Log in

Latipa Henim Perempuan Hebat Pekerja Tambang: "Kalau Mampu Kenapa Tidak"

Teks foto:Perempuan Hebat Latipa Henim Siregar, salah satu  perempuan hebat  yang sampai saat ini terus berkarya dan mengabdi di Perusahaan Tambang Emas Martabe, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.(Andalas/Ist) Teks foto:Perempuan Hebat Latipa Henim Siregar, salah satu  perempuan hebat  yang sampai saat ini terus berkarya dan mengabdi di Perusahaan Tambang Emas Martabe, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.(Andalas/Ist)

Medan-Andalas Meski kini kesempatan perempuan untuk bekerja sudah sama besarnya dengan pria, masih banyak lahan-lahan pekerjaan yang diidentikkan dengan kaum pria. Bila bukan menjadi minoritas, perempuan yang kerja di sana sering dianggap tak layak. Begitupun yang namanya rejeki memang harus dicari berbekal semangat dan usaha yang tak pernah surut.

Seperti kisah Latipa Henim Siregar, salah satu  perempuan hebat  yang sampai saat ini terus berkarya dan mengabdi di Perusahaan Tambang Emas Martabe, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.Perempuan yang kini menjabat sebagai Senior Geologist di Departemen Mine Geo ini lebih dari 10 tahun bekerja di  perusahaan yang dikelola oleh PT Agincourt Resources (PT AR) ini.

"Kalau mampu kenapa tidak.Saya tak pernah merasa rendah diri sebab semuanya punya kesempatan di Tambang Emas Martabe asalkan punya nyali dan kemauan untuk menjadi diri sendiri,"kata Latipa Henim kepada para jurnalis belum lama ini.

Lahir di Batang Toru, Latipa bergabung dengan Tambang Emas Martabe sejak April 2004 sebagai Junior Geologist di Departemen Eksplorasi.

Saat itu Latipa bertanggung jawab mengambil data batuan hasil pengeboran, mengambil contoh batuan dan mengirimnya ke laboratorium untuk dianalisis kadar emas dan peraknya serta melakukan pemetaan jenis batuan dan ubahan, juga mineralisasi di lapangan.

"Ketika di eksplorasi pekerjaan saya mencari sumber daya atau mencari cadangan yang sudah ditambang.Dulu Martabe masih hutan sekali, jadi ini tugas kita melakukan pengeboran, pengiriman sampel, menganalisa di laboratorium, melakukan penghitungan hingga data dianggap cukup untuk dilakukan penambangan," kata Latipa.

Sehari-harinya Latipa mengaku bertanggung jawab terhadap operasional Tambang Emas Martabe yakni mengontrol data geologi yang akan digunakan oleh Departemen Penambangan.

"Saya dan tim selalu bekerja sama dengan Departemen Penambangan agar proses penambangan sesuai dengan perencanaan baik secara tonase maupun kadarnya,“ jelas perempuan lulusan Jurusan Geologi UPN Veteran Yogyakarta ini.

Bagi Latipa,  bekerja di Tambang Emas Martabe adalah sesuatu yang menarik dan menantang.Sebagal orang lokal ia merasa bangga bisa memberikan kontribusi membangun Tambang Emas Martabe. Apalagi, perusahaan juga memiliki program yang mengutamakan karyawan perempuan untuk tampil maju setara dengan laki-laki dalam karier.

"Bekerja di Tambang Emas Martabe adalah sesuatu yang menarik dan menantang.Sebagal orang lokal ia merasa bangga bisa memberikan kontribusi membangun Tambang Emas Martabe,"ungkap ibu dari 2 anak ini.

Menurutnya, komitmen Tambang Emas Martabe untuk selalu meningkatkan kapasitas karyawan lokal dan perempuan memungkinkan dirinya berkarier lebih tinggi dan menjabat sebagal Geologist, Project Geologist dan Senior Resources Modelling.Akhirnya pada Januari 2016, peluang itupun menghampiri Latipa yang dipercaya untuk menjadi Senior Geologist Mine Grade Control di Departemen Mine Geo.

