakan bahwa orang-orang sangat terkejut dengan situasi di Myanmar. Price menambahkan Suu Kyi tidak membicarakan kekejaman yang luar biasa itu saat berada di Inggris seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (4/10).

Aung San Suu Kyi dipuji secara luas dan diberi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991 sebagai pemimpin oposisi. Ia diberi gelar kehormatan Freedom of Oxford pada tahun 1997, saat dia ditahan sebagai tahanan politik oleh militer Myanmar.

Sebelumnya Universitas Oxford juga telah mencopot potret Aung San Suu Kyi, karena institusi yang sebelumnya memuji dia telah menarik dukungan mereka. Potret Suu Kyi, yang lulus dari St Hugh's pada tahun 1967, telah tergantung di dekat pintu masuk perguruan tinggi sejak tahun 1999.

Gambar tersebut dilukis oleh seniman Chen Yanning pada tahun 1997 dan merupakan milik suami Suu Kyi, Oxford don Michael Aris. Foto itu diberikan ke perguruan tinggi setelah kematiannya.

Tapi badan pemerintahan perguruan tinggi tersebut sekarang telah memutuskan untuk memindahkan potretnya dari tampilan publik dan menggantinya dengan lukisan Jepang, menurut catatan mahasiswa universitas The Swan. Alasan pemindahan potret tidak jelas tapi datang hanya beberapa hari sebelum dimulainya tahun ajaran dan kedatangan siswa baru.

St Hugh's College berkata: "Perguruan Tinggi menerima hadiah sebuah lukisan baru awal bulan ini yang akan dipamerkan untuk jangka waktu tertentu. "Lukisan Aung San Suu Kyi telah dipindahkan ke tempat penyimpanan."   

Myanmar sendiri telah menolak tuduhan kekejaman sistematis, mengatakan kepada dewan keamanan PBB bahwa "tidak ada pembersihan etnis dan tidak ada genosida di Myanmar."

Lembaga Lain Menyusul

Dewan Kota Oxford telah mengambil suara secara mutlak untuk menyampaikan mosi lintas partai yang menyebutkan "sudah tidak tepat lagi" memberi penghormatan kepada pemimpin de facto Myanmar tersebut.  Dewan Kota akan menggelar pertemuan khusus mengesahkan pencabutan pernghargaan itu pada 27 November 2017.

Dalam beberapa bulan terakhir, Aung San Suu Kyi makin dikecam secara meluas karena sikapnya yang membela tindakan Myanmar atas minoritas Rohingya, yang oleh PBB disebut sebagai "contoh nyata dari pembersihan etnis."

Dewan Kota Oxford memberikan gelar warga kehormatan kepada Suu Kyi pada 1997, ketika dia masih menjadi tahanan politik junta militer Myanmar. Keputusan untuk mencabut gelar itu dihasilkan setelah St Hugh's College di Oxford mencopot potret Suu Kyi dari pintu masuk utama kampus.

Sejumlah lembaga di Inggris juga mengatakan tengah meninjau kembali penghargaan yang pernah diberikan kepada Suu Kyi saat dia mengampanyekan demokrasi di Myanmar. Unison, serikat dagang terbesar kedua di Inggris, bulan lalu mengumumkan akan mencabut sementara keanggotaan Suu Kyi.

Bristol University, satu dari banyak perguruan tinggi yang pernah memberi penghargaan kepada Suu Kyi, juga akan mempertimbangkan kembali. Selain itu, dewan mahasiswa London School of Economics mengatakan akan membatalkan jabatan kehormatan Suu Kyi.

Sebagai pemimpin oposisi Myanmar, Suu Kyi mendapat Nobel bidang perdamaian pada 1991. Meskipun dilarang menjadi presiden, dia secara telak memenangi pemilihan umum 2015, dan akhirnya diberi jabatan kanselir atau state counsellor. (SN/BS)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 12 Dec 2017 27°C 22°C
  • 13 Dec 2017 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px