Logo
Print this page

Restorasi Kota Medan Menuju Tanah Deli Baru


Actio recta non erit, nisi recta fuerit voluntas (Tindakan yang benar tidak akan muncul tanpa adanya kehendak yang benar); Adalah Seneca, Filsuf Roma terkenal pada abad 4 SM-63 Masehi yang mempopulerkan Adagium ini. “tindakan yang benar hendaknya berasal dari kehendak yang benar”.dengan bahasa lain: “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat) Niat baik untuk memulihkan (Restorasi) Tanah Deli/Kota Medan menuju Kota baru yang lebih bermartabat perlu ditanamkan pada Masyarakat dan Pemerintah di kota Medan.

Mengingat Kota Medan telah memasuki usia ke-428. Meski dinilai cukup maju di segala lini, kota ini masih banyak menyimpan masalah yang harus segera diselesaikan. Masalah itu adalah: 1).Jalan Rusak. 2).Sampah. 3).Banjir. 4). Begal. 5).Narkoba 6).Kemacetan.

1. JALAN RUSAK.

Medan ternyata belum mampu menyelesaikan masalah dasar, pemerataan pembangunan. Di banyak tempat jalan umum masih kupak-kapik, yang kemudian dijuluki warga "Medan Kota Sejuta Lubang". Pengamatan penulis di lapangan, beberapa ruas jalan yang kondisinya cukup parah antara lain Jalan Sutomo, Jalan Bukit Barisan, Jalan Mapilindo, Jalan Mesjid Taufik, Jalan Mustafa Jalan Amir Hamzah, Jalan Pintu Air IV, Jalan Asia, Jalan Panglima Denai, Jalan Selamat, Jalan Menteng.dan ruas jalan lainnya di inti Kota Medan.

Menurut penulis konstruksi yang baik merupakan solusi tepat dalam mengatasi kerusakan jalan di kota Medan . Karena konstruksi merupakan dasar dalam membuat sebuah bangunan, salah satunya jalan. Solusi tersebut diharapkan dapat efektif dalam menangani kerusakan jalan Pemerintah bisa dituntut akibat dari jalan yang rusak.

Berdasarkan undang-undang lalu lintas (UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan) berisi pasal UU yang memungkinkan setiap pengguna jalan raya negara, jalan propinsi, jalan kabupaten, jalan kota bisa menuntut pemerintah untuk mengganti rugi atas kecelakaan yang dialami oleh setiap warga Negara Indonesia. 

Artinya, penyelenggara jalan adalah pemerintah (pusat dan daerah) mengingat pentingnya keberadaan jalan untuk lalulintas, dalam hal ini yang dimaksud bertanggung jawab atas segala kemungkinan kecelakaan dan kerugian masyarakat adalah Menteri PU, Gubernur, Walikota dan Bupati. Membaca UU tersebut, betapa pentingnya sarana dan prasarana lalu-lintas yang baik berkualitas serta mulus bagi masyarakat dan untuk mendukung kemajuan pembangunan serta integrasi nasional dan keberhasilan Pembangunan ekonomi, memajukan kesejahteraan umum dan pengembangan wilayah Jadi, dengan diberlakukannya UU tersebut betapa pentingnya keberadaan sarana dan prasana yang ada, salah satunya jalan. Dengan begitu, masyarakat bisa menuntut pemerintah bila mana mengalami kecelakaan akibat jalan yang rusak. Ingat kata Presiden Jokowi mengenai jalan Rusak di Kota Medan: “Segera dikerjakan kalau enggak dikerjakan, saya duluan yang kerjakan itu nanti. Bener itu. Itu tugasnya Wali kota,".