"Kalau suka duka bekerja di dunia pertambangan pasti ada ya.Tapi Alhamduliah dengan suport keluarga, suami dan anak-anak pekerjaan di tambang yang sedikit keras dan menantang sampai hari ini tidak menjadi masalah,"tutur ibu dari 2 anak ini.

Kesetaraan Gender

Sebelumnya, Direktur PT Agincourt Resources, Linda Siahaan menyatakan, kesetaraan gender menjadi salah satu fokus PT AR selaku pengelola Tambang Emas Martabe dalam menjalankan operasional tambang. Tahun 2019 pihakya menargetkan 25% dari jumlah seluruh karyawan adalah perempuan, termasuk 40% berada pada level superintendent dan manager.

"Kesetaraan gender menjadi komitmen kita karena sejalan dengan program pemerintah untuk terus memberdayakan perempuan.Pertumbuhan perusahaan kami juga harus sejalan dengan tumbuh produktifnya kaum perempuan," tutur  Linda dalam buka puasa bersama media beberapa waktu lalu.

Untuk itu sebut Linda, di Perusahaan Tambang Emas Martabe pihaknya tidak ingin karyawan perempuan mendominasi pekerjaan di bidang administrasi dan keuangan. Sejumlah pekerjaan yang selama ini didominasi oleh laki-laki seperti supir truk dan operator alat berat di dunia pertambangan juga telah  dilakukan oleh karyawan perempuan.

"Perempuan telah kita berdayakan untuk bisa ikut berperan dalam eksplorasi.Ini juga merupakan peluang bagi mereka,"ujarnya.

Linda merinci, hingga akhir Maret 2018, jumlah karyawan perempuan di Tambang Emas Martabe mencapai 163 orang dari total karyawan 795 orang atau 20,5%. Sedangkan jumlah keseluruhan karyawan perempuan dan kontraktor sebanyak  504 orang dari total 2.649 orang karyawan atau 19,03%.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33 persen menjadi 55,04 persen dari sebelumnya yaitu, 52,71 persen pada Februari 2016.Ini menggambarkan perempuan kini  semakin aktif mengambil bagian dalam mendukung perekonomian nasional dan memiliki kesempatan yang sama di bidang pekerjaan.

Kepala Badan Pusat Statistik Sumut DR. Syech Suhaimi mengatakan, seiring berjalannya waktu, perbedaan jenis kelamin sebagai dasar pembedaan pembagian kerja sudah mulai hilang. Dewasa ini banyak perempuan yang sudah mulai dapat menunjukkan kemampuan dan perannnya di sektor publik, terutama di sektor ekonomi.

Bahkan kata dia, kini mereka (perempuan red) sudah bisa mensejajarkan kedudukannya dengan para pria. Perempuan diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki, terlihat pada peran perempuan di jabatan-jabatan perusahaan, lembaga eksekutif, legislatif dan  yudikatif.

Peran Ganda

Syech Suhaimi menyatakan, terlepas dari persamaan kesempatan yang diberikan perempuan pada masa sekarang, peran seorang perempuan di sektor domestik tetap tidak dapat ditinggalkan. Hal tersebut menimbulkan peran ganda yang harus dilakoni seorang perempuan, yaitu di sektor publik (pekerjaan) dan di sektor domestik (rumah).

"Dengan status peran ganda sedikit banyak menimbulkan dampak terhadap kehidupan perempuan itu sendiri, yaitu dampak positif dan sekaligus dampak negatif,"tuturnya kepada Andalas, Rabu (15/8).

Dampak positif yang terjadi kata dia, adalah terbantunya perekonomian rumah tangga, selain juga sebagai pembuktian bagi perempuan itu sendiri bahwa dia mampu menunjukkan eksistensinya di sektor publik. Idealisme seorang perempuan juga dapat tersalurkan dengan menjalani perannya di sektor publik.

Sebaliknya, dampak negatif yang mungkin terjadi adalah adanya konflik antara peran pekerjaan dan peran keluarga, tuntutan adanya waktu dan tenaga ekstra, adanya persaingan (yang mungkin tidak diakui) antara suami dan isteri, dan jika keluarga itu mempunyai anak-anak, perhatian terhadap anak menjadi lebih berkurang.(Siong)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 21 Sep 2018 28°C 23°C
  • 22 Sep 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px