Log in

Survei: Banyak Wanita dan Pria Menyesal Terlalu Dini Berhubungan Seks

Iluatrasi Iluatrasi

Keperawanan atau keperjakaan memang isu yang sensitif. Enggak heran, sebagian besar orang memilih untuk menyimpan cerita itu untuk diri mereka sendiri. Tidak semua orang nyaman membicarakan kapan pertama kali mereka memiliki pengalaman seksual.

Menurut survei terbaru, dikutip dari laman Men's Health, mereka yang tidak terburu-buru dalam pengalaman seksual, merasa keputusan mereka tepat. Peneliti mengungkap, lebih dari sepertiga wanita, dan seperempat pria tidak merasa telah melepaskan keperjakaan/keperawanan di waktu yang tepat.

Studi diterbitkan dalam BMJ Sexual & Reproductive Health dengan melakukan survei terhadap hampir 3000 orang tentang pertama kalinya mereka berhubungan seks. Semua partisipan tinggal di Inggris, dengan rentang umur 17 tahun hingga 24 tahun.

Hasilnya, 40 persen wanita dan 26 pria mengatakan waktunya tidak tepat ketika mereka berhubungan seks untuk kali pertama. Mereka sebagian besar berharap menunggu lebih lama untuk melepas keperawanan/ keperjakaan. Penelitian tersebut juga mengungkap sekitar setengah partisipan kehilangan keperjakaan/keperawanan saat berusia 17 tahun.

Ada beberapa faktor yang menentukan apakah seseorang puas dengan keputusannya untuk bercinta kali pertama. Di antaranya kestabilan hubungan, pengetahuan yang cukup tentang seks melalui pendidikan seks dan tanpa keterpaksaan. Sayangnya, sekitar 20 persen wanita dan 10 persen pria merasakan tuntutan untuk berhubungan seksual pada kencan pertama.

Selain itu, adanya fakta bahwa setiap orang memasuki fase dewasa secara berbeda-beda. Hal ini dijelaskan oleh salah satu peneliti, Kaye Wellings, profesor pada bidang penelitian kesehatan seksual dan reproduksi di London School of Hygiene. "Setiap orang muda itu berbeda, beberapa yang berumur 15 tahun mungkin sudah siap untuk aktivitas seksual, sementara beberapa yang berusia 18 tahun belum siap," kata Kaye.

Peneliti meyakini studi tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan seks yang lebih baik, terutama untuk memberi pemahaman untuk mengetahui kapan mereka siap untuk terlibat dalam aktivitas seksual.

Gunung Es
Rasa saling menyayangi satu sama lain merupakan hal yang wajar. Ketika jatuh cinta, hormon dopamin dan oksitoksin dilepaskan
sehingga muncul perasaan yang menggebu-gebu dalam diri.

Tren pacaran para remaja ratarata dimulai pada usia 15-17 tahun. Perilaku pacaran yang tidak sehat dapat menjadi awal perilaku seksual yang menyimpang, misalnya hubungan seksual pranikah yang bisa mengakibatkan konsekuensi pada masalah kesehatan seperti penularan IMS (Infeksi Menular Seksual), kehamilan remaja, dan masalah sosial lainnya.

Data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mengungkap sekitar 2 persen remaja wanita usia 15-24 tahun dan 8 persen remaja pria di rentang usia yang sama, telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sebanyak 11 persen di antaranya mengaku mengalami kehamilan tidak diinginkan.

Kehamilan yang tidak diinginkan berisiko terhadap komplikasi kehamilan dan upaya pengguguran kandungan. "Jumlah ini yang tercatat, bisa jadi di luar sana yang enggak terdata lebih banyak," ujar Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan (Balitbangkes) dari Kementerian Kesehatan, Tin Afifah, SKM, MKM.

Berbagai alasan diungkap oleh para remaja terkait dengan hubungan seksual pranikah yang mereka lakukan seperti saling mencintai, rasa penasaran, terjadi begitu saja, dipaksa, butuh uang, hingga pengaruh dari teman atau lingkungan.

"Hubungan seksual yang menyimpang juga bisa meningkatkan penularan HIV-AIDS, apalagi kalau tidak dibarengi dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi," tambahnya.

