Log in

Hari Ini Rakyat Malaysia Memilih

Najib dan Mahathir Mohamad Najib dan Mahathir Mohamad

Kuala Lumpur-andalas Sebanyak 14.449.200 orang pemilih terdaftar di Malaysia akan mengikuti pemilihan umum pada Rabu (9/5) hari ini tersebar pada 8.253 pusat pemilihan yang mempunyai 28.115 tempat pemungutan suara (TPS).

"Pada hari pemilihan semua pusat pemilihan akan dibuka mulai jam 8.00 pagi. Waktu penutupan pencoblosan berbeda-beda mengikut lokasi pusat pemilihan dan jumlah pemilih. Waktu pemilihan akan ditutup sepenuhnya pada jam 5.00 petang," ujar Ketua Suruhanjaya Pilihan Raya (KPU) Malaysia Tan Sri Mohd Hashim bin Abdullah, di Kuala Lumpur, Selasa (8/5).

Dia mengatakan keadaan cuaca pada hari pemilu itu diramalkan akan hujan, sehingga para pemilih disarankan agar merencanakan waktu untuk keluar memilih dan tidak keluar memilih pada saat-saat akhir.

"Bagi pemilih di Pusat Pemilihan yang ditutup pada jam 5.00 petang, mereka dinasihatkan supaya keluar memilih secara bertahap mengikuti kesesuaian waktu mereka dalam tempo yang ditetapkan agar tidak sesak saat mencoblos," katanya lagi.

Dia mengatakan kepada pemilih yang akan keluar memilih pada 9 Mei 2018 disarankan untuk membuat informasi lokasi pemilihan masing-masing, seperti nama Pusat Pemilihan dan saluran memilih (dalam buku Daftar Pemilih) melalui aplikasi MySPR Semak atau melalui laman pengundi.spr.gov.my.

"Atau sistem SMS dengan menuliskan SPR SEMAK no. kartu identitas dan dikirim ke 15888 atau telefon ke nomor 03-88927018. Partai-partai politik tidak boleh membantu pemilih dengan alasan untuk membantu pemilih-pemilih," katanya pula.

KPU juga meminta kerja sama para pemilih supaya tidak memberikan kartu identitas mereka kepada pihak-pihak lain karena mungkin akan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan akan menimbulkan masalah pada hari pencoblosan.

"KPU juga meminta para majikan agar membolehkan pekerja mereka yang mendaftar sebagai pemilih untuk pergi memilih. Majikan yang menghalangi pekerja mereka untuk keluar memilih pada hari tersebut bisa diambil tindakan menurut pasal 25 (3) Akta Kesalahan Pilihan Raya 1954, yaitu didenda tidak lebih RM5,000 atau dipenjara setahun terbukti bersalah," katanya lagi.

Pada hari pemilihan, ujar dia, juga tidak dibenarkan lagi melakukan aktivitas kampanye karena merupakan suatu kesalahan di bawah Akta Kesalahan Pilihan Raya 1954.

Najib vs Mahathir

Pemilihan umum (pemilu) ke-14 Malaysia yang digelar hari ini menjadi pertarungan antara PM Najib yang telah berkuasa sejak tahun 2009, dengan Mahathir Mohamad, yang pernah menjadi PM Malaysia selama 22 tahun atau terlama di Malaysia, yakni mulai tahun 1981 hingga 2003. Di usia 92 tahun, Mahathir memutuskan untuk kembali ke kancah politik. Jika dia menang, Mahathir akan menjadi pemimpin tertua di dunia.

Seperti dilansir Washington Post, Selasa (8/5), pemilu ini merupakan pertarungan politik juga personal bagi Najib dan Mahathir. Najib adalah anak didik Mahathir yang dipersiapkan, bahkan dipastikan untuk menjadi PM. Kini, Mahathir menyebut perannya dalam 'mengangkat' Najib merupakan "kesalahan terbesar dalam hidup saya."

Setelah Najib diduga terlibat dalam skandal mega korupsi 1MDB pada tahun 2015, Mahathir berubah menjadi penentang keras Najib. Mahathir sempat pensiun dari politik namun awal tahun ini dia mengumumkan kembalinya dirinya ke dunia politik, berbaikan dengan musuh-musuh politiknya termasuk Anwar Ibrahim dan bergabung dalam koalisi oposisi dengan satu tujuan: melengserkan Najib.

Najib (64) memimpin partai United Malays National Organization atau UMNO, yang telah berkuasa sejak kemerdekaan Malaysia pada tahun 1957. UMNO merupakan anggota paling penting dari koalisi Barisan Nasional yang telah memimpin Malaysia selama 44 tahun. Najib menjadi PM Malaysia pada tahun 2009 dan memimpin BN untuk kembali memenangi pemilu pada tahun 2013. Namun dalam pemilu itu, BN mendapatkan jumlah kursi parlemen terendah sepanjang sejarah.

Salah satu bagian dari kesepakatan Mahathir untuk memimpin koalisi oposisi adalah bahwa setelah dua tahun memimpin negara, dia akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar Ibrahim yang kini masih dipenjara atas kasus sodomi. Jika Mahathir memenangi pemilu, dia akan mengupayakan agar Raja Yang di-Pertuan Agong memberikan pengampunan pada Anwar dan kemudian menjadikannya sebagai PM.

Meski banyak pendukung yang masih setia pada Mahathir, pihak oposisi khawatir Pemilu Malaysia 2018 -- yang akan berlangsung pada 9 Mei ini -- rentan akan praktik utak-atik atau manipulasi batas-batas konstituensi (gerrymandering) yang menguntungkan satu pihak. Khususnya yang dilakukan oleh kubu petahana.

Kekhawatiran itu diungkapkan oleh salah satu politikus oposisi, Fahmi Fadzil dari Partai Pakatan Harapan. Ia menjelaskan bahwa praktik-praktik semacam itu akan merugikan partai oposisi dalam mendulang suara dan berdampak pada kegagalan mereka untuk mendominasi kursi parlemen.

Jika itu terjadi, maka Mahathir Mohammad, nominasi perdana menteri dan pemimpin oposisi Malaysia, bisa gagal menduduki kursi kepala pemerintahan Negeri Jiran, menggantikan petahana Najib Razak.

"(Pelaksanaan pemilu) sudah sejak lama tak transparan dan hal itu tak baik bagi demokrasi," kata Fadzil mengomentari perubahan status konstituensi institusi kepolisian menjadi marginal seat, seperti dikutip dari Financial Times (8/5).

Sampai saat ini, survei opini menunjukkan bahwa koalisi Barisan Nasional yang dipimpin petahana Najib Razak masih lebih unggul atas oposisi Pakatan Harapan yang dipimpin oleh Mahathir Mohammad.

Akan tetapi, skandal megarasuah 1MDB yang belum terselesaikan dan diduga kuat turut menyeret Najib, diperkirakan akan menjadi batu sandungan bagi sang petahana jelang Pemilu Malaysia 2018. Hal itu pun akan berdampak pada kemenangan Mahathir dengan selisih tipis. (ANT/DTC/LIP6)

24°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 4.83 km/h

  • 23 Oct 2018 27°C 22°C
  • 24 Oct 2018 26°C 22°C

Banner 468 x 60 px