Log in

KPU Buka Peluang Ubah Format Debat Pilpres


Jakarta-andalas Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman membuka kemungkinan perubahan format debat calon presiden dan calon wakil presiden berikutnya setelah menerima banyak masukan. Tujuannya, visi dan misi para pasangan calon sampai ke masyarakat.

 "Bisa [berubah]. Nanti tergantung evaluasi. Pokoknya KPU ingin menyelenggarakan debat yang tujuan utama tercapai yaitu pemilih tahu betul visi misi paslon," kata Arief di Gedung KPU, Jumat (18/1).

Hal ini disampaikan sebab KPU menerima banyak masukan dari masyarakat pascadebat perdana, pada Kamis malam (17/1). Salah satunya adalah soal minimnya waktu bagi paslon berdebat. Kemarin, paslon diberikan satu hingga dua menit dalam menanggapi pertanyaan.

Di sisi lain, banyak juga masyarakat yang menyatakan dua menit sudah cukup karena beberapa kali paslon sudah selesai menjawab pertanyaan.

Masukan lainnya, kata Arief, terkait lebih banyak diamnya Ma'ruf Amin dalam debat perdana. Kemarin, mantan Ketua MUI ini lebih banyak diam ketimbang pasangannya, Joko Widodo. Ma'ruf hanya memberikan tanggapan singkat usai Jokowi berbicara.

Arief menyatakan masyarakat tak perlu khawatir sebab masih tersedia beberapa debat berikutnya, salah satunya debat antarcalon wakil presiden. Selain itu, lanjutnya, ada masukan soal jumlah pendukung masing-masing calon hingga pemberian kisi-kisi sebelum debat.

Arief menyatakan perubahan format debat nantinya diputuskan setelah berdiskusi dengan para ahli. "Bisa siapa saja. TV penyelenggara bisa, panelis bisa juga. Nanti tergantung apa yang dievaluasi kami libatkan mereka," tuturnya.

Meski sudah menerima banyak masukan masyarakat, Arief menyatakan KPU belum menerima saran dari pasangan calon baik Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Bantah Berjalan Normatif

Arief Budiman juga membantah kebijakan memberikan kisi-kisi membuat jawaban pasangan calon presiden dan calon wakil presiden menjadi normatif dalam debat capres perdana Kamis malam (17/1).

Pernyataan itu menyikapi tanggapan sejumlah pihak yang menilai debat perdana Pilpres 2019 kurang greget karena pemberian kisi-kisi.

Ia mengatakan para kandidat pada dasarnya tidak mengetahui bakal menerima pertanyaan yang mana meski telah diberikan kisi-kisi sebelumnya. Arief menegaskan setiap pasang calon juga diberikan pertanyaan calon lainnya di luar kisi-kisi.

"Bahwa kandidat itu jawabannya normatif dan datar, itu sudah urusan kandidat. Tapi kan tidak cukup dia menjawab, paslon lain menanggapi, tidak cukup hanya menanggapi, dia dikasih menjawab tanggapan," kata Arief.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hidayat Nur Wahid menyatakan debat capres perdana kurang greget dan mensinyalir hal itu disebabkan oleh pemberian kisi-kisi.

Menurut Hidayat, pemberian kisi-kisi tidak seperti yang diharapkan dapat mengeksplorasi jawaban kedua kandidat. Serupa, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyatakan banyak diamnya cawapres nomor urut 01 Maruf Amin karena tersandera kisi-kisi.

Meski membantah kisi-kisi membuat debat normatif, Arief menyatakan KPU terbuka terhadap masukan dan evaluasi masyarakat. Kebijakan memberikan kisi-kisi kepada paslon pada debat mendatang masih menunggu rapat evaluasi, Senin (21/1). (CNNI)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px