2. SAMPAH

Luar biasa sampah di Kota Medan .Jumlahnya meningkat dari 1300 ton dan kini mencapai 1700 ton per hari. Seluruh sampah yang dikutip dari 21 kecamatan di Kota Medan itu di buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Sampah yang tidak terangkut dibiarkan di pinggir jalan: Solusi sampah di Kota Medan bisa diatasi antara lain dengan cara:

  • Mengubah kultur dan paradigma terhadap sampah dan berusaha menerapkan 3 R hierarki sampah yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle.
  • Menyiapkan APBD untuk persiapan menuju pengelolaan sampah dengan pendekatan teknologi terbarukan.
  • Penambahan armada angkutan yang saat ini sudah beroperasi rutin dari pukul 06.30-08.00 WIB, 13.00-18.00 dan pukul 19.00. Moda angkutan sampah terdiri dari becak sampah/gerobak sampah, tipper truk, arm roll, compactor, road sweeper, alat berat pemaparan sampah, bulldozer, whell loader, excavator, bob cat.
  • Dimulai dari sendiri dan khususnya dari rumah dengan cara belajar memilah-milah sampah jenis organik-non organik. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan pemerintah nomor 81 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga, Peraturan menteri lingkungan hidup nomor 13 tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan reduce, reuse dan recycle melalui bank sampah. Bahkan Peraturan Daerah kota medan nomor 6 tahun 2015 tentang pengelolaan sampah, di internal instansi terkait saja mungkin masih banyak yang belum membaca, konon lagi memaknai kitab sakti tersebut, lalu bagaimana lagi masyarat luas.

3. MASALAH BANJIR.

Penyebab banjir yang menggenangi sejumlah ruas kota Medan diduga karena rusaknya sistem drainase sehingga tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Hal ini seharusnya menjadi PR bagi pemerintah untuk segera memperbaiki dan meningkatkan sistem drainase yang ada di kota Medan. namun, menurut Dinas Binamarga, permasalahan banjir tidak hanya karena drainase tetapi perbaikan sistem dan kesadaran menjaga lingkungan masih lemah. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan tidak menjaga kelestarian lingkungan.

Untuk Mengatasi banjir di kota Medan perlu dilakukan gerakan penghijauan kawasan perkotaan (Ruang Terbuka Hijau) mengingat banjir yang kian “menggila” di kota Medan. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 1 tahun 2007 pada bab 1 pasal 1 ayat 2 yang menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. RTH penulis kira dapat menjadi solusi alternatif untuk penanganan banjir yang selalu terjadi.

Boleh kita runut kembali, kita bisa menghitung dengan jari RTH yang ada di kota Medan, misalnya saja Taman Teladan, Taman Beringin, Taman Ahmad Yani, benar-benar sangat minim dan taman-taman tersebut belum dikelola secara maksimal Jika dilihat dari fungsinya, RTH mampu menjadi solusi alternatif untuk meminimalisir banjir yang ada di kota Medan. Dalam pemilihan pohon yang bakal ditanam di RTH juga harus diperhatikan dan dikaji, misalnya saja pohon Pohon trembesi atau disebut juga pohon kihujan (Samanea saman) merupakan salah satu pohon penghijauan terbaik.

Pertumbuhannya cepat, batangnya besar, kuat dan bentangan kanopinya lebar dan mampu menyerap 28 ton Co2 pertahunnya, mampu menyimpan 900 meter kubik air juga menyalurkan 4000 liter perhari Pohon mahoni (Swietenia sp) sangat cocok untuk penghijauan di sekolah, jalan raya atau lingkungan, karena memiliki kemampuan ilterisasi udara mahoni juga cukup di-acungi jempol, pohon mahoni bisa menyerap 47 - 69 % polusi.Selain RTH,Pemko medan perlu terus memaksimalkan drainase/parit yang ada di kota medan. Penggalian dan pemasangan gorong-gorong dilakukan di banyak titik.

Penulis juga melihat parit-parit banyak yang diremajakan dan dibersihkan. Tak hanya dilakukan di jalan utama, di gang dan jalan di pemukiman masyarakat juga dilakukan. Kembali muncul pertanyaan, mengapa banjir masih terjadi. Penulis melihat, pembenahan yang dilakukan tidak disertai pemetaan aliran air. Jadi parit yang dibersihkan dan diremajakan, penggalian dan pemasangan gorong-gorong, tak jelas pangkalnya dan akhirnya dimana. Ketika hu¬jan, air akan mondar-mandir di sekitar parit, sampai akhirnya parit tak sanggup lagi menahan banyaknya air, dan akhirnya meluap.

