Log in

Rutin CERAMAH Ampuh Kendalikan Hipertensi Pemicu Stroke dan Serangan Jantung


Hampir semua pakar kesehatan di seluruh dunia sepakat menggolongkan penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi sebagai penyakit yang mengerikan. Mengerikan karena sangat jarang penderitanya mengetahui sejak dini dirinya bermasalah dengan hipertensi. Sebab hipertensi diidap tanpa memberikan gejala dan keluhan apapun bagi penderitanya. Bahkan sebagian pengidap hipertensi merasa selama ini kesehatan mereka baik-baik saja.

Hingga pada suatu ketika, si penderita tiba-tiba kena stroke, serangan jantung, lalu merambat hingga ke ginjal, hingga memicu penyakit komplikasi lainnya seperti diabetes, bahkan berdampak pada organ vital lainnya seperti mata dan otak. Saat itulah baru diketahui kalau penderita bermasalah dengan hipertensi. Tragisnya saat itu kondisi si penderita sudah komplikasi. Mustahil untuk sembuh. Hingga penderitaan itu berakhir dengan kamatian.

Meski tidak menyebabkan kematian secara langsung, kenyataannya hipertensi adalah pembunuh nomor satu di dunia. Data WHO 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya, 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi, hanya 36,8 persen di antaranya yang minum obat.

Jumlah itu terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan pada 2025 akan ada 1,5 miliar orang yang terkena hipertensi. Diperkirakan juga setiap tahun ada 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi.

Di Indonesia jumlah orang dengan hipertensi juga terus meningkat, termasuk generasi milenial. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan, prevalensi hipertensi adalah 34,1 persen dari populasi usia dewasa. Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor 5 di Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab utama gagal ginjal yang memaksa pasien harus menjalani cuci darah.

Berdasarkan riset Indonesian Society of Hypertension (InaSH) atau Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI), 63 persen pasien hipertensi mengonsumsi obat antihipertensi tanpa pemantauan. Ini berarti, dari 100 orang, 30 orang memiliki hipertensi. Dari 30 orang tersebut, 6 tidak pernah minum obat dan 19 orang minum obat tidak terkontrol. Hanya 5 orang yang terkontrol. Ini menunjukkan, sebagian besar pasien tidak melakukan cek tekanan darah secara teratur dan mandiri di rumahnya.

Hipertensi termasuk dalam penyakit katastropik yang berkontribusi terhadap tingginya pengeluaran untuk rumah sakit, dokter dan obat-obatan, yang meningkat setiap tahun di Indonesia. BPJS Kesehatan mencatat bahwa pada 2014-2018 dana yang dihabiskan untuk penyakit katastropik mencapai Rp78,3 triliun.

Gaya hidup yang tidak sehat, stress, makan makanan yang tidak sehat, mengonsumsi rokok dan alkohol, jarang berolahraga, obesitas, semuanya berkontribusi terhadap peningkatan risiko terkena hipertensi. Risiko terkena hipertensi meningkat menjadi dua kali lipat bagi orang yang memiliki anggota keluarga yang menderita hipertensi, diabetes atau penyakit jantung.

Cegah dengan CERAMAH

Satu-satunya cara paling ampuh yang dianjurkan para pakar kesehatan untuk mengetahui ada-tidaknya risiko terkena hipertensi adalah dengan cara rutin memeriksakan tekanan darah dan kesehatan. Pemeriksaan rutin berguna untuk mencegah terjadi masalah lebih lanjut yang disebabkan oleh hipertensi.  Orang dewasa yang berumur di atas 20 tahun disarankan mengukur tekanan darah minimal 2 tahun sekali. Sedangkan bagi yang berusia di atas 65 tahun, disarankan lebih sering memeriksakan diri.

Berperilaku hidup sehat juga penting untuk menghindari terkena hipertensi. Seperti tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, rajin berolahraga, dan mengonsumsi makanan sehat, terutama sayur dan buah, menjaga berat badan ideal, dan lainnya.    

