Log in

Perlu, 'Potong Tangan' Koruptor !


Front Pembela Islam (FPI) Provinsi Aceh mendukung langkah KPK menangkap para koruptor di Bumi Serambi Mekah. FPI menyatakan, kalau ada bukti tertangkap tangan, jangan lepaskan. Dan tangannya dipotong agar jadi pelajaran. "Kami FPI Aceh turut mendoakan agar kerja KPK di Aceh dalam memberantas korupsi bisa berjalan lancar dan tidak ada kendala apa pun sehingga dapat membongkar tuntas siapa saja maling di Aceh, agar Serambi Mekah tidak ada lagi maling," kata Ketua FPI Aceh Tengku Muslim At-Tahiry, Kamis (5/7). Muslim mengaku sangat berharap KPK bisa bekerja secara independen tanpa ada intervensi dari siapa pun. Semua elemen masyarakat diharapkan senantiasa berlapang dada agar negeri ini selamat dari tangan-tangan zalim.

"Walaupun yang ditangkap orang Serambi Mekah (Gubernur Aceh dan Bupati Bener Meriah), KPK tak perlu segan-segan karena tak semuanya orang Serambi Mekah saleh, ada juga yang jahat. Maka kalau ada bukti tangkap, jangan lepaskan dan potong saja tangannya, biar jadi pelajaran bagi orang lain," sebut Muslim. Usulan Ketua FPI Aceh seputar perlunya potong tangan bagi koruptor, kelihatannya memang mengada-ada dan tidak mungkin dilaksanakan. Namun, dalam konteks Nanggroe Aceh Darussalam yang selama ini menganut syariat Islam, sejatinya usulan potong tangan koruptor, perlu dan layak dilaksanakan. Kita tidak ingin mengatakan potong tangan koruptor itu harus dilaksanakan di Aceh, melainkan yang hendak ditekankan di sini, perlu diperlihatkan satu contoh nyata tindakan tegas kepada para pelaku pencurian uang negara, dengan melakukan potong terhadapnya. Lebih dari itu kita juga hendak menyatakan di sini, bahwa perlunya 'potong tangan' bagi para koruptor itu lebih mengarah pada adanya pemberian hukuman yang teramat sangat berat bagi semua yang terlibat korupsi. Yakni, hukuman seumur hidup dan kalau perlu hukuman mati.

Namun, dalam konteks ini, kita juga merasa perlu mengingatkan KPK, kiranya dalam OTT pejabat atau siapa pun hendaknya benar-benar menganut prinsip fairness dan jangan sampai keliru dalam mentersangkakan seseorang sebagai koruptor. Di sisi lain, tujuan yang hendak dicapai dari adanya hukuman 'potong tangan' atau hukuman paling maksimal bagi para koruptor ini, tentunya adalah munculnya efek jera bagi mereka yang kini menduduki jabatan di pemerintahan atau posisi yang berurusan dengan pengelolaan uang negara. Apalagi daerah seperti Aceh, yang notabene merupakan serambi Mekah, tentu sangat naif jika perilaku para pejabat di daerah ini juga tidak ada bedanya dengan daerah lain yang tidak menyandang predikat istimewa sebagai serambinya Mekah. Memang tidak semua orang di Aceh merupakan orang-orang yang saleh dan baik. Namun, jika sudah diberi amanah menjadi pemimpin di daerah itu, seharusnya bisa menjaga diri dan lebih berhati-hati, karena orang mengenal Aceh sebagai daerah yang sangat religius. Dengan status sebagai daerah istimewa dan agamais itu, semestinya para pejabat di Aceh bisa menjaga kehormatannya serta reputasi Aceh sebagai daerah yang seharusnya berada di garda terdepan dalam perwujudan clean government and good governance.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Jul 2018 30°C 23°C
  • 22 Jul 2018 31°C 22°C

Banner 468 x 60 px