Log in

Senjata Makan Tuan, Sayonara Azzuri


Pelatih Swedia, Janne Andersson tak memungkiri, timnya memang bermain bertahan pada pertandingan leg kedua play-off Piala Dunia melawan Italia. Datang ke San Siro untuk melakoni leg kedua, Swedia memang memiliki keuntungan berkat kemenangan 1-0 di leg pertama akhir pekan lalu. Sepanjang permainan, nyaris semua pemain Swedia menumpuk di lini pertahanan.

Dari catatan UEFA, Italia sangat mendominasi permainan dengan penguasaan bola mencapai 75 persen dan melepas 20 tembakan. Sementara Swedia hanya menguasai 25 persen bola dan hanya mampu melepas dua tembakan saja.

Hasil imbang tanpa gol di San Siro itu memastikan Swedia lolos ke Rusia tahun depan, dan memastikan Italia gagal ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1958 atau sekitar 60 tahun lalu.

"Kami tak memiliki senjata lagi. Kami cuma harus diam di lini pertahanan dan berharap bisa bertahan dari gempuran Italia. Kami tak bisa melakukannya dengan cara lain, mereka sangat terampil," terangnya.

Kegagalan tim berjuluk Azzuri Italia, jelas sangat mengecewakan banyak pihak, utamanya kalangan pecandu sepak bola. Sebab, Italia selama ini dikenal sebagai langganan unggulan meraih juara dunia, bersama Jerman, Argentina, Brasil, dan belakangan ini Spanyol dan Perancis.

Selain itu sebagaimana disebut pelatih Swedia, Janne Anderson, keberhasilan timnya melenggang ke Piala Dunia sekaligus menyampaikan sayonara kepada Tim Azzuri Italia, berkat taktik bertahan, yang notabene selama ini menjadi senjata andalan Italia.

Dengan kata lain, kegagalan Italia akibat senjata makan tuan, yang berhasil diterapkan dengan baik oleh Janne Andersson kepada anak asuhannya. Pola cattenaccio (taktik memperkuat pertahanan) yang lazimnya dilakoni Italia itu berhasil dengan baik diterapkan Swedia, membuat para penyerang Italia tidak mampu menembus pertahanan Swedia.  

Selain itu, pihak petinggi sepak bola Italia, agaknya keliru dalam memutuskan pelatih yang menangani Gianluigi Buffon dkk. Sosok pelatih Gian Viero Ventura yang ditunjuk menggantikan sosok beken dan legendaris Antonio Conte, jelas belum memikiki jam terbang yang tinggi.

Pasalnya sebelum ditunjuk menjadi pelatih timnas Italia, Ventura belum pernah menghasil prestasi hebat selama melakoni karier sebagai pelatih di sejumlah klub, seperti di Torino, Bari, Pisa, Hellas Verona dan Napoli. Kita tidak habis pikir, mengapa dia yang dipercaya menjadi pelatih di tengah banyaknya talenta hebat pelatih Italia, semisal Carlo Ancelotti, Claudio Ranieri, Roberto Mancini, dan lainnya.

Perhelatan kualifikasi Piala Dunia kali ini memang sangat menyesakkan bagi Italia. Sebab, biasanya mereka lolos langsung ke Piala Dunia dan kini harus melakoni partai play off dan berujung pada hasil menyesakkan dada dengan kegagalan ke Piala Dunia.

Kegagalan Azzuri ke Piala Dunia kali ini, selain karena kejeniusan taktik pelatih Swedia menerapkan strategi bertahan yang menjadi senjata makan tuan bagi Italia, juga karena ketidakbecusan pelatih Italia Gian Viero Vantura, yang sepertinya memang tidak layak menjadi pelatih tim sekaliber Italia.

Di sisi lain, harus diakui pula Italia belakangan ini terkesan lupa dalam melakukan regenerasi pemain. Pemain-pemain tua sekaliber De Rossi, Chellini, Bonucci, dan termasuk Guanluigi Buffon, seharusnya sudah masuk dalam kategori pensiun. Pemain-pemain tua dan minimnya kreativitas permainan menyebabkan Italia harus tersungkur dengan memalukan. Nasibmulah...Azzuri.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

24°C

Medan, Sumatera Utara

Scattered Thunderstorms

Humidity: 98%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Nov 2017 28°C 22°C
  • 22 Nov 2017 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px