Log in

Trauma Macet Medan-Berastagi


Arus lalu lintas di Jalan Letjend Djamin Ginting Medan-Kabupaten Karo lumpuh total diakibatkan satu unit truk kontainer mengalami patah as di kawasan tikungan cantik “Amoi” Desa Bandarbaru, Km 56-57, Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, Senin (8/7) sekitar pukul 17.30 WIB.

Situasi seperti ini sudah sangat sering terjadi. Tidak saja saat terdapat truk atau mobil yang mogok, melainkan juga ketika arus kunjungan ke lokasi wisata di Berastagi mengalami peningkatan, seperti saat pelaksanaan Festival Bunga dan Buah beberapa hari yang lalu, juga di saat liburan Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Lumpuhnya jalan Medan-Berastagi sekitar 10 jam, menyebabkan banyak pengusaha sayur dan hortikultura dari Kabupaten Karo, maupun pengusaha bus AKDP, pengusaha travel dan lainnya dari sejumlah kabupaten yang rugi akibat kemacatan yang terjadi. Pasalnya, barang-barang mereka terpaksa dibuang karena busuk dan tidak jadi dibawa ke Medan.

Kerugian akibat kemacetan jalan Medan-Berastagi yang terjadi sepanjang tahun berdampak buruk bagi sirkulasi perdagangan dan perekonomian masyarakat. Banyak sektor yang terganggu dan merugi, seperti halnya sayur mayur dan komoditi hortikultura lainnya yang ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah. Betapa dahsyatnya dampak buruk setiap kemacetan parah atau saat lumpuhnya jalan Medan-Kabupaten Karo.

Selain menimbulkan kerugian secara ekonomis, kemacetan panjang Medan-Berastagi juga melahirkan dampak secara psikologis, berupa munculnya perasaan trauma dan was-was bagi masyarakat saat hendak bepergian ke Berastagi, Sidikalang dan Subussalam, yang wajib melewati jalur-jalur yang sering dilanda kemacetan panjang tersebut.

Rasa trauma yang menyerang masyarakat itu wajar terjadi. Sebab, kemacetan panjang tersebut sering terjadi tiba-tiba dan tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Akibat adanya trauma dan kekhawatiran bakal menghadapi macet, tidak jarang banyak orang kemudian mengurungkan niat untuk menempuh perjalanan ke Kabanjahe dan Sidikalang, jika tidak benar-benar sangat urgen dan menjadi sebuah keharusan.

Ketika kita membahas seputar trauma dengan terjadinya kemacetan panjang di sejumlah lokasi menghubungkan Medan-Berastagi, maka lagi-lagi persoalannya adalah terkait dengan pentingnya membangun jalur alternatif Medan-Berastagi yang bisa terhindar dari terjadinya kemacetan, yakni pembangunan jalan tol.

Terkait dengan hal ini, Bupati Karo Terkelin Brahmana sudah berulangkali mengatakan, pembangunan jalan tol Medan-Kabupaten Karo semakin mendesak dan harus disegerakan, mengingat pertambahan berbagai jenis mobil dan angkutan semakin pesat, sementara luas badan jalan tidak berubah.

Menguatkan usulan tol atau peningkatan jalur Medan-Berastagi itu, Bupati Terkelin Brahmana mengakui sudah dua kali melayangkan surat ke Kementerian PUPR dalam kaitan mendesak rencana pembangunan tol atau peningkatan Jalan Medan-Berastagi. Buktinya, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) memberi sinyal menyetujui pembangunannya, namun akibat keterbatasan dana, mungkin akan dilakukan pembangunan dua jembatan layang.

Supaya pembangunan jalan tol atau dua jembatan layang itu bisa segera diwujudkan, kita berharap Gubsu Edy Rahmayadi ikut turun tangan bersama Bupati Terkelin Brahmana plus DPRD Sumut, bisa melangkah bersama dalam melakukan 'pressure' lebih intens ke pemerintah pusat, supaya pembangunan infrastruktur tersebut bisa segera dilaksanakan, agar masyarakat yang hendak bepergian ke Tanah Karo dan sekitarnya tidak mengidap trauma kemacetan. Horas, njuah-njuah, mejuah-juah banta kerina...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px