Seyogianya ada aliran yang jelas. Jadi air diarahkan dan di-alirkan ke tempat penampungan yang lebih besar, misalnya sungai. Saluran seperti parit dibuat terintegrasi atau terhubung. Ada hulu dan hilir. Jangan hanya dibangun, diperlebar, dan diperdalam, ketika ditelusuri, bukannya jumpa sungai, malah buntu. Apabila demikian, sampai kapanpun banjir tak akan terselesaikan.

4. BEGAL

Bicara tentang begal, perampokan dan penjambretan tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Kota Medan . Saban hari, pasti ada saja kejadian serupa yang menimpa masyarakat dimana pun berada. Begal semakin merajarela di Kota Medan, bukan hanya di malam hari dan pada lokasi sepi nan gelap gulita saja, namun begal di Medan saat ini tanpa takut beraksi siang hari di pusat kota yang ramai aktivitas. Aksi begal dan maraknya perampokan di Sumatera Utara khususnya Kota Medan harus segera diberantas, sebab jika dibiarkan berlarut-larut dapat mengganggu kegiatan investasi dan laju perekonomian.

Selama periode Januari sampai September 2017 tercatat 77 kasus begal di kota medan,8 orang korban tewas. Tahun 2018 Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Medan meringkus 72 pelaku kejahatan di berbagai lokasi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto, menegaskan, kasus yang dilakukan puluhan tersangka itu meliputi, begal, jambret, pencurian disertai kekerasan. Menurut survei satu lembaga, tingkat kriminalitas di Kota Medan sangat tinggi, bahkan kota ini disebut paling tak aman di negeri ini, mengalahkan Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, dan kota lainnya.

Para begal seolah tidak jera meski Kapolda Sumut Irjen Paulus Waterpauw sudah turun tangan menginstruksikan kepolisian di daerah ini untuk melakukan tindakan tegas terukur dalam memberantas para begal. pengamat hukum Redyanto Sidi mengatakan ada dua faktor penyebab dan sekaligus menjadi tugas bagi pihak kepolisian untuk menciptakan kembali rasa aman dan nyaman. Dia mengemukakan, polisi harus meningkatkan kegiatan pemberantasan begal sekaligus menekan peredaran narkoba dengan segera menangkap para bandar pengedarnya.

"Itu sebabnya kita sangat mendukung tindakan Kapolda yang mengaktifkan kembali Tim Anti Begal, dengan begitu Sumatera Utara kembali aman sehingga kegiatan perekonomian meningkat," kata Redyanto.

5.PENYALAHGUNAAN NARKOBA .

Penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Kota Medan akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Hampir semua kalangan merupakan sasarannya. Terutama remaja dan anak muda. Narkoba termasuk kejahatan luar biasa (ekstra ordenary crime) yang sangat merusak fisik maupun mental generasi penerus bangsa. Dalam hal ini perlu perhatian yang sangat serius untuk memerangi dengan melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan. Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Dalam kepentingan positif dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau pengobatan yang sesuai dengan standar-standar ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam sisi negatif, narkoba sangat berbahaya bila disalahgunakan. Beberapa dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba:

  • Menyebabkan ketergantungan.
  • Merusak sistem syaraf pusat pada otak yang berakibat pada terganggunya neurotransmitter, fungsi kognitif dan psikomotorik.
  • Memicu kejang.
  • Menganggu kesadaran (neurologis).
  • Menyebabkan halusinasi.
  • Menganggu kesehatan organ-organ tubuh lainnya, seperti ginjal, jantung, hati, paru-paru dan pancreas.
  • Menyebabkan despresi dan ketakutan berlebihan.
  • Menganggu hubungan sosial. Biasanya pengguna narkoba cenderung mengurung dirinya.
  • Penampilan jadi tampak berantakan, kurus dan kulit jadi kusam.
  • Memicu perbuatan criminal.
  • Pemakaian dalam jangka panjang dapat menimbulkan sakaw bahkan kematian.

