Log in

PWI dan Independensi yang Tergerus


Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono memberikan sambutan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang, Sumatera Barat. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat Sumatera Barat kembali memilih Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Pemilu Presiden 2019 mendatang. Margiono bercerita, saat menginjakkan kaki di Sumatera Barat, melihat begitu banyak baliho dan spanduk sambutan acara HPN 2018. "Luar biasa banyaknya ucapan selamat datang dan terima kasih, banyak saya lihat bertuliskan mokasi," katanya, Jumat.

Margiono mengaku, bertanya ke Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, arti dari "Mokasi". Irwan pun, katanya, menjelaskan bahwa arti dari Mokasi adalah terima kasih. "Bukan mau kasih ?" kata Margiono. "Nah bisa juga itu," katanya menirukan jawaban dari Irwan Prayitno. Kepada Gubernur, Margiono pun mengatakan, "Kalau Bapak Presiden sudah kasih ke Sumbar (Sumatera Barat), Sumbar kasih apa? kasih aja bapak presiden suara yang banyak untuk 2019". Ia melanjutkan, jika terbukti kinerja Jokowi baik, maka tentu akan dipilih kembali oleh masyarakat. "Saya takut dimarahi soal ini, tapi tidak apa apa,"kata Margiono.

Kekhawatiran Margiono, bahwa dirinya akan dimarahi terkait dengan pidatonya itu, benar saja. Terbukti, dalam beberapa hari ini, yang bersangkutan menjadi sasaran bully berbagai kalangan, melalui media sosial berupa facebook, twitter maupun media daring lainnya. Keberadaan PWI sebagai wadah para wartawan sejatinya bersifat independen dan tidak boleh memihak (secara politis) kepada siapa pun, termasuk penguasa. Nah, pernyataan Margiono yang mengajak masyarakat Sumatera Utara memilih kembali Jokowi, jelas menyebabkan tergerusnya independensi PWI.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua PWI, seharusnya Margiono tidak dibenarkan melontarkan pernyataan seperti itu. Melalui pernyataannya itu, tidak saja menyebabkan tergerusnya independensi PWI di mata publik, melainkan juga mengalami degradasi. Sepertinya Margiono tidak bisa membedakan sosoknya sebagai Ketua PWI yang harus independen, dengan pribadinya yang memiliki kepentingan politis. Nah, kelihatannya Margiono lebih mengedepankan kepentingan politiknya secara pribadi, dan untuk itu dia merelakan institusi PWI menjadi ajang bulan-bulanan kritikan banyak pihak, karena dianggap telah mengabaikan perannya sebagai institusi kontrol.

Fenomena dan atau gaya kepemimpinan Margiono ini, juga kerap dilakoni oknum Ketua PWI dan SPS di daerah, yang sering terlalu berlebihan 'mengumbang' kepada daerah, karena memiliki 'kepentingan' untuk menggolkan anggaran (bantuan) untuk PWI dan SPS serta berbagai 'kepentingan' lainnya. Ke depan kita berharap, apa yang dilakukan Margiono ini bisa dijadikan pelajaran bagi PWI dan jajarannya. Diharapkan, PWI dan seluruh wartawan yang berkiprah di dalamnya, bisa tetap menjaga independensinya serta tak abai dalam menjalankan tupoksinya sebagai institusi yang tidak pernah berhenti menyoroti ketidakadilan, apa pun konsekuensinya.Monggo...(**) 

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

24°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 6.44 km/h

  • 22 Feb 2018 28°C 23°C
  • 23 Feb 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px