Log in

PAN dan Harga Mahal Demokrasi


Zulkifli Hasan terpilih menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional periode 2020-2025 berdasarkan pemilihan dalam Kongres V PAN pada Selasa (11/2). Dalam pemungutan suara saat kongres yang berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara, Zulkifli Hasan memenangi kompetisi melawan dua pesaingnya, yaitu Mulfachri Harahap dan Dradjad Wibowo.

Zulkifli mendapatkan 331 suara. Sedangkan, Mulfachri mendapatkan 225 suara, dan Dradjad Wibowo memperoleh 6 suara. Sementara itu, terdapat 3 suara tidak sah. "Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, Saudaraku Zulkifli Hasan dengan ini ditetapkan menjadi ketua umum PAN,"kata anggota Steering Committee dalam Kongres V PAN, Totok Daryanto.

Perhelatan Kongres V Partai Amanat Nasional (PAN) sendiri berlangsung panas. Peserta kongres tidak dapat mengontrol emosi, sehingga memicu kericuhan. Bahkan, mengakibatkan peserta kongres luka-luka. Kekisruhan pelaksanaan kongres ini pula yang banyak diblow-up media serta pihak-pihak yang memandang PAN sebagai rival politik, dan atau memendam kebencian kepada Amien Rais.

Kisruh dan situasi yang terus memanas sebelum dan selama perhelatan Kongres PAN ini, merupakan konsekuensi dari keseriusan PAN dalam menerapkan demokrasi di internal partainya, sehingga mendorong terjadinya kontestasi yang sehat dan kompetitif. Terbukti, menjelang kongres mencuat empat nama kandidat calon ketua umum. Yakni Zulkifli Hasan, Mulfachri Harahap, Drajat Wibowo dan Asman Abnur.

Kerasnya rivalitas memperebutkan posisi ketua umum inilah yang membedakan PAN dengan partai lain di negeri ini. Munas Golkar sebelumnya hanya menghasilkan keputusan aklamasi untuk kandidat petahana Airlangga Hartarto. Pesaingnya Bambang Soesatyo layu sebelum berkembang alias menyatakan mundur sebelum sempat beradu kekuatan.

Hal serupa juga terjadi di Kongres PDI Perjuangan, yang lagi-lagi hanya sekadar perhelatan untuk pengukuhan kembali Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum yang sudah menjabat selama 20 tahun. Hal serupa juga terjadi di Partai Hanura yang kembali menetapkan Oesman Satpa Odang sebagai ketua umum dengan aklamasi. Hal serupa tentunya akan terjadi di NasDem, Gerindra, dan Demokrat, selama Surya Paloh, Prabowo dan SBY masih berkuasa.

PAN sejak awal berbeda dengan partai-partai yang ada. Bahkan ketika Amien Rais sebagai simbol partai masih sangat kuat dan dominan, mantan Ketua MPR-RI ini justru memberi contoh sejak awal dirinya tidak ingin berlama-lama menjadi ketua umum partai. Amien hanya satu periode menjabat sebagai ketua umum. Tradisi ini kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Sutrisno Bachir dan Hatta Radjasa.

Tradisi ketua umum satu periode ini kemudian berhasil didobrak Zulkifli Hasan melalui Kongres V Kendari. Padahal, Amien Rais sendiri sebagai ikon partai telah berupaya menggagalkan keinginan Zulkifli Hasan untuk kembali menduduki jabatannya, dengan memberikan dukungan kepada Mulfachri Harahap, yang diharapkan mampu menghempang langkah Zulhas.

Namun, optimisme Amien yang sebelumnya sangat percaya diri akan mampu membendung keinginan Zulhas tetap menjabat ketua umum, kali ini menemui batu sandungan. Pasalnya, sosoknya yang didukungnya ternyata kurang mendapatkan dukungan dari peserta kongres, kendati mendapatkan suara cukup signifikan.

Begitupun PAN boleh berbangga. Bahwa, harus menebusnya dengan harga cukup mahal, PAN tetap mampu mempertahankan reputasinya sebagai partai yang tetap konsisten mengedepankan spirit demokrasi dalam memilih pemimpinnya.

Para kader dan pengurus partai memiliki kedaulatan untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Harga mahal berdemokrasi ini hanya bisa dilunasi jika Zulhas sebagai ketum terpilih tidak egois dan dapat melakukan rekonsiliasi alias merangkul semua potensi yang ada di tubuh partai itu. Begitulah seharusnya...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px