Hukum penggunaan narkoba dalam pandangan Islam sebenarnya telah dijelaskan sejak lama. Tepatnya pada 10 Februari 1976, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa penyalahgunaan dan peredaran narkoba hukumnya bersifat haram. Keputusan tersebut tentu didasari atas dalil-dalil agama yang bersumber dari Al-quran dan hadist. Menurut ulama, narkoba adalah sesuatu yang bersifat mukhoddirot (mematikan rasa) dan mufattirot (membuat lemah). Selain itu, narkoba juga merusak kesehatan jasmani, mengganggu mental bahkan mengancam nyawa. Maka itu, hukum penggunaan narkoba diharamkan dalam islam.

Menurut data Badan Narkotika Nasional Indonesia (BNN) Provinsi Sumatera Utara, Brigjen Pol. Andy Loedianto mengungkapkan Sumatera Utara merupakan nomor satu urutan peredaran narkoba di Indonesia. Sedangkan Kota Medan berada di urutan ketiga dari seluruh kota di Indonesia dan termasuk zona merah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya narkoba yang berhasil ditemukan diberbagai lokasi di Kota Medan.

Peredaran barang narkoba ini juga sudah berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand dan Tiongkok. Ini diakibatkan sangat mudahnya masuk ke Sumatera Utara terutama ke Kota Medan. Selain itu ini bisa diketahui melalui pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di sekitar pantai. Ada sekitar 30 pelabuhan kecil yang ada di pesisir Selat Malaka dan sangat berpotensi jalur masuk narkoba.

Kota Medan dengan kemajemukan masyarakat yang ada merupakan jalan masuk yang sangat mudah untuk peredaran narkoba. Biasanya narkoba yang masuk ke Kota Medan berasal dari mafia dan menjadikan Kota Medan sebagai tempat surganya narkoba. Penyebaran narkoba akan selalu ada dengan pergerakan Kota Medan yang semakin hari semakin membangun. Pembangunan menuju Kota Metropolitan akan membuat kejahatan ini akan selalu berkembang. Melalui jaringan-jaringan yang tersusun rapi oleh mafia-mafia narkoba.

Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa titik-titik wilayah yang rawan peredaran. Terutama daerah pemukiman yang ramai dan kumuh. Daerah seperti ini adalah tempat yang strategis untuk penyebaran narkoba. Tak hanya itu banyak juga membuatnya sebagai surganya narkoba di Kota Medan. Sebut saja seperti Kampung Kubur atau sekarang disebut Kampung Madras yang masih maraknya peredaran narkoba. Tak hanya itu, beberapa wilayah seperti Helvetia dan Pinang Baris juga termasuk kedalam daerah yang sering dilakukan penggrebekan narkoba.

Dari kegiatan tangkap tangan yang dilakukan, sejak tahun 2013 hingga awal 2017 kenaikan penyebaran narkoba sangat signifikan. Kota Medan kini sudah mengalahkan Kota Surabaya dan berada tepat dibawah setelah Kota Jakarta. Peningkatan ini juga dibuktikan sejak periode ini hampir 20 persen terjadi kenaikan penyebaran narkoba yang sangat signifikan di Kota Medan. Kenaikan itu dirangkum berdasarkan jumlah kasus dan tersangka yang diamankan jajaran sejak tahun 2013 hingga saat ini. Aktifitas narkoba diduga di kendalikan mafia-mafia internasional yang masuk melalui importir.

