Log in

Bisa Ditahan, Terdakwa Penggelapan 'Pucat' Disidangkan

Istri terdakwa Rahmadsyah pingsan dan keluarga coba menyadarkannya usai pembacaan tuntutan suaminya di PN Medan, Senin (13/1). Istri terdakwa Rahmadsyah pingsan dan keluarga coba menyadarkannya usai pembacaan tuntutan suaminya di PN Medan, Senin (13/1).

Medan-andalas Sulaiman (64), terdakwa kasus penggelapan dana miliaran rupiah terlihat pucat saat menjalani sidang perdana di ruang Cakra V Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (14/1) siang.

Mengenakan baju dan celana panjang abu-abu, Sulaiman duduk di kursi pesakitan. Selain pucat, dia juga terlihat gugup. Sebelum dakwaan dibacakan, Ketua Majelis Hakim, Hendra Utama Sutardodo sempat menanyakan ketidakhadiran terdakwa pada sidang sebelumnya.

"Minggu lalu terdakwa bilang sedang sakit, mana ini surat sakit aslinya," tanya hakim Hendra kepada terdakwa.

Menjawab itu, penasihat hukum terdakwa, Darma beralasan mangkirnya mereka karena tidak ada pemberitahuan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan.

"Sudah saya sampaikan yang mulia, ada buktinya. Nanti sidang selanjutnya akan kami sampaikan. Kami susun dulu yang mulia," ujar Randi, membantah tudingan penasihat hukum terdakwa.

Hakim Hendra kemudian mengingatkan terdakwa, jika kembali tidak menghadiri sidang akan dilakukan penahanan.

"Saya ingatkan ya, sudah dua kali kamu (terdakwa) tidak hadir. Nanti bisa saya lakukan penahanan," tegas hakim.

Mendengar peringatan hakim itu, wajah Sulaiman semakin pucat.

Sementara, dalam dakwaannya jaksa disebutkan, kasus ini bermula pada 2012 lalu. Ketika itu, terdakwa menemui saksi korban, H TM Razali dan mengaku mempunyai perusahaan konstruksi dan perkebunan di Lhokseumawe, yakni PT Kasama Ganda. Perusahaan itu menurutnya sedang bekerja sama dengan Pemda Simeulue.

Selanjutnya, terdakwa menawarkan kerjasama kepada korban untuk bergabung dalam bisnis PT Kasama Ganda. Terdakwa meminta modal kepada korban sebesar Rp25 miliar.

"Korban setuju memasukkan modal, dengan syarat menjadi pemegang saham utama sekaligus direktur utama, sedangkan terdakwa bergeser posisi menjadi direktur 1. Semua itu tertuang pada Akta No. 47 tanggal 15 April 2013, yang dibuat oleh Notaris Adi Pinem, SH. Untuk tahap awal, korban H TM Razali memasukkan dana Rp16,2 miliar," kata jaksa.

Pada perjalanannya, sambung jaksa, korban memutuskan mengundurkan diri dari PT Kasama Ganda dan meminta pengembalian modal. Terdakwa menyetujui pengembalian modal berikut perhitungan bunga, dengan total Rp18,76 miliar.

"Berdasarkan barang bukti yang diajukan korban kepada penegak hukum, jumlah modal yang harus dikembalikan tertuang dalam surat pernyataan yang ditandatangani Sulaiman pada 4 Agustus 2014," beber jaksa.

Pada perjalanan berikutnya, terdakwa memberikan gudang miliknya di Jalan Sunggal kepada korban, dengan taksiran nilai Rp10 miliar. Sisa dari modal korban kemudian dibayarkan tunai dan empat lembar cek. Tapi kenyataannya, cek tersebut tidak bisa dicairkan karena nilai saldo tidak cukup.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 372 subsider Pasal 378 KUHPidana," pungkas jaksa.

Seusai persidangan, ketika wartawan mewawancarai Sulaiman, tiba-tiba penasihat hukumnya melarang. "Tanya samaku aja bang, aku kuasa hukumnya," ujar Darma dengan wajah memerah.

Namun, ketika ditanya tentang penggunaan uang korban dan soal kerjasama dengan Pemkab Simeulue, penasihat hukum terdakwa tak bisa menjawabnya.

"Kan belum sampai sana tadi agenda sidangnya," kilahnya sambil meninggal awak media. (AFS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px