Log in

UAS, Antara Dakwah dan Politik


Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212 Eggi Sudjana meminta Ustaz Abdul Somad (UAS) menerima pinangan para ulama agar bersedia menjadi cawapres. Jika terpilih menjadi cawapres maka akan makin berpengaruh pada dunia dakwah. "Kok UAS nolak? Nabi saja enggak nolak. Kalau dia nolak berarti dia kufur nikmat. Gimana hukum Islam mau tegak kalau dia enggak jadi cawapres, padahal bisa bisikin presiden,"katanya ketika mengisi sambutan dalam kegiatan Kongres Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) V di Kota Tasikmalaya, Ahad (5/8).

Ia menilai, bila UAS terpilih sebagai cawapres maka makin berpengaruh pada dunia dakwah. Sebab, selama ini, menurutnya dakwah UAS kerap dipersekusi. Sehingga jalan dakwah UAS diperkirakan makin lancar ketika terpilih menjadi cawapres. Ia pun mengharapkan hasil dari Kongres MMI V bisa meyakinkan UAS agar maju pada Pilpres 2019. Sebelumnya, Forum Ijtima Ulama dan tokoh Nasional Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) sudah memberikan rekomendasi terkait cawapres Prabowo. Pada forum itu memutuskan dua nama yaitu Ustaz Abdul Somad dan Habib Salim Segaf Al Jufri yang direkomendasikan menjadi cawapres Pilpres 2019.

Terkait dengan ijtima ulama tersebut, UAS sebelumnya sudah menyatakan secara halus, dirinya menolak menjadi cawapres dan memberikan kesempatan kepada Habib Salim Al Jufri. Ustaz Somad menyebut dirinya menghormati rekomendasi yang diberikan. Namun ia memilih untuk tetap berdakwah. "Para ulama ijtima, santri-santri memberikan rekomendasi, kita hormati, kita muliakan, kita doakan. Ini ada dunia pendidikan dan dunia dakwah, biarkan Ustaz Somad fokus pendidikan dan dakwah saja," imbuhnya. Sikap dan penolakan yang disampaikan UAS tersebut, sesungguhnya bisa dipahami. Sebab, keahliannya memang di bidang dakwah dan bukan di wilayah politik. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam sendiri, yang mengharuskan umatNya memberikan amanah kepada seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan bidang yang dikuasainya.

Namun, ketika banyak kalangan sebagaimana disampaikan Eggi Sujana di atas, yang menginginkan UAS tampil sebagai cawapres dengan dalih demi kepentingan umat, maka apa yang disampaikan Eggi itu sejatinya juga masih sejalan dengan ajaran Islam, yang menghendaki umatnya juga tampil sebagai penguasa. Permasalahannya adalah UAS sendiri merasa dirinya tidak tepat untuk menerima tawaran sebagai cawapres, karena dia beranggapan masih ada orang yang lebih layak dan kompeten dibanding dirinya. Hal ini sekaligus sebagai sebuah penegasan, dirinya tidak 'gila kekuasaan'.

Dalam konteks ini, agaknya UAS tidak ingin berada di posisi (terjun langsung) ke wilayah politik dengan tampil sebagai cawapres. Sebagai seorang da'i, kelihatannya dia lebih merasa nyaman tetap sebagai UAS yang dikenal selama ini. Namun, dia juga tidak menutup mata terhadap fenomena politik yang terjadi. Karena itu, dia juga ikut mengambil peran untuk membantu figur yang dianggap sebagai representasi umat Islam. Dengan kata lain, UAS tidak akan ragu untuk ikut mengampanyekan figur capres yang dianggap sebagai pilihan umat. Agaknya, pilihan UAS ini layak dihargai dan kita hormati.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

27°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 80%

Wind: 11.27 km/h

  • 20 Sep 2018 30°C 22°C
  • 21 Sep 2018 30°C 23°C

Banner 468 x 60 px