Jaringan sudah tersusun rapi dan sangat sulit untuk terungkap pembuktiannya. Beberapa pemasok barang biasanya masuk dari Provinsi Aceh dan Riau. Hal ini berkaitan dengan bos importir wilayah Sumatera. Wilayah pesisir yang penuh dengan pelabuhan kecil sangat jarang untuk dipantau. Hal ini diperparah dengan banyaknya cara yang dilakukan untuk bisa memuluskan barang agar sampai ke tujuan. Cara yang dipakai bermacam-macam.

Mulai dari menyembunyikan narkoba di dalam produk jualan dan bahkan ada yang langsung membawa di dalam tas atau barang bawaan. Jaringan bandar narkoba ini tidak hanya satu atau dua. Dari beberapa penelitian ada puluhan bahkan ratusan yang masih menjalankan bisnis narkoba terutama di Kota Medan. Buntunya pemberantasan yang hanya dilakukan terhadap penyebar bukan bandar langsung mempersulit penanganan narkoba di Kota Medan. Dari beberapa razia tangkap tangan yang dilakukan pihak kepolisian bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Indonesia (BNN), penggrebekan hanya sampai pada kurir. Beberapa dari mereka hanya menjadi suruhan dari para bandar narkoba yang bekerja di belakang layar.

Jejak narkoba di Kota Medan sebenarnya sangat mudah ditelusuri. Banyak tempat-tempat yang memang digunakan para pengedar untuk menjual narkoba langsung ke para konsumen. Tempat-tempat prostitusi malam dan perumahan yang sangat padat penduduknya termasuk ke dalamnya. Selain itu rumah kontrakan dan kost-kostan juga tempat yang paling sering ditemukan barang narkoba. Jaringan bandar yang memanfaatkan situasi hiburan malam dan labilnya anak muda merupakan salah satu contoh.

Penyebaran dilakukan dari orang ke orang yang berada di satu wilayah atau berdekatan rumahnya. Ini teridentifikasi dimana penyebaran narkoba ini sudah masuk ke dalam lapisan masyarakat yang dimana melibatkan anak muda dan remaja yang masih sekolah. Setelah sekian banyak permasalahan narkoba yang terjadi di Kota Medan, perlu penanganan yang bersifat preventif yang bisa dilakukan. Pencegahan yang sangat berguna untuk ke depannya. Untuk itu masyarakat Kota Medan harus dilibatkan dalam mengatasi masalah narkoba ini. Melalui pendidikan dan pengetahuan yang bisa di mengerti sangat mungkin masyarakat dapat memberikan solusi.

Selama ini banyak masyarakat yang tidak peduli akan semakin maraknya perkembangan narkoba. Jaringan-jaringan narkoba yang terkoordinasi secara baik sangat sulit untuk diberantas. Perlu adanya penanganan khusus yang tak hanya bersifat sebelah pihak. Revolusi mental yang saat ini dikobarkan pemerintah perlu untuk ditingkatkan. Pemahaman akan bahaya narkoba penting ditanamkan. Masyarakat tidak buta dengan narkoba dan tahu bagaimana mengatasi apabila terjadi di lingkungan-nya. Dimana bila ada peredaran narkoba di lingkungan, masyarakat bisa mengetahui dan melapor langsung ke pihak yang berwajib. Tujuannya agar keresahan-keresahan mengenai penyebaran ini tidak sampai mengancam generasi muda kedepannya.

6. MASALAH KEMACETAN.

Jamaknya sebuah kota Metropolitan, masalah kemacetan terus menghantui di kota Medan. Kemacetan lalulintas (congestion) terjadi karena ruas jalan di kota Medan sudah mulai tidak mampu menerima/melewatkan luapan arus kendaraan yang datang secara lancar. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh hambatan/gangguan samping (side friction) yang tinggi sehingga mengakibatkan penyempitan ruas jalan,seperti:Parkir di badan jalan, berjualan/pasar di trotoar dan badan jalan, pangkalan becak dan angkot,kegiatan social yang menggunakan badan jalan, (pesta/kematian).Selain itu,kemacetan juga sering terjadi akibat manajemen persimpangan (dengan/tanpa lampu) yang kurang tepat, ditambah lagi tingginya aksesibilitas ke guna lahan(land use) di sekitar sisi jalan tersebut. Hal ini tentu saja harus dicari solusinya.Solusi mengurangi kemacetan lalu lintas yang terjadi di Kota Medan, yaitu : 

