Logo
Print this page

Terdakwa Pemalsuan Surat Temui Hakim


Abaikan Peringatan 'TIDAK MENERIMA TAMU URUSAN PERKARA'

Medan-andalas  Pemandangan tak biasa terlihat di ruangan hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (8/10). Terdakwa pemalsuan surat, Apriliani (28) bersama dua orang diduga keluarganya, menemui hakim Jamaluddin sebelum menjalani sidang perdana (dakwaan) di ruang Cakra VII PN Medan sekira pukul 11.25 WIB.

Sulit diketahui tentang pembahasan yang mereka lakukan dalam pertemuan dengan Jamaluddin yang juga merupakan Humas PN Medan tersebut karena terkesan sangat tertutup.

Padahal, di ruangan Humas PN Medan, terpampang jelas tulisan,'TIDAK MENERIMA TAMU URUSAN PERKARA'.

Sebelum masuk ke dalam ruangan, hakim Jamaluddin dan Apriliani sempat terlihat mengobrol serius di depan ruangan tunggu jaksa yang persis berada di samping ruangan Humas PN Medan.

Sekitar 5 menit di dalam ruangan hakim Jamaluddin, Apriliani keluar dan selanjutnya mengikuti proses persidangannya.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan dalam surat dakwaannya menyebutkan, kasus ini bemula saat Ng Giok Lan (ibu kandung terdakwa Apriliani) mempunyai warisan tanah di Jalan Pancing II Lingkungan II, Kelurahan Besar d/h Kampung Besar, Kecamatan Medan Labuhan seluas 14.910 M2.

"Selanjutnya pada tanggal 17 Maret 2014, bertempat di kantor Notaris dan PPAT Nuriljani Iljas, SH yang beralamat di Jalan Helvetia By Pass No 108 B, Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, terdakwa menjual tanah tersebut berdasarkan Akta No 20 kepada Lo Ah Hong seharga Rp8.585.500.000 dengan dasar Surat Keterangan Hak Warisan Ahli Waris Kelas Satu Nomor: 12/NI/N-SKHW/III/2014 tanggal 17 Maret 2014 bertalian dengan Surat Keterangan No. 470/971/RP-II/2014 tanggal 19 Februari 2014," terang jaksa di hadapan Ketua Majelis Hakim, Tengku Oyong.

Kata jaksa, sebelumnya tanah tersebut telah dijual oleh Ny Djoe Ho/ Ny Yap Kim Kiok (nenek terdakwa Apriliani) kepada Mochtar Daud pada tahun 1977 di hadapan Notaris Rachmat Sentosa, SH.

"Setelah mendengar informasi tersebut, saksi korban Anto dan Lina merasa keberatan  tanah yang dijual terdakwa tersebut merupakan milik mereka dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 4852 dengan luas 2.349 M2," ungkap jaksa.

Akibat perbuatan terdakwa, kedua korban merasa keberatan dan melaporkannya ke Polda Sumut. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 385 ke-1 KUHP subsider Pasal 263 ayat (1) KUHP.

Majelis hakim melanjutkan sidang pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Terdakwa dan penasihat hukumnya tidak mengajukan eksepsi. (AFS)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com