Log in

Sidang Suap Bupati Batu Bara, Bos Ada Jadi Mobil Terima THR Rp100 Juta

Sejumlah saksi saat memberi kesaksian dalam sidang kasus suap terhadap Bupati Batu Bara nonaktif OK Arya Zulkarnain dengan terdakwa Sujendi Tarsono alia Ayen, Senin (12/2). andalas/ahmad fuad siregar Sejumlah saksi saat memberi kesaksian dalam sidang kasus suap terhadap Bupati Batu Bara nonaktif OK Arya Zulkarnain dengan terdakwa Sujendi Tarsono alia Ayen, Senin (12/2). andalas/ahmad fuad siregar

Medan-andalas Bos Ada Jadi Mobil Sujendi alias Ayen salah seorang terdakwa kasus suap terhadap Bupati Batu Bara nonaktif OK Arya Zulkarnain disebut menerima tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp100 juta dari Maringan Situmorang.

Hal itu diungkapkan Maringan salah seorang rekanan proyek infrastruktur di Dinas PUPR Batu Bara saat bersaksi di depan majelis hamik Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan, Senin (12/2).

"Kebetulan saat itu saya baru pulang dari kampung, ada acara keluarga saya. Pak Ayen merasa saat itu saya hebat karena memberikan THR Rp100 juta," jelas Maringan setelah mendengarkan rekaman percakapannya dengan Ayen yang diputar Penuntut Umum dari KPK saat sidang.

Dalam rekaman tersebut Ayen menyebutkan kalau Situmorang yang mengatur. "Itu Bang Situmorang yang mengatur," ucap Penuntut Umum sembari menirukan suara di rekaman.

Selama berlangsungnya persidangan, ketiga terdakwa yang dihadirkan tampak gelisah saat mendengarkan keterangan dari Maringan yang secara blak-blakan memberi kesaksian termasuk soal adanya 'uang pengantin'  sebagai sandi bagi rekanan untuk memenangkan tender.

Diketahui, sebelumnya Penuntut Umum KPK Ariawan Agistianto menyebutkan bahwa dalam kasus ini OK Arya menerima sejumlah uang dari pengusaha yang ditransfer kepada Sujendi alias Ayen.  Bahkan Helman Herdadi, Kadis PUPR Batu Bara juga menerima fee dari rekanan yang kemudian juga diserahkan kepada OK Arya.

Dalam hal ini pemberi suap yakni dua rekanan Pemkab Batu Bara, Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar dalam berkas terpisah juga telah disidangkan dan diputus bersalah oleh majelis hakim. Jadi si pemberi dan si penerima juga diproses secara hukum, lanjut Wawan, bahwa ketiganya tidak mengajukan keberatan atas dakwaan penuntut umum KPK.

Masih di hari yang sama penuntut umum membacakan dakwaan kepada ketiga terdakwa dalam berkas terpisah OK Arya, Helman, dan Sujendi alias Ayen. Dalam dakwaan tersebut, penuntut umum menyebutkan bahwa OK Arya menerima uang senilai Rp4,1 miliar.

Di hadapan ketua majelis hakim Wahyu Prasetyo Wibowo, penuntut KPK, Wawan menyebutkan uang suap itu untuk memeroleh proyek pekerjaan lanjutan peningkatan Jalan Labuhan Ruku menuju Mesjid Lama, Kecamatan Talawi di Dinas PUPR tahun anggaran 2017 dengan nilai Rp3,3 miliar dari nilai pagu sebesar Rp3,4 miliar.

Pada kasus ini Syaiful menyerahkan uang kepada  OK Arya sebesar Rp 400 juta melalui Helman Herdady. Penyerahan uang suap dilakukan empat tahap diantaranya yakni di Hotel Grand Kanaya, Pitstop Jalan Setia Budi, dan Kafe Tremon Lippo Plaza Medan.

Sedangkan Marigan Situmorang yang mendapatkan dua proyek di Dinas PUPR menyerahkan uang sebesar Rp3,7 miliar dalam tiga tahap kepada  OK Arya melalui perantara pengusaha showroom Sujendi Tarsono alias ayen.

Dalam pemberian dilakukan secara bertahap, pada tahap pertama dan kedua, Maringan memberikan cek senilai Rp1,5 miliar dan tahap ketiga transfer uang Rp700 juta kepada Ayen yang merupakan teman dekat Ok Arya Zulkarnain.

Keduanya dikenakan Pasal 5 ayat (1) huruf b UU RI No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UUU RI No 21 Tahun 2001 dan Subsidair Pasal 13 UU RI No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimanaa telah diubah dengan UU RI No.20 Tahun 2001. Sidang kasus suap proyek yang dipimpin Majelis Hakim yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo, dilanjutkan Kamis depan (22/2) untuk pemeriksaan sejumlah saksi-saksi. (AFS)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 9.66 km/h

  • 22 Oct 2018 29°C 22°C
  • 23 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px