Logo
Print this page

Asiong Mengaku Jadikan Sapi Perahan Bupati


Medan-andalas Sidang perkara suap mantan Bupati Labuhan Batu yang digelar di ruang Cakra Utama Pengadilan Tipikor Medan, Senin (11/2), beragendakan mendengarkan keterangan saksi.

Effendi Syahputra alias Asiong selaku Direktur PT Binivan Konstruksi Abadi, Thamrin Ritonga selaku mantan tim sukses terdakwa Pangonal Haharap dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari KPK.

Dalam kesaksiannya, Asiong mengungkapkan, ketika itu Thamrin Ritonga memintanya memberikan uang Rp7 miliar untuk membayar utang-utang Pangonal semasa kampanye. Pengusaha ini kemudian dipertemukan dengan Pangonal di salah satu hotel di Medan untuk membicarakan mekanisme pengembalian uang itu nantinya.

Berdasarkan dakwaan, uang itu dibayar dengan proyek yang akan didapatkan Asiong. Uang yang diberikan kepada Pangonal merupakan bagian atau fee proyek untuknya.

Setelah pertemuan itu, Asiong mengaku bertemu lagi dengan Pangonal. Pertemuan itu dilakukan di pendopo Bupati Labuhan Batu, setelah pelantikan. Asiong menyebut pihak Pangonal kerap meminta uang.

"Saya terkadang kesulitan untuk memenuhinya, bahkan saya harus berutang," ucap Asiong  di hadapan majelis hakim dipimpin Irwan Efendi.

JPU sempat menanyakan kepada Asiong, perihal uang yang diperoleh untuk memenuhi permintaan Pangonal. Termasuk dollar Singapura yang dipinjam Pangonal, disebut Asiong merupakan uang priadinya. "Uang dari tabungan saya, sebagian saya pinjam dari teman saya," sebutnya.

Sementara, Thamrin Ritonga yang sempat menjadi tim pemenangan Pangonal Harahap, mengaku ada memberikan uang kepada terdakwa. Namun, dia mengaku tidak ingat berapa jumlah uang yang diberikannya untuk Pangonal. "Nggak tau aku berapa, karena aku ikhlas untuk menolong dia (Pangonal)," ucapnya.

Bahkan, Thamrin mengaku rela rumahnya digadaikan untuk mencicil pembayaran utang Pangonal kepada Asiong sebesar Rp500 juta. Namun, saat dicecar penasihat hukum terdakwa, Thamrin terlihat emosi.

"Yang jelas pekerjaannya ada, kalau kamu sanksi ayo kita tengokkan ke lapangan. Dia sudah menipu, dia itu. Karena kata ipar saya, itu nggak perlu pakai duit, hanya setelah datang si Yazid lalu pake uang," kata Thamrin dengan nada meninggi.

Hakim anggota Ferry Sormin berusaha meredakan ketegangan antara penasihat hukum terdakwa dengan Thamrin, perihal cek selembar dengan jumlah nominal Rp1,3 miliar, yang dibayarkan dalam tiga tahap. "Pertama Rp500 (juta). Yang kedua Rp400 juta di bank yang ketiga di bank juga," sebut Thamrin.

Jawaban berbeli-belit Thamrin membuat Ferry Sormin marah. Hakim kesal, karena ternyata transaksi yang akan diberikan ke Abu Yazid atas permintaan Pangonal agar seolah-olah dilakukan di Bank. Pada hal, Thamrin membawa uang tunai dari rumahnya ke bank.

"Saya bawa uang dari rumah, karena sudah biasa di situ (Bank) pak Asiong menitipkan. Salah rupanya kalau saya bawa dari rumah?," kata Thamrin.

Sementara, saat hakim kembali menanyakan terkait sumber uang yang dipergunakan Pangonal, Asiong mengaku tidak tahu. Hanya saja, kata Asiong, pabrik sawit milik Pangonal di Labuhan Batu yang dibangun pada 2017 lalu, kuat dugaan dari hasil uang yang diterima Pangonal. (AFS)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
Info Pemasangan Iklan Online

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com