Hal penting yang harus diingat semua orang. Biasanya, serangan jantung dan stroke kerap terjadi di rumah. Bukan di rumah sakit atau klinik. Serangannya pun tak bisa diprediksi. Ini pentingnya penderita hipertensi mengubah gaya hidup mereka dan mulai memeriksakan tekanan darah di rumah secara teratur.

Karena itu OMRON Healthcare Indonesia, produsen terdepan di segmen alat tensimeter digital bekerja sama dengan InasH/PERHI gencar mengedukasi masyarakat mengenai hipertensi dan pengendaliannya melalui kampanye CERAMAH [Cek Tekanan Darah di Rumah].

Kamapanye CERAMAH yang diluncurkan sejak 2018 ini bertujuan agar masyarakat terhindar dari terkena stroke dan serangan jantung akibat hipertensi. Program  ini juga sekaligus menjadi kontribusi OMRON Healthcare Indonesia bersama InasH dalam membantu pemerintah menurunkan prevelansi hipertensi yang saat ini masih tinggi di Indonesia.

Yoshiaki Nishiyabu, Managing Director PT OMRON Healthcare Indonesia mengatakan, mengingat cepatnya hipertensi meluas di kalangan masyarakat Indonesia, deteksi awal dan pemantauan secara berkelanjutan sangatlah penting. Jika tidak dirawat dan dipantau dengan baik, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang mengancam nyawa. Masyarakat dari semua kelompok umur perlu disadarkan atas bahaya hipertensi dan cara pencegahannya, termasuk pemeriksaan tekanan darah sendiri di rumah.

Sebagai solusinya, OMRON menyediakan alat pemantauan tekanan darah (BP) canggih yang dapat digunakan orang untuk pemantauan tekanan darah di rumah sebagai intervensi utama yang mengurangi risiko terhadap hipertensi. Produk BPM OMRON memudahkan akses ke HBPM lebih mudah, akurat dan terjangkau. Perangkat BPM OMRON menawarkan harga yang sesuai untuk akurasi, kemudahan penggunaan dan sistem perekaman data yang komprehensif.

"Gambaran kesehatan yang akurat dan konsisten merupakan hal penting untuk mengendalikan dan mengatur tekanan darah Anda. Ini sebabnya memonitor tekanan darah dengan OMRON dapat membawa keyakinan bahwa Anda akan mendapatkan hasil yang andal," jelas Yoshiaki Nishiyabu belum lama ini..

Perangkat BPM OMRON telah diuji secara ketat dan divalidasi untuk akurasi klinis, dari European Society of Hypertension (ESH), British Hypertension Society (BHS), Association for the Advancement of Medical Instrumentation, dan telah menerima rekomendasi dabl (dabl Educational

Di Indonesia, OMRON telah bekerjasama dengan InaSH untuk mendukung kampanye pendidikan tentang hipertensi, termasuk May Measurement Month pada 2017 dan 2018 serta kampanye HBPM Sejak 2017, OMRON telah secara aktif melakukan OMRON Academy bekerja sama dengan InaSH dalam mendidik profesional kesehatan tentang manajemen hipertensi dan pentingnya HBPM

 "Kami senang bisa bekerja sama dengan Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH). InaSH akan sangat membantu kami mencapai visi dalam kampanye global OMRON bertajuk ‘Zero Event’, yang bertujuan mengurangi insiden terjadinya penyakit yang mengancam jiwa, yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi, sampai tak ada sama sekali," aku Yoshiaki Nishiyabu.

Tekanan Darah Normal

Ketua Umum InaSH dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH mengatakan perlu ada Gerakan Peduli Hipertensi (GPH) sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) sebagai upaya pencegahan.

