Log in

Ronaldo, UCL dan Final Kepagian


Pertemuan dua raksasa Eropa,Barcelona Spanyol dengan Liverpool Inggris di semifinal,bisa disebut sebagai final kepagian.Tanpa bermaksud menaifkan kualitas dua tim yang bertemu di semifinal lainnya (Ajax Amsterdam dan Tottenham Hotspur),banyak penggemar sepak bola lebih berharap,pertemuan antara kedua tim unggulan ini terjadi di pusingan akhir (final).

Terjadinya final kepagian ini,tidak terlepas dari gagal totalnya Cristiano Ronaldo mengemban mission sacred (misi suci) di Juventus.Yakni membawa klub berjuluk si nyonya tua (Old Lady) ini kembali berjaya di kompetisi paling bergengsi di dunia, UEFA Champions League (UCL),karena klub terhebat di Kota Turin ini sudah 24 tahun tak pernah menyandang gelar juara UCL.

Demi meraih ambisi besar itu,para petinggi di Juventus rela mengucurkan dana besar Rp100 juta Euro untuk mendatangkan Ronaldo dari Real Madrid.Tapi apa hendak dikata,harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Kehadiran CR7 justru membuat bintang Juve lainnya, Paulo Dybala melempem. Bersama Ronaldo, Juventus justru mencatat penurunan prestasi.Sebab, saat belum bersama Ronaldo, Juve sukses melaju ke final pada 2014 dan 2016.   

Ronaldo seperti biasanya memang cukup rajin mencetak gol. Tapi, gol yang disumbangkannya hanya sebagai penegasan kehebatannya sebagai individu dan tidak berdampak signifikan kepada tim. Hal inilah yang membedakannya dengan Messi.

La Pulga, julukan Messi,selain piawai mencetak gol, juga rajin memberikan assist (sesuatu yang jarang dilakukan CR7).Gagal totalnya Ronaldo memenuhi ambisi Juventini,membuat skema final ideal UCL menjadi berantakan.

Pihak UEFA kelihatannya sangat menginginkan Messi (Barca) dan Ronaldo (Juve) bertemu di final. Kalaupun hal itu tidak terjadi,tetap akan terjadi final idaman, jika Juventus bertemu Liverpool di final,sekaligus mengulang sejarah final UCL 1985 silam.

Kegagalan Ronaldo ini tidak saja berdampak pada pengulangan pencapaian buruk Juventus di Liga Champions,melainkan juga telah menutup peluangnya menjadi kandidat peraih Ballon d'or 2019.Sebab,dengan hanya meraih scuddeto Serie A saja,tidak layak dianggap sebagai sebuah prestasi.Pasalnya, tanpa Ronaldo pun, Juventus sudah meraih scuddeto dalam tujuh tahun terakhir ini.

Tidak optimalnya kontribusi CR7 kepada Juventus di UCL, yang berdampak kepada terjadinya final kepagian,tentu sangat disayangkan.Siapa pun yang keluar menjadi pemenang antara Barca dengan Liverpool akan berhadapan dengan Ajax Amsterdam atau Tottenham Hotspur. Final yang mempertemukan Barca dengan Ajax atau Liverpool dengan Ajax, atau Barca dengan Spurs,apalagi Liverpool dengan Spurs,terasa kurang greget.

Semifinal antara Barcelona dengan Liverpool layak disebut sebagai the real final, karena selain laju kedua klub ini ke semi final,lebih meyakinkan dibanding dua semi finalis lainnya, kedua klub ini juga bertabur bintang dan selalu menyajikan permainan yang enak ditonton.

Karena itu, siapa pun di antara kedua klub ini yang melaju ke final, diunggulkan akan meraih gelar juara.Kendati disebut sebagai final kepagian. Namun, pertemuan Liverpool dengan Ajax Amsterdam di partai puncak nanti, tetap menarik ditunggu.Soalnya, para talenta muda dari Negeri Kincir Angin ini juga sudah memperlihatkan prestasi hebat dengan memecundangi dua tim raksasa,Real Madrid dan Juventus.

Dengan kata lain,Liverpool vs Ajax akan menjadi sebuah partai menarik dan dahsyat, karena kedua tim ini sama-sama mengusung pola menyerang dan sangat anti dengan taktik parkir bus ala Mourinho.Semoga...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px