Log in

Yusril dan Dilema Kader PBB


Yusril Izha Mahendra mengungkapkan alasan terkait dirinya setuju untuk menjadi kuasa hukum Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Dia mengatakan, hal itu dilakukan agar pemilu serentak kali ini dapat berjalan dengan adil. Yusril memastikan, dia akan bekerja dengan sangat profesional. Dia mengatakan, memiliki banyak pengalaman dalam menangani perkara partai politik, seperti saat ia menangani Golkar. Sengketa politik, doa melanjutkan, juga pernah dia tangani dalam Pilpres 2014 saat diminta menjadi ahli dalam gugatan Prabowo kepada KPU tentang hasil pilpres di MK. "Bagi saya hukum hukum harus ditegakkan secara adil bagi siapa pun tanpa kecuali," katanya singkat.

Sebelumnya, pengukuhan Yusril Ihza Mahendra sebagai pengacara Jokowi-Ma'ruf berawal saat pertemuan dirinya dengan Ketua TKN KIK Erick Thohir di Hotel Mulia, Jakarta. Saat itu, Erick menanyakan kepastian dari Yusril untuk menjadi kuasa hukum paslon 01. Yusril kemudian menyetujui hal tersebut. Namun, dia menegaskan, tidak ikut serta dalam tim sukses pemenangan pasangan capres nomor urut 01 tersebut. Kendati Yusril menyebut keberadaannya sebagai kuasa hukum pasangan capres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, dalam kapasitas sebagai seorang profesional serta tidak akan ikut serta dalam tim sukses pemenangan pasangan capres nomor urut 01, namun sosok yang bersangkutan tentu tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB).

Sebagaimana diketahui, sejak dulu, figur Yusril merupakan ikon di tubuh PBB. Banyak orang misalnya tertarik bergabung ke PBB, karena adanya faktor Yusril. Seperti halnya ketika banyak orang merapat ke PAN dulu, karena kekaguman kepada kiprah Amien Rais. Terkait dengan bergabungnya Yusril ke Jokowi-Ma'ruf, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai, bukan berarti PBB merapat ke Tim Kampanye Nasional Jokowi Ma'ruf. Sebab, ia menilai PBB justru lebih dekat dengan Prabowo-Sandiaga. "Dari Ketua Majelis Syuro PBB Pak Ka'ban intensif komunikasi bersama kami. Dari sisi organisasi dan parpol apalagi latar belakangnya lebih condong dan berdekatan dengan apa yang diperjuangkan kami,"ungkap Fadli.

Apa yang disampaikan Fadli Zon tersebut benar adanya. Secara umum, sejatinya para kader PBB (termasuk di daerah) selama ini, terlihat lebih semangat dalam mengampanyekan pasangan Prabowo Sandi. Karena itu, kendati menghadapi dilema dengan bergabungnya sang ketum ke Jokowi, diyakini para kader PBB, tidak akan dengan serta merta mengikuti jejak yang bersangkutan. Para kader PBB akan menjadi dilematis, tentunya bila Yusril sudah secara resmi menyatakan PBB merapat ke Jokowi-Ma'ruf. Bisa jadi hal ini akan diikuti, sebaliknya bisa pula akan menimbulkan penolakan. Sebab, selama ini sosok Yusril dengan berbagai pernyataannya di berbagai kesempatan, cenderung banyak melontarkan kritikan kepada pemerintah. Nah, ketika kini dia justru memutuskan merapat dengan pemerintah, tentu hal itu sejatinya sah-sah saja dalam ranah politik. Mungkin saja hal itu akan menguntungkan bagi PBB, atau setidaknya untuk Yusril pribadi. Hmmm...(**)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 8.05 km/h

  • 21 Nov 2018 27°C 22°C
  • 22 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px