Log in

Konsumsi Gorengan Berlebih, Waspada Serangan Jantung


Buka puasa dengan gorengan memang menjadi menu wajib bagi sebagian besar masyarakat di Tanah Air. Tetapi, asupan gorengan yang terlalu banyak, bisa memicu masalah serius. Salah satunya, serangan jantung.

Mengonsumsi gorengan setiap hari selama berbuka puasa bisa menimbulkan kolesterol jahat di aliran darah. Semakin meningkatnya kolesterol jahat tersebut, risiko serangan jantung mudah menyerang.

"Kalau makan gorengan setiap hari, LDL kolesterol naik, radikal bebas juga mudah masuk ke tubuh, ini berisiko serangan jantung," ujar Spesialis Gizi Klinis, DR dr Samuel Oetoro, MS,SpGK(K), Rabu 8 Mei 2019.

Tak hanya itu, meningkatnya radikal bebas di tubuh juga berdampak pada risiko kanker. Bahkan, bahaya obesitas juga rentan hadir akibat tingginya kalori yang masuk ke tubuh.

"Makan gorengan setiap hari, membuat kalori tinggi masuk ke tubuh karena kadar minyaknya yang sangat banyak. Dalam 1 gram minyak terdapat 9 kalori yang memicu bahaya obesitas," kata dia.

Maka dari itu, dokter Samuel menyarankan agar mengkonsumsi gorengan dilakukan maksimal selama dua kali dalam satu minggu. Selain itu, hindari langsung mengonsumsi gorengan setelah berbuka puasa.

"Saat buka, usahakan minum air putih dulu dengan dua kurma. Lalu boleh makan gorengan tapi pilih gorengan yang tidak digoreng sampai bahan makanannya tercelup. Bisa juga diperas-peras sedikit sebelum dimakan agar minyaknya keluar," paparnya.

Sembelit
Tak hanya itu, kebiasaan menyantap gorengan saat buka puasa bisa memicu masalah pada pencernaan, salah satunya sembelit. Gorengan sebenarnya mengandung sumber energi karena memiliki kadar minyak yang tinggi. Sayangnya, gorengan bukan asupan yang baik untuk berbuka puasa.

"Saat puasa, pencernaan di tubuh beristirahat selama 14 jam. Jika saat buka puasa langsung makan gorengan yang tinggi minyak, pencernaan harus langsung bekerja keras," ujar DR dr Samuel Oetoro, MS, SpGK(K).

Minyak yang dikonsumsi tubuh membutuhkan waktu sangat lama untuk dicerna dibanding sumber nutrisi lainnya. Kondisi ini yang membuat tubuh kesulitan beradaptasi.

"Karena proses pencernaan jadi lama, akhirnya memicu sembelit. Proses mencerna makanan membutuhkan aliran darah yang banyak, di mana saat puasa, aliran darah ke pencernaan sangat sedikit," ujar Samuel.

Ketika gorengan dikonsumsi, aliran darah akan mengalir deras ke arah pencernaan. Sehingga, tak hanya memicu sembelit, tubuh juga mudah merasa begah dan mual. "Aliran darah yang banyak setelah beristirahat panjang, membuat pencernaan mudah sembelit, begah, dan mual," ucapnya.

Konsumsi Semangka Berlebih
Buah semangka dikenal dengan kandungan air yang sangat tinggi dan cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Tetapi, asupan semangka yang berlebih dapat memicu masalah kesehatan, seperti penyakit jantung.

Semangka memiliki kandungan karbohidrat dalam jenis fruktosa. Kandungan tersebut ternyata dapat memicu terjadinya risiko penyakit jantung lebih tinggi.

"Kandungan fruktosa akan membuat trigliserid meningkat, sehingga risiko penyakit jantung juga meningkat," ujar spesialis gizi klinis dr. Christopher Andrian Sp.GK, Selasa 7 Mei 2019.

Tak hanya itu, asupan semangka berlebih juga berbahaya untuk pasien diabetest, karena mengandung gula yang tinggi. Bahkan, konsumsi semangka terlalu banyak juga dapat membuat terjadinya masalah pada pencernaan.

"Fruktosa di dalam semangka yang masuk ke usus besar akan membuat bakteri di usus memetabolismenya. Hal ini memicu timbulnya gas dan membuat pencernaan bermasalah," ucapnya.

Namun demikian, konsumsi semangka dapat mencegah kanker karena kandungan lycopene di dalamnya bersifat antioksodan dan membuat sel kanker sulit berkembang. Maka, disarankan agar membatasi asupan semangka untuk mendapatkan manfaat baiknya dan menghindari masalah yang ditimbulkan.

"Konsumsi sebanyak 1-2 potong saja dan di sela-sela makan atau sebagai snack. Selain itu, karena serat di semangka rendah, dianjurkan konsumsi semangka bersamaan dengan sayuran lain agar kebutuhan kadar serat tubuh terpenuhi," paparnya.

Bahaya Santan
Santan merupakan salah satu bahan makanan yang digunakan untuk memberi rasa lebih gurih dan nikmat. Namun, santan ternyata
mengandung kadar lemak jahat yang bisa memicu dampak buruk pada tubuh.

Di dalam santan terdapat kandungan lemak jenuh sebesar 10 persen. Terlebih, saat santan diolah dan dipanaskan di atas kompor, dapat memicu masalah kesehatan yang berbahaya.

"Saat santan dipanaskan, asam lemaknya meningkat dan membuat kadar lemak jahat meningkat. Ini bisa memicu kolesterol dan berbahaya untuk jantung," ujar spesialis gizi klinis dr. Verawati Sudarma, Selasa, 7 Mei 2019.

Dalam satu sendok santan juga terdapat 50 kalori. Apalagi jika pengolahannya dipadukan dengan bahan-bahan yang juga tinggi kalori seperti daging sapi dan kambing.

"Pengolahan santan untuk minuman juga biasanya dipadukan dengan gula. Sehingga asupan berlebih bisa memberi efek samping obesitas," paparnya.

Meski begitu, santan juga memiliki kandungan baik seperti kalium dan zat besi serta kalori untuk membangun energi tubuh. Nah, untuk mendapatkan manfaat baiknya, dokter Verawati menyarankan untuk mengolah santan yang masih segar.

"Santan segar memiliki kandungan vitamin dan mineral yang lebih tinggi. Sebaiknya juga santan diolah untuk satu kali pemakaian, karena proses pemanasan berulang kali memicu peningkatan lemak jenuh," paparnya.(VI)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px