Log in

Harga Narkoba di Indonesia Sangat Tinggi


BNN: 70 Persen Pecandu Cenderung Mengulangi Perbuatan

Jakarta-andalas Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Heru Winarko mengatakan Indonesia menjadi pasar peredaran narkoba karena harga narkoba di Indonesia sangat tinggi, lebih tinggi daripada harga pasaran di negara-negara lain.

"Karena harga di Indonesia luar biasa mahal, pengedar berupaya memasukkan dengan cara apa pun," kata Heru dalam Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta, Selasa (20/3).

Karena itu, Heru mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo fokus pada mengurangi pasokan narkoba dari luar negeri dan memotong permintaan narkoba dari dalam negeri.

Menurut Heru, narkoba adalah musuh bersama yang harus diperangi bersama. BNN mendapatkan mandat dari negara untuk mencegah dan memberantas peredaran serta penyalahgunaan narkoba bersama para pemangku kepentingan lainnya.

"Perang terhadap narkoba bukan hanya tugas BNN, tetapi tugas kita semua. Masalah narkoba ini kita seperti dipukuli terus menerus, tetapi kita hanya bertahan," tuturnya.

Untuk pencegahan dan pemberantasan narkoba, Heru mengatakan BNN sudah menjalin kerja sama dan koordinasi dengan kementerian/lembaga lainnya, misalnya Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan dan Kepolisian RI.

"Narkoba juga sudah masuk ke desa-desa. Perlu ada dukungan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi agar masyarakat desa bisa menanggulangi narkoba," katanya.

Sepanjang 2017, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba dan menangkap 58.365 tersangka kasus narkoba dan 34 tersangka tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari kasus narkoba. Dari seluruh kasus itu, barang bukti yang berhasil didapatkan BNN, Polri dan Ditjen Bea Cukai adalah 4,71 ton sabu-sabu, 151,22 ton ganja dan 2.940.748 butir ekstasi.

70 Persen Pecandu 'Relapse'

Deputi Rehabilitasi BNN Diah Setia Utami mengungkapkan sekitar 70 persen dari jumlah pecandu narkoba yang telah melalui program rehabilitasi dari Badan Narkotika Nasional cenderung mengulangi penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Hal tersebut disampaikan Diah setelah membuka lokakarya kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat tentang Pengurangan Permintaan Narkotika atau Drug Demand Reduction, di Jakarta, Selasa (20/3).

"Kecenderungan untuk kembali menggunakan narkoba atau 'relapse' memang cukup tinggi, maka itulah ada program pasca-rehabilitasi. Setelah menjalani rehabilitasi, mereka harus mengikuti program lanjutan selama dua bulan, untuk mempersiapkan mereka untuk kembali bersinergi ke dalam komunitas," jelasnya.

Lebih lanjut, Diah mengatakan bahwa ada sekitar 18 ribu pecandu narkoba yang telah menjalani program rehabilitasi yang diselenggarakan oleh BNN, yang 3.600 diantaranya telah melewati skema pasca-rehabilitasi dan siap untuk kembali beraktivitas.

Kepala Unit Pengurangan Permintaan Narkoba dari Biro Penegakan Hukum dan Anti Narkotika Internasional (INL) Washington DC Charlote Sisson mengatakan bahwa adanya 'relapse' dalam proses rehabilitasi seorang pecandu narkoba memang telah diperkirakan, bahkan secara ilmiah.

"Kecenderungan untuk kembali menggunakan narkoba adalah bagian dari gangguan 'relapse' kronik, atau 'Chronic Relapsing Disorder' yang diakibatkan dari penyalahgunaan dan kecanduan narkotika," jelas Charlotte.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa terjadinya 'relapse' dapat dicegah dengan sistem dukungan yang terus-menerus dan konstan. "Ketika dukungan orang terdekat itu hilang, meski sesaat saja, maka celah untuk pecandu kembali menyalahgunakan narkoba menjadi jauh lebih besar, dan mereka cenderung jatuh kembali kesana. Jadi sangat penting untuk memberikan dukungan yang terus-menerus," paparnya.

Ia menambahkan bahwa hal tersebut memang membuat proses pemulihan menjadi berat dan memakan waktu yang lama, namun ada berbagai macam alternatif terapi yang dapat dijalani.

"Yang harus digarisbawahi adalah kita harus ingat bahwa kita bersentuhan dengan manusia juga, sehingga diperlukan adanya kesabaran, pengertian dan kepedulian terhadap pecandu itu sendiri, agar mereka juga bisa menjalani hidup yang produktif," katanya menutup. (ANT)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

28°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 80%

Wind: 11.27 km/h

  • 19 Apr 2018 28°C 23°C
  • 20 Apr 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px