Log in

Zakir Mengaku Diancam Tembak

Terdakwa narkoba Zakir memberikan keterangan di PN Medan, Selasa (11/6). Terdakwa narkoba Zakir memberikan keterangan di PN Medan, Selasa (11/6).

Medan-andalas Terduga pemilik narkoba di Kampung Kubur, Zakir Usin (43) mengaku diancam tembak oleh Kasat Narkoba Polretabes Medan, AKBP Raphael Sandi saat pemberkasan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Pengakuan itu disampaikan Zakir saat menjalani persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa di ruang Cakra IX Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (11/6).

"Saya diancam tembak waktu itu. Saya trauma, saya pernah juga ditembak makanya apa yang mereka suruh saya iyakan saja waktu di BAP. Saya berpikir, nanti di pengadilan akan saya buktikan," ujar Zakir di hadapan majelis hakim diketuai Sri Wahyuni.

Mendengar pengakuan Zakir, majelis langsung meminta terdakwa menyebut nama polisi yang mengancamnya tersebut. "Siapa nama polisi yang ngancam kamu itu, biar kita panggil ke persidangan," tanya hakim Sri Wahyuni.

"Kasat Raphael yang mulia," jawab Zakir.

Dalam keterangannya, Zakir mengaku saat proses BAP, dia di bawah ancaman hingga terpaksa harus mengakui kepemilikan sabu seberat 50 gram.

Namun, dalam BAP-nya tersebut, Zakir membantah telah menghubungi istrinya, Melvasari Tanjung untuk negosiasi harga sabu.

Sementara, Jaksa Chandra Naibaho yang tak puas dengar keterangan terdakwa, memintanya untuk membuktikan ancaman tersebut. "Panggil aja jupernya, si Jupiter Sembiring, dia dengar langsung kok waktu saya diancam tembak," sebut Zakir.

Majelis hakim mengaku heran dengan keterangan terdakwa dan menilainya berbelit di persidangan. "Kamu memberikan keterangan berbelit, karena ini bisa memberatkan hukumanmu nanti," tegas hakim Sri Wahyuni.

Kemudian, lanjut Zakir dalam keterangannya, saat ditangkap di Jakarta, tidak ditemukan barang bukti. Setelah itu, dia dibawa ke Hotel Dragon. Di situ, Zakir mengaku mendapatkan penyiksaan hebat selama semalaman.

"Tangan kaki saya dilakban, terus mata saya ditutup pakai handuk basah terus disiram air. Ya megab-megablah saya sampai membiru badan saya. Saban waktu saya di bon," beber Zakir.

Zakir mengaku tidak bersalah atas kasus istrinya, Melvasari. "Saya tidak bersalah," tegasnya.

Dua orang saksi yang meringankan terdakwa juga dihadirkan ke persidangan. Dalam keterangan M Ikhsan, mengaku mengenal Zakir karena mengelola pabrik garam di Aceh.

"Saya kenal terdakwa waktu di dalam (penjara) tahun 2004. Setelah sama-sama bebas tahun 2009, kami masih berhubungan. Kebetulan saya punya lahan di Aceh, dia ngajak saya untuk buka bisnis garam. Jadi sifatnya bagi hasil," terang saksi.

Dia membantah keterangan jaksa, yang menyebut usahanya itu tidak ada kaitannya dengan kasus narkoba terdakwa. "Tidak ada, karena saya yang punya lahan, jadi kami bagi hasil," tegas Ikhsan.

Sementara keterangan Soni Putra, pada 29 Agustus 2018 mengaku dihubungi Zakir. Katanya saat itu, terdakwa sedang cekcok dengan istrinya, Melvasari sebelum penangkapan.

"Kemudian terdakwa menjemput saya di Jalan SMA 2, dan cerita-cerita tentang organisasi. Mau Maghrib terdakwa pulang untuk menjemput anak sekolah. Kemudian besoknya dapat kabar, istrinya ditangkap," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Zakir Usin didakwa menjual sabu seberat 50 gram oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Penangkapan dirinya bermula dari pengembangan istrinya Melvasari Tanjung dan Zulherik (berkas terpisah) pada 26 Agustus 2018 di Jalan Flamboyan I Kecamatan Medan Tuntungan. (AFS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px