3 Hal Agar Anak Terhindar dari Seks Bebas
Sementara itu, Dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, seorang ginekolog dan seksolog kondang, bilang cinta dan seks adalah masalah utama yang dihadapi di usia remaja. Kalau tidak dapat dikendalikan, hasilnya bisa ditebak, dong? Kehamilan remaja, aborsi, putus sekolah, perkawinan dini, perceraian, penyakit kelamin, dan konsumsi obat-obat terlarang.

Kalau menurut Pak dokter Boyke, nggak susah-susah amat untuk menghindari seks bebas. Ada tiga hal yang perlu diingat. Pertama, harus berpedoman pada ajaran agama. Kedua, perhatikan norma sosial di masyarakat dan ketiga, adat istiadat setempat. ''Satu saja dari tiga pedoman itu dilanggar, dikhawatirkan bisa memicu hal-hal tidak diinginkan bersama,'' kata dia.

Kata dokter Boyke, niatkan bahwa tujuan berpacaran adalah untuk mengenal lebih dekat dan saling mengisi. Landasi pula dengan
rasa keimanan. ''Iman merupakan rem paling pakem dalam berpacaran,'' ujarnya. Yang juga nggak kalah penting, kamu juga bisa minta informasi dari orang tua atau lembaga yang memang mengurus soal remaja. Biasanya, kalau informasi dari sumber seperti itu nggak akan menjerumuskan kita.

Seperti dokter Boyke bilang, tahu soal seks yang benar bakal bisa menekan laju angka penderita penyakit kelamin, AIDS, dan aborsi di kalangan remaja. Bahkan, juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Sayangnya, ada sebagian remaja yang malah tidak pernah mendapatkan soal pendidikan seks tidak di sekolah atau lembaga formal lainnya.

Hasilnya, mereka lantas mencari tahu dari berbagai media seperti di internet, buku, serta VCD porno yang dijual bebas.''Nah, jika sudah mendapatkan pendidikan ini secara proporsional, diharapkan para remaja akan menjadi lebih berhati-hati dan menjaga dirinya, termasuk ketika memutuskan berpacaran,'' ujar dokter Boyke.

Awal mula seorang remaja terjerumus untuk melakukan seks bebas tidak mungkin langsung begitu saja terjadi. Pasti ada hal yang menyebabkan mereka ingin melakukan hal tersebut. Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan remaja melakukan seks bebas :

1. Kekuatan iman yang memudar
Kehidupan beragama yang baik dan benar ditandai dengan pengertian, pemahaman dan ketaatan dalam menjalankan ajaran-ajaran agama dengan baik tanpa dipengaruhi oleh situasi kondisi apapun.

Seseorang dapat melakukan seks bebas karna kurangnya keimanan dalam dirinya. Oleh sebab itu sejak dini para remaja dan mahasiswa harus meningkatkan pengetahuan tentang agamanya sendiri, karna agama adalah fondasi bagi hidup kita. Jika pengetahuan tentang agama saja kurang, apalagi pengetahuan diluar agama tentu sangat kurang.

2. Kurangnya perhatian orang tua
Orang tua sangat berperan penting dalam kehidupan seorang anak karena perhatian orang tua sangat diperlukan oleh seseorang karna orang tualah yang paling dekat dengan anak. Apabila orang tua kurang memberi pengarahan serta pengetahuan maka seorang anak akan mudah terjerumus dalam hal-hal yang buruk. Tetapi ada juga anak yang memang memiliki kepribadian buruk, walaupun orang tuanya sudah memberikan perhatian yang cukup serta pengarahan yang cukup pula, anak yang tergolong memiliki keprobadian buruk akan senantiasa tidak mendengarkan perkataan orang tuanya. Hal tersebut akan meninggalan penyesalan pada akhir perbuatannya

3. Rasa ingin tahu
Pada usia remaja keingintahuannya begitu besar terhadap seks, apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa sensasi seks terasa di awang-awang, ditambah lagi adanya infomasi yang tidak terbatas masuknya, maka rasa penasaran tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan yang tanpa mereka sadari bahwa percobaan tersebut berbahaya.