InaSH pada Februari lalu telah meluncurkan Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019. Salah satunya, diagnosis hipertensi tidak lagi hanya didasarkan atas pengukuran tekanan darah di rumah sakit atau klinik praktik dokter. Tapi dianjurkan untuk melakukan pengukuran tekanan darah di rumah, di mana CERAMAH (Cek Tekanan Darah di Rumah) termasuk dalam kategori ini.

Kepatuhan makan obat dan perhatian atas kesehatan diri sendiri juga diharapkan akan meningkat dengan cara ini. Sehingga pencapaian target tekanan darah juga akan lebih mudah tercapai. Dampaknya, kerusakan organ vital seperti jantung, syaraf, ginjal, dan pembuluh darah, dapat dihindari.

Anjuran untuk menjalani gaya hidup sehat juga sangat direkomendasikan sebagai bagian dari pengobatan hipertensi. Antara lain dengan olahraga teratur, konsumsi nutrisi yang seimbang dengan mengurangi asupan garam, gula, dan lemak, serta menjaga berat badan dan lingkar pinggang yang ideal, berhenti merokok, tidak minum alkohol dan menghindari stres.    

Lebih jauh dr Tunggul menjelaskan tekanan darah disebut normal apabila: Pengukuran di rumah di bawah 135/85 mmHg; Rata-rata saat bangun di bawah 135/85 mmHg; Rata-rata saat tidur malam di bawah 120/70 mmHg; Rata-rata 24 jam di bawah 130/80 mmHg; dan Pengukuran di klinik di bawah 140/90 mmHg.

Ketika terjadi perbedaan diagnosis antara tekanan darah di klinik dan tekanan darah di rumah, maka yang harus diprioritaskan adalah pengukuran tekanan darah di rumah.

Para dokter di InaSH yang sebagian besar sudah berpraktik lebih dari 10 tahun, merekomendasikan agar pasien rutin memeriksakan tekanan darah di rumah. Tiga alasan utamanya adalah dapat mengevaluasi kesuksesan terapi, mengevaluasi variasi tekanan darah, dan dapat meningkatkan kepatuhan pasien mengonsumsi obat.

Sementara Dr dr Yuda Turana SpS, Anggota Dewan Pembina InaSH mengungkap data hasil riset yang dilakukan oleh InaSH bahwa 63 persen pasien hipertensi mengonsumsi obat antihipertensi tanpa pemantauan. Ini juga menunjukkan, sebagian besar pasien tidak melakukan cek tekanan darah secara teratur dan mandiri di rumahnya.         

"Banyak studi menunjukkan, CERAMAH memiliki nilai prognostik yang lebih baik dibandingkan hanya pemeriksaan tekanan darah di rumah sakit ,” ungkapnya.

Sejumlah manfaat CERAMAH  itu antara lain, Menunjukkan hasil pengukuran tekanan darah secara periodik pada hari, pekan, dan bulan yang berbeda; Pengukuran dilakukan di lingkungan yang familiar dan nyaman, dibandingkan di klinik atau fasilitas kesehatan yang bisa mengintimidasi sehingga bisa mencegah munculnya hipertensi terselubung; dan hipertensi jas putih.

Memantau tekanan darah di rumah terkait erat dengan memantau potensi kerusakan organ akibat hipertensi serta bisa memprediksi kejadian kardiovaskular dengan lebih baik dibandingkan pengukuran konvensional di klinik.

CERAMAH lebih nyaman bagi pasien yang butuh memantau dan mencatat pengukuran, serta menunjukkan peningkatan kepatuhan pasien terhadap terapi dan tingkat pengendalian hipertensi. Selain itu, dibandingkan pengukuran ambulatory blood pressure yang hanya bertahan 24 jam, CERAMAH bisa mengukur dan mendeteksi tren tekanan darah dari hari ke hari.

CERAMAH juga menunjukkan penilaian dan pengawasan variabilitas tekanan darah (VTD) yang bisa memprediksikan insiden stroke lebih baik, dibandingkan penilaian risiko kardiovaskular secara konvensional dan pengukuran tekanan darah di klinik.  (GUS-R)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px