  1. Pembatasan jumlah kendaraan Tanpa adanya batasan, maka jumlah kendaraan terus bertambah. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pemerintah mengenai pembatasan kendaraan dengan pertimbangan idealitas antara jumlah kendaraan dengan jumlah penduduk serta kapasitas sarana dan prasarana jalan raya yang ada. 
  2. Penyediaan angkutan umum massal Penyediaan angkutan umum massal yang aman, nyaman, tepat waktu serta terintegrasi satu sama lainnya memberikan peluang bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan biaya yang terjangkau dan aksesibilitas yang tinggi serta dampak lingkungan yang minimal. Pelayanan yang baik akan mendorong masyarakat pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah ke transportasi angkutan umum massal. 
  3. Pelebaran jalan Kemacetan yang terjadi di Kota Medan semakin parah dari tahun ke tahun, hal ini merupakan masalah serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah seperti pelebaran dan perbaikan jalan serta pembangunan simpang tak sebidang baik 
    flyover maupun underpass
  4. Penghapusan parkir badan jalan Sering sekali ditemui kendaraan roda empat yang parkir di badan jalan sehingga menurunkan kapasitas ruas jalan dan menimbulkan kemacetan. Oleh karena itu, diperlukan penghapusan parkir badan jalan pada jalan-jalan tertentu dan memindahkannya ke lokasi gedung parkir. 
  5. Penertiban manajemen dan rekayasa lalu lintas Untuk mengurangi kemacetan diperlukan penertiban sistem satu arah (SSA), larangan belok kanan pada persimpangan-persimpangan yang volume lalu lintasnya sudah jenuh, dan optimalisasi traffic light.
  6. Gerakan sadar hukum berlalu lintas Gerakan sadar hukum perlu disosialisasikan kepada masyarakat (para supir angkutan umum, becak dan pemilik kendaraan pribadi) secara terus menerus. Betapa pentingnya etika dan sopan santun berlalu lintas, disiplin dan budaya antri serta penegakan hukum menjadi salah satu alternatif ataupun upaya preventif mengurai kemacetan lalu lintas. Menurut Penulis,Dalam menyelesaikan permasalahan ini kita tidak hanya bisa bergantung pada pemerintah, dan hanya menyalahkan pemerintah saja. Dalam kesuksesan suatu negara menurut teori governance terdapat 3 aktor yang berperan. Yaitu pemerintah, privat(swasta), serta masyarakat. Menurut Salomo (2002), birokrasi dituntut agar mempunyai karakter bersih, terbuka, akuntabel responsif, berorientasi pada kepentingan msyarakat dan mendorong partisipasi masyarakat dalam bagi keterlibatan dalam proses pembuatan, pelaksanaan dan kontrol kebijakan. Dunia usaha dituntut adanya keterbukaan, akuntabilitas, moralitas tinggi, sosial responsibility, dan patuh terhadap undang-undang yang berlaku. Masyarakat yang dituntut kuat, berani menyatakan pendapatnya, berkualitas tinggi, serta partisipatif terhadap berbagai proses yang dilakukan baik oleh birokrasi maupun dunia usaha. Dengan adanya peran-peran ketiga aktor ini diharapkan bisa menyelesaikan masalah yang ada terutama enam permasalahan utama Kota Medan.

Jika enam Permasalahan utama Kota Medan ini terestorasi dengan baik, upaya bersama untuk menjadikan Kota Medan menjadi Tanah Deli baru yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman) akan segera tercapai. Dan Pepatah melayu “Dayung sudah di tangan, perahu sudah di air” bukan mimpi di siang hari.Semoga!! 


(Penulis adalah Advocat, Caleg DPRD Kota Medan 2019-2024)

 

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
Info Pemasangan Iklan Online

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com