Log in

Parpol pun Kehilangan Identitas


Di hari terakhir pendaftaran Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tapanuli Utara,  pasangan Drs Nababan MSi-Sarlandy Hutabarat SH yang diusung lima partai politik yakni PDIP, Golkar, PKB, NasDem dan PAN melakukan pendaftaran ke Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Taput, Rabu (10/1). Gabungan partai politik pengusung calon petahana ini memperoleh kursi paling banyak di DPRD Taput yaitu sebanyak 23 kursi, dengan rincian PDI Perjuangan sebanyak 6 kursi, Partai Golkar 5 kursi, Partai NasDem 5 kursi, PAN 4 kursi dan PKB 3 kursi. Dengan berjalan kaki dari Lapangan Mini Serbaguna Tarutung sebagai tempat deklarasi, puluhan ribu massa pendukung yang datang dari seluruh kecamatan di Taput, dan juga pengurus partai pengusung, ikut mengantarkan pasangan Nikson Nababan-Sarlandy Hutabarat menuju Kantor KPUD Taput untuk melakukan pendaftaran diri untuk bertarung di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tapanuli Utara 27 Juni 27 Juni 2018 mendatang.

Dinamika dan gonjang-ganjing menjelang penentuan bakal pasangan calon yang diusung partai politik pada perhelatan pemilihan kepala daerah (Pemilukada) provinsi dan kabupaten/kota, memberikan gambaran nyata, bahwa parpol di negara kita sejatinya nihil identitas. Seperti terlihat pada koalisi mendukung Nikson Nababan-Sarlandy Hutabarat pada Pilkada di Kabupaten Tapanuli Utara di atas, Partai Amanat Nasional berkoalisi dengan PDI Perjuangan, Partai NasDem, Golkar, Hanura, dan Partai Kebangkjitan Bangsa (PKB). Tentunya yang paling fenomenal adalah saat PPP menjalin koalisi dengan PDI Perjuangan, mengusung nama pasangan calon Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus, pada perhelatan Pilkada Gubernur Provinsi Sumatera Utara.

Sebenarnya koalisi PPP dengan PDIP sudah sering terjadi dalam pentas perpolitikan di tanah air. Misalnya di Pilkada Batu Bara tahun ini, PPP juga mengusung kandidat dari PDI Perjuangan, yaitu Ir Zahir MAP. Hal serupa juga terjadi di Pilkada daerah lainnya di Indonesia. Nah, persoalan mencuat dalam Pilkada Sumut, karena bakal pasangan calon yang diusung, salah satunya berasal dari kalangan nonmuslim (Sihar Sitorus). Wajar, hal ini memicu penolakan di kalangan massa arus bawah (grass-root) partai berlambang Ka'bah tersebut. Terlepas dari munculnya kekecewaan konstituen dari partai yang mengaku sebagai 'rumah besar umat Islam' itu, kenyataan yang meruyak di negara kita saat ini adalah, partai politik yang ada, sudah semakin mencair dan bisa disebut sudah kehilangan identitasnya.

Semua parpol memiliki tujuan yang sama, yakni ingin meraih kekuasaan. Bahkan tak jarang kekuasaan yang hendak diraih itu pun, tidak lagi dipersoalkan bagaimana cara mendapatkan alias sudah cenderung menghalalkan segala cara. Karena parpol sudah semakin kehilangan identitas, maka pada perkembangan selanjutnya nanti (dalam Pemilu Legislatif 2019), rakyat tidak akan lagi menjatuhkan pilihan kepada caleg berdasarkan partainya, melainkan lebih menimbang pada figur yang dikenal dan telah diketahui rekam jejaknya. (**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

24°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 90%

Wind: 11.27 km/h

  • 20 Jan 2018 28°C 22°C
  • 21 Jan 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px