Log in

Lawan Corona, Social Distancing dan Tradisi “Rebu” Ala Karo

Bupati Karo, Terkelin Brahmana, melalui ruang Karo Command Centre terus memonitor setiap perkembangan di seluruh Kabupaten Karo. Bupati Karo, Terkelin Brahmana, melalui ruang Karo Command Centre terus memonitor setiap perkembangan di seluruh Kabupaten Karo.

Oleh Robert Tarigan, SH Wartawan Harian Andalas

Wabah (Pandemi) virus corona melanda dunia, khususnya Indonesia telah mengubah banyak hal dalam relasi sosial dan kebiasaan masyarakat. Salah satunya seperti dirasakan masyarakat Kabupaten Karo. Kebiasaan mereka yang suka berkumpul dan cara mereka berinteraksi pun mulai berubah total. Termasuk dalam keseharian dan momen pesta adat.

Bersalaman merupakan tradisi budaya pun mulai dihilangkan. Saling jabat tangan menurut sebuah sumber, diketahui berawal dari teks dan lukisan kuno sekitar abad ke- 5 Sebelum Masehi (SM) ditemukan para arkeolog. Coba bayangkan betapa dahsyatnya dampak virus corona, sebuah kebiasaan diawali sejak abad ke 5 SM, tiba-tiba harus dihilangkan, agar virus mematikan ini tidak menjangkiti satu sama lain.

Perkembangan terkini, Pemkab Karo sudah melarang warganya menggelar pesta adat perkawinan. Segala kegiatan bersifat keramaian harus ditunda. Hal itu juga diikuti oleh seluruh kepala desa. Sebuah tradisi baru terjadi sejak negara ini ada.

Bahkan gereja terbesar di Kabupaten Karo, GBKP meniadakan kebaktian ibadah pada hari minggu. Ibadah mulai menggunakan kebaktian secara on line. Menggunakan tekhnologi informasi. Sebuah inovasi disaat refolusi industri 4.0 menjamah segala lini kehidupan manusia, yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai dari penyebaran cepat virus corona serta mematuhi himbauan pemerintah menjauh dari keramaian.

Begitu juga tradisi budaya Kerja Tahun pada suku Karo sudah turun temurun digelar, sejak ratusan tahun lalu, kini ditunda sementara waktu mengingat wabah ini semakin ganas.

Sebuah kebijakan arif, bijak dan cerdas selaras dengan imbauan pemerintah. Semua pihak digugah kesadarannya betapa pentingnya pembuatan aturan-aturan baru yang adaptif terhadap situasi serba genting sekarang ini.

Penulis teringat kisah Contagion, sangat mirip dengan penyebaran virus corona yang saat ini dihadapi oleh dunia. Dirilis pada tahun 2011, film ini terinsipirasi dari pandemi wabah virus SARS 2002-2004 dan pandemic flu 2009. Perlombaan melawan waktu dimulai, ketika virus menyebar dalam perkembangan geometris, dan jika tidak ada solusi yang ditemukan, dengan sangat cepat umat manusia akan berhenti.

Kini, kisah serupa sedang nyata dialami dunia, bukan lagi dalam dalam film, namun dalam kisah nyata dan benar-benar sedang terjadi. Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat telah direspons oleh pemerintah di berbagai tingkatan untuk membatasi aktivitas yang melibatkan banyak orang. Dalam situasi siaga darurat ini, memaksa ‘lahirnya’ kreatifitas baru, mengubah kebiasaan lama menghadapi situasi serba membingungkan ditengah ketidaksiapan menghadapinya.

Tradisi Rebu sebuah pencerahan berbasis kearifan lokal, suatu pantangan dalam adat istiadat suku Karo, yakni, dilarang berbicara langsung antara mertua wanita dengan kela (menantu pria). Juga antara bengkila (mertua pria) dengan menantu wanita. Tak hanya berbicara langsung. Juga dilarang bersentuhan anggota badan. Duduk berhadap-hadapan dan duduk pada sehelai tikar/kursi.

Ini adalah unsur mendidik (edukasi) dari adat Karo yang bernuasa pengendalian sosial yang bersifat preventif. Sebuah tatanan adat yang diwariskan leluhur Karo yang sangat relevan diaplikasikan di era kekinian ditengah ganasnya gempuran wabah corona yang mematikan mirip kisah film Contagion yang terinspirasi dari berbagai pandemi yang terjadi seperti epidemi SARS di tahun 2003 dan pandemi flu tahun di tahun 2009. Sebuah narasi film yang dipuji para ilmuwan, mereka mengakui akurasinya. Film ini juga kembali mengingatkan kita tentang virus Ebola yang telah membunuh 11.000 orang di seluruh dunia pada 2014.

Bila tidak segera ditemukan obatnya oleh para ahli dan ilmuan, bukan tidak mungkin penyebaran virus Covid 19 ini layaknya skenario dalam film bertema wabah penyakit.  Untuk itu, penulis menyarankan konsep Rebu dalam tatanan adat masyarakat Karo relevan sebagai ‘benteng’ menjaga diri. Pengertian rebu dalam bahasa Karo adalah sesuatu yang dianggap suci berkaitan dengan sopan santun, larangan, pantangan, tidak bebas atau sesuatu yang dibatasi. Dengan kata lain, rebu merupakan etika dalam ukuran maupun pedoman bertingkah laku yang mengatur baik buruknya tindakan seseorang dalam masyarkat adat Karo.

Jika pun hendak berkomunikasi juga, maka si menantu berbicara menghadap ke dinding. Tidak kontak mata, dan sudah pasti dalam jarak yang berjauhan. Konsep dan maha karya warisan leluhur itu, bila ditarik dan “dimodifikasi” terhadap pencegahan virus corona yang semakin meluas, bisa diartikan semacam social distancing (menjaga jarak) yang kini dianjurkan untuk menghindari kemungkinan penularan virus corona.

Social distancing yang juga disebut physical distancing akan semakin efektif jika orang mengurangi bepergian, keluar rumah atau keluar kota. Memang dilematis juga bagi mereka yang mengharuskan diri keluar rumah. Misalnya, bagi pedagang di pasar, buruh pabrik, sopir angkot dan sebagainya. Karena ini baru pertama terjadi, sepertinya kita belum siap, tapi suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap harus menyesuaikan diri. Dibutuhkan kreatifitas menghadapi situasi serba darurat ditengah ketidaksiapan menghadapinya.

Melalui perilaku seperti ini, mengingatkan betapa pentingnya prinsip sosial distancing (menjaga jarak) yang kini dianjurkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah untuk menghindari kemungkinan penularan virus corona, dalam cara hidup berkerabat dan bermasyarakat. Maka bisa disimpulkan, melalui  Rebu, orang akan mampu mengkontrol perbuatan dirinya sendiri.  Rebu melahirkan  mehangke (enggan), dari enggan melahirkan rasa hormat. Hormat menimbulkan sopan santun. Dari tatanan tradisi ini bisa menyelamatkan manusia dari ancaman Covid 19.

Lebih diperluas lagi, physical distancing atau “Rebu ala Karo”, sebagai sebuah bentuk untuk menjauhi dari segala perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, hingga menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang sangat dibutuhkan.

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px