Log in

Preman Intimidasi Wartawan Liput Sidang Parlindungan

Parlindungan S duduk di kursi pesakitan PN Medan, Selasa (15/5). Parlindungan S duduk di kursi pesakitan PN Medan, Selasa (15/5).

Medan-andalas Parlindungan Sihotang, terdakwa kasus pemalsuan surat menjalani sidang lanjutan di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/4). Sidang itu beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli, Prof Dr Tan Kamello dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Meskipun sidang tersebut terbuka untuk umum, namun sejumlah preman diduga bayaran terdakwa tampak mengawasi pengunjung yang  mengikuti jalannya proses persidangan.

Begitu sidang dimulai, salah seorang wartawan yang biasa meliput di PN Medan ingin masuk ke ruang sidang untuk memotret terdakwa, langsung dihalangi pria berbaju lengan pendek dan malah menyuruhnya untuk ke luar.

"Kau kan udah dibilang dari kemarin, jangan kau foto-foto," hardik pria tersebut sambil menarik tangan wartawan.

Namun, saat ditanya soal apa kapasitasnya melarang wartawan mengambil foto, pria tersebut terdiam dan malah balik memfoto wartawan. Merasa tidak bersalah, wartawan tersebut duduk di bangku pengunjung dan mengikuti jalannya persidangan.

Tidak lama berselang, seorang wartawan lain masuk ke ruang sidang dan mengambil foto suasana sidang. Namun, kembali dihalangi pria berbaju lengan pendek tersebut.

"Apa yang kau foto?" tanya pria itu sambil beranjak dari bangku dan berusaha menarik tangan wartawan itu untuk ke luar.

Namun, wartawan tersebut tetap mengambil foto dan menyebutkan ke pria tersebut sidang itu terbuka untuk umum, sehingga tidak ada kapasitasnya untuk melarang.

Namun pria itu makin berang dan bertanya kepada wartawan, 'tahu kau rupanya kasusnya ini'," ujar pria itu.

Kendati demikian, wartawan bersikeras tidak mau beranjak, sambil menjelaskan persoalan tahu atau tidak itu bukan urusannya.

Sontak pria itu makin geram, dan pergi dari ruangan. Dari luar sidang dia dan beberapa pria lainnya yang berjaga di luar terus meminta wartawan itu untuk ke luar.

"Sini kau. Sini kau dulu," ujar mereka dari luar sidang. Namun ajakan itu tetap saja dicueki wartawan.

Sekitar 10 menit, dua wartawan yang mengikuti sidang, ke luar dari ruang sidang dan langsung dihadang para pria itu yang jumlahnya ada sekitar 5 orang dan berlagak penyidik menginterogasi para wartawan.

"Siapa tadi kau foto-foto," tanya pria bertopi kepada wartawan.

"Foto persidangan, kenapa rupanya?," tanya balik wartawan.

"Iya kok kau foto-foto. Janganlah kek gitu," ujar pria itu.

"Iya, kenapa nggak boleh difoto. Itu sidang umum, bukan sidang tertutup. Kami wartawan punya hak untuk meliput itu. Nggak ada hakmu melarang-larang," ketus wartawan tersebut.

Di tengah suasana yang semakin memanas, pihak terdakwa tetap merasa keberatan atas tindakan para wartawan tersebut. Bahkan, seorang wartawan senior yang ikut mendinginkan suasana menjelaskan kepada pihak terdakwa bahwa wartawan berhak ikuti sidang untuk mengetahui kasus apa yang akan disidangkan.

"Justru karena tidak tahu lah, makanya kita ikuti. Bukan kalian halang-halangi seperti ini," ujar Fuad, wartawan harian andalas.

Namun saat kembali dipertanyakan, apa alasan sebenarnya pihak terdakwa melarang mengambil foto terdakwa, orang diduga bayaran hanya terdiam.

"Ya udahlah kalau gitu," ucap pria bertopi dengan nada merendah.

Diketahui pada persidangan Selasa pekan lalu, dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sindu Hutomo, korban Sintauli Simarmata menjual sebidang tanah seluas lebih kurang 974 M2 dengan SK Camat Medan Denai No 476/LEG/III /MD/1976 tanggal 15 Oktober 1976 di Jalan Jermal II (Gajah Mandi) Lingkungan VI, Kelurahan Denai Kota Medan seharga Rp 23 juta kepada terdakwa Parlindungan.

Korban dan terdakwa sepakat membuat akta jual beli di notaris. Saat itu, terdakwa Parlindungan memberikan uang pembelian sebidang tanah tersebut kepada korban Sintauli Simarmata sebesar R 8 juta.

"Sedangkan sisanya sebesar Rp 15 juta akan dibayar terdakwa secepatnya dengan jaminan Surat Akta Pelepasan Hak dengan Ganti kerugian Nomor: 592.2/35/1990 tanggal 12 Februari 1990 atas nama Drs Parlindungan Sihotang seluas 2,5 Ha yang terletak di Lingkungan XI Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan," pungkas Sindu.

Namun, hingga sampai tanggal 9 Oktober 1998, terdakwa belum juga melunasinya. Pada tanggal tersebut, terdakwa membuat surat perjanjian yang isinya bahwa sisa uang pembelian tanah akan bayarkan secepatnya, namun terdakwa tidak membayarnya.

Selanjutnya, pada tanggal 27 Juni 2011, korban Sintauli Simarmata dan saksi Nelson Halomoan Simatupang melakukan pengecekan terhadap jaminan Surat Akta Pelepasan Hak dengan Ganti kerugian Nomor: 592.2/35/1990 tanggal 12 Februari 1990 atas nama Drs Parlindungan Sihotang di Kantor Camat Medan Labuhan, Jalan KL Yos Sudarso KM 16 Medan Kota Medan. (AFS)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 82%

Wind: 11.27 km/h

  • 20 Jul 2018 30°C 24°C
  • 21 Jul 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px