Log in

Pengelolaan Wisata Harus Profesional


Tragedi ambrolnya tembok penahan tanah di kawasan objek wisata pemandian air panas “Hot Spring” Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Minggu (2/12/) sekitar pukul 06.00 WIB, yang mengakibatkan tujuh mahasiswa meninggal dunia dan 9 orang lagi mengalami luka-luka menimbulkan pertanyaan, mengapa hal itu terjadi. Demikian dikatakan anggota DPRD Karo Firman Firdaus Sitepu dari Fraksi Golkar, Senin (3/12) di kantornya. Lemahnya pengawasan pemerintah daerah Kabupaten Karo menjadi penyebab tragedi tersebut. Pasalnya, petugas Pemda hanya rajin memungut retribusi, tapi malas melakukan pengawasan dan atau membuat standar keselamatan tempat wisata. Bahkan tidak ada, atau minimnya keberadaan regu penolong dan emergency respond saat terjadi petaka juga layak disorot.

Jika dilihat dari aspek normatif, sejatinya sebagai konsumen jasa wisata. Wisatawan mempunyai hak yang amat mendasar terutama yang diakomodir UU No 10/2009 tentang Kepariwisataan. Pasal 20 UU Kepariwisataan menegaskan bahwa setiap wisatawan berhak memperoleh informasi akurat mengenai daya tarik wisata, pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar, perlindungan hukum dan keamanan, pelayanan kesehatan, perlindungan hak pribadi, dan perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisataan yang berisiko tinggi. Relevan dengan itu, kata Firman, UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen juga menyebutkan, konsumen (jasa pariwisata)  berhak untuk mendapatkan informasi jelas, benar dan jujur. Untuk mendapatkan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan serta hak untuk mendapatkan pembinaan dan advokasi, bahkan hak untuk mendapatkan kompensasi dan ganti rugi. Pelaku usaha (pengelola tempat wisata) wajib memberikan rasa aman, selamat, dan nyaman bagi konsumennya sebagai pengguna jasa tempat wisata.

Pernyataan yang disampaikan Firman tersebut benar adanya. Bahwa, demi menghindari terjadinya peristiwa serupa di kemudian hari, pihak pengelola wisata hendaknya bisa lebih profesional dalam menjalankan bisnis pariwisata, dengan mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan. Meninggalnya tujuh mahasiswa akibat ambrolnya tembok penahan tanah di kawasan objek wisata Desa Semangat Gunung, jelas akibat tidak adanya perencanaan memadai serta feasibility study sebelumnya, sebelum membangun kawasan wisata tersebut.

Di sisi lain sebagaimana dikemukakan Firman, selama ini pihak pemerintah khususnya mereka yang menangani bidang perizinan, kerap tidak benar-benar serius dalam melakukan survei ke lapangan, sebelum memberikan izin membuka lokasi wisata. Kondisi cuaca ekstrem belakangan ini, memang sangat rawan bagi masyarakat yang hendak berkunjung ke lokasi wisata. Utamanya lokasi wisata yang mengutamakan menjual keindahan alam, berupa pantai dan pegunungan, yang kerap menimbulkan bencana alam berupa longsor, banjir bandang, serta bencana lainnya. Tapi, apa hendak dikata, dalam tradisi kita, kehebohan hanya terjadi bersifat sesaat saja. Selanjutnya, ketika beberapa lama kemudian, kembali terlupakan, dan peristiwa serupa pun acapkali terulang lagi. Begitulah seterusnya...(**)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 19 Dec 2018 29°C 22°C
  • 20 Dec 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px