Log in

Mereka Belum Nikmati Hasil Pembangunan


Pascaputusnya jembatan Desa Sabahotang, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas akibat diterjang arus deras Sungai Barumun beberapa hari lalu, tak menyurutkan semangat warga setempat beraktivitas. Tak terkecuali anak-anak sekolah yang harus rela dan siap bertaruh nyawa melewati arus deras sungai untuk bisa bersekolah. Mau tak mau dengan berbagai cara membuat pelajar terpaksa menyeberangi derasnya arus sungai. Sebagian anak-anak ada yang menyeberang tanpa bantuan orang lain. Membungkus baju dalam plastik lalu berenang. Ada juga dipandu orang tua beriiringan sambil berpegangan tangan untuk sampai ke seberang. Begitu sebaliknya saat keluar masuk desa yang nyaris terisolir ini harus melawan arus deras sungai yang meluap.

Jalan antar pedesaan perbatasan Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan Kecamatan Lauser Aceh Tenggara (NAD) persisnya melalui jalur Paya Mbelang Karo yang dikenal sebagai lahan peternakan menuju desa Liang Pangi Agara rusak parah. Kondisi jalan sangat memprihatinkan, di samping berkubang, bahkan jalan sulit dilalui kendaraan bermotor apalagi sepeda motor. Kondisi yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas dan perbatasan Karo dengan Aceh Tenggara itu, jelas sangat memprihatinkan kita. Memang kejadian yang menimpa masyarakat di Desa Sabahotang itu, murni akibat adanya bencana alam. Tapi, kerusakan jembatan yang terkesan terlalu gampang itu, juga dilatari kebiasaan kita selama ini, yang terkesan asal bangun, sehingga gampang hancur saat terjadi hantaman hujan deras, angin kencang, dan sejenisnya.

Nah, dalam hal ini juga kita kerap melihat, acapkali jajaran berkompeten di pemerintahan kurang cepat merespon, setiap kali terjadi kerusakan infrastruktur berupa jalan atau jembatan, yang berakibat masyarakat menjadi korban, karena kesulitan mendapatkan akses transportasi yang layak dan nyaman. Sementara, kerusakan jalan yang terjadi di perbatasan Tanah Karo dengan Aceh Tenggara itu, juga banyak didapati di daerah lain, misalnya perbatasan Pakpak Bharat dengan Kabupaten Aceh Selatan atau Kota Subulussalam, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Anehnya, kerusakan infrastruktur jalan yang keberadaannya sangat vital dan urgen bagi masyarakat tersebut, sudah berlangsung bertahun-tahun. Dengan kata lain, terkesan telah terjadi proses pembiaran. Kalaupun ada upaya perbaikan, seringkali hanya sebatas penimbunan berupa sirtu (pasir dan batu), yang hanya bisa bertahan beberapa bulan saja.

Di sisi lain, negeri ini setiap tahun selalu mengalokasikan biaya pembangunan yang jumlahnya mencapai ribuan triliun melalui APBN, puluhan triliun melalui APBD provinsi, triliunan dan ratusan miliar melalui APBD kabupaten/ kota. Kendati anggaran pembangunan setiap tahun dianggarkan, namun faktanya masih sangat banyak anak-anak sekolah harus berjuang keras supaya bisa sampai ke sekolahnya seperti terjadi di Desa Sabahotang Kabupaten Padang Lawas, serta masing sangat banyak pula jalanan yang kupak-kapik, bukan saja di desa, melainkan juga di kota seperti di Kota Medan.

Belum lagi jika membahas soal gelontoran dana desa miliaran rupiah setiap tahun ke desa-desa, juga dana BOS yang diperuntukkan bagi peningkatan sarana dan prasarana sekolah. Namun, faktanya banyak desa tetap begitu-begitu saja dan banyak pula sekolah yang kondisinya tetap kupak-kapik. Mengapa hal itu terjadi. Penyebabnya tiada lain, karena acapkali gelontoran dana itu tidak digunakan dengan baik dan tepat sasaran, sehingga masih sangat banyak rakyat yang belum ikut merasakan nikmatnya kue pembangunan. Nasib-nasib...(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

26°C

Medan, Sumatera Utara

Partly Cloudy

Humidity: 87%

Wind: 11.27 km/h

  • 16 Dec 2017 29°C 23°C
  • 17 Dec 2017 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px