4. Tontonan tidak mendidik
Di era globalisasi ini, banyak sekali tontonan yang sangat merusak melalui perantara internet maupun televisi. Tontonan yang baik menghasilkan perilaku yang baik dan tontonan yang buruk menghasilkan perilaku yang buruk.

Di era ini, banyak sekali tontonan “panas” yang menjadi asupan remaja. Hal ini sangat mendorong remaja untuk menirukan apa yang mereka lihat karena keingintahuan mereka yang sangat besar.

5. Rendahnya pengetahuan tentang bahaya seks bebas.
Bagi mereka yang pernah merasakan seksualitas, seks bebas adalah suatu hal yang wajar bagi pergaulan mereka. Faktor pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang tinggi, kurangnya pengetahuan akan dampak dan akibat akan hal yang akan dilakukan dapat memudahkan untuk terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.

6. Salah bergaul
Teman merupakan orang yang sangat berpengaruh bagi para remaja. Apabila seorang remaja sudah salah dalam memilih teman maka akibatnya akan fatal. Memilih teman berarti memilih masa depan, maka siapapun yang ingin masa depannya cerah ditengah bekapan arus globalisasi, serta luas ilmu dan wawasannya, maka ia harus pandai dalam memilih teman.

Ada banyak sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan atau agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal tersebut menyebabkan perilaku yang tidak terkendali. Namun hal yang terpenting adalah memperkuat iman setiap remaja. Karena jikalau iman remaja tersebut kuat, untuk melakukan hal yang dianggapnya menyimpang pun takkan dilakukan.

Budaya Seks bebas lebih banyak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan dan martabat kaum remaja atau dewasa yang melakukannya. Dampak negatif tersebut adalah:

1. Hilangnya harga diri
Hilangnya kehormatan dan jatuh martabatnya baik di hadapan Tuhan maupun sesama manusia serta merusak masa depannya, dan meninggalkan memori buruk yang berkepanjangan bukan saja kepada pelakunya bahkan kepada seluruh keluarganya. Kehormatan sangat penting bagi setiap manusia, terutama pada wanita. Jika kehormatan tersebut sudah hilang maka akan jelas terlihat perbedaannya dengan wanita yang masih menjaganya.

2. Prestasi menurun
Apabila seorang remaja sudah melakukan seks bebas, maka pikirannya akan selalu tertuju pada hal negatif tersebut. Rasa ingin mengulanginya selalu ada, sehingga tingkat kefokusannya dalam mengikuti proses belajar akan menurun. Malas belajar, malas mengerjakan tugas dan lain sebagainya dapat menurunkan prestasi remaja tersebut.

3. Hamil di Luar Nikah
Hamil diluar nikah akan sangat menimbulkan masalah bagi pelaku. Terutama bagi remaja yang masih sekolah, pihak sekolah akan mengeluarkan pelaku jika ketahuan siswanya kedepatan ada yang hamil. Sedangkan bagi pelaku yang kuliah hamil diluar nikah akan menimbulkan rasa malu yang luar biasa terutama orang tua.

4. Aborsi dan Bunuh Diri
Terjadinya hamil diluar nikah akibat seks bebas akan menutup jalan pikiran pelaku, guna menutupi keburukan ataupun mencari jalan keluar agar tidak merusak nama baik dirinya dan keluarganya hal tersebut dapat berujung pada pembunuhan janin melalui aborsi bahkan bunuh diri.

5. Tercorengnya Nama Baik Keluarga
Semua orang tua akan merasa sakit hatinya jika anak yang dibangga- banggakan juga diidam-idamkan hamil diluar nikah. Nama baik keluarga akan tercoreng karna hal tersebut, dan hal tersebut akan meninggalkan luka yang mendalam dihati keluarga.

6. Tekanan Batin
Tekanan batin yang mendalam dikarenakan penyesalan. Akibat penyesalan tersebut pelaku akan sering murung dan berpikir yang tidak rasional.

7. Terjangkit Penyakit
Mudah terjangkit penyakit HIV/AIDS serta penyakit-penyakit kelamin yang mematikan, seperti penyakit herpes dan kanker mulut rahim. Jika hal tersebut terus dilakukan, penyakit tersebut dapat menularkannya pada orang lain disekitarnya dan cukup membahayakan.(BBS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px