Log in

Pilkada Bukan Memilih Kepala Suku


KOMUNITAS Pendeta Internasional Indonesia Sumatera Utara mengundang dan mendoakan Edy Rahmayadi menjadi Gubsu 2018-2023. Doa dari para pendeta itu dimaksudkan agar Edy dan wakilnya Musa Rajekshah mampu membawa Sumut bermartabat. Demikian dikatakan Pendeta Dr Eben Siagian STh kepada wartawan, kemarin di Kantor GTDI Medan. Hal itu ditegaskannya untuk menepis video editan yang menggambarkan seolah-olah Edy Rahmayadi dibaptis oleh pendeta. Dikatakan Pendeta Eben, doa dari pendeta merupakan salah satu rangkaian acara yang dihelat komunitas pendeta di gedung Suara Nafiri Medan pada 4 Mei 2018.

Panitia mengundang Edy Rahmayadi sebagai calon pemimpin yang layak jadi Gubernur Sumatera Utara. Bukan untuk dibaptis. Kenapa panitia mengundang Pak Edy karena panitia tidak ingin ada pecah-belah. Karena selama ini disebut-sebut bahwa umat Kristen dikesankan mendukung pasangan Djoss. Nah, bagi umat kristiani yang mendukung ERAMAS jadi mau diapain? Maka dibuatlah acara dan mengundang Pak Edy agar masyarakat tahu, Kristen itu tidak identik dengan pasangan Djoss."Ini yang ditekankan Pak Kris Pasaribu sahabat kecil Pak Edy. Kita mau pilih kepala daerah bukan kepala suku," kata Eben. Sangat tepat dan relevan sekali apa yang dikemukakan Pdt Eben di atas, bahwa di dalam Pilkada, kita memilih kepala daerah, bukan kepala suku. Karena itu, sangat tidak tepat, jika pilihan di dalam Pilkada didasarkan pada pertimbangan identitas (agama dan suku).

Keputusan untuk memberikan pilihan terhadap pasangan calon hendaknya lebih didasari kepada pertimbangan rasionalitas dan objektif dan bukan karena pertimbangan sentimentil dan emosional. Sebab, sudah sering terjadi, rakyat menyesal di kemudian hari, karena keliru dalam menjatuhkan pilihan. Karena itu, kita sangat menyayangkan maraknya kecenderungan black campaign belakangan ini, tidak hanya dalam Pilgubsu melainkan juga pada perhelatan Pilkada di kabupaten/ kota lainnya di Sumatera Utara. Pasalnya, black campaign sudah menjurus kepada hal-hal yang tidak rasional dan terkesan dipaksakan.

Dalam hal ini kita meyakini, masyarakat Sumatera Utara sudah semakin dewasa dan cerdas dalam menentukan sikapnya untuk memutuskan pasangan calon mana yang dianggap layak memimpin Provinsi Sumatera Utara pada lima tahun mendatang. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa perhelatan Pilkada tidaklah dimaksudkan untuk memilih kepala suku, melainkan untuk menjadi pemimpin bagi semua rakyat, apa pun suku dan agamanya. Pilgubsu merupakan ajang pemilihan kepala daerah yang akan menentukan wajah dan masa depan Sumatera Utara lima tahun ke depan. Karena itu, kita tak henti-hentinya mengimbau masyarakat di daerah ini, supaya tidak keliru dalam menentukan pilihan. Pilihlah kandidat yang diyakini lebih pas dan tepat dalam memimpin Provinsi Sumatera Utara. Berikanlah kesempatan kepada figur pemimpin, yang dengan pengalaman dimilikinya diyakini akan mampu membawa Sumatera Utara menjadi provinsi yang bermartabat serta mampu mengejar ketertinggalan dari provinsi lain di negeri ini. Monggo...Njuah-njuah banta karina... (**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 93%

Wind: 6.44 km/h

  • 16 Aug 2018 30°C 23°C
  • 17 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px