Log in

Menunggu Perlawanan Setnov Berikutnya


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi proyek pengadaan KTP-elektronik (KTP-el). Sebelumnya status tersangka Novanto sempat digugurkan oleh Hakim Praperadilan Ceppy Iskandar pada (29/10) lalu.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah pimpinan dan penyidik mempelajari secara seksama putusan praperadilan yang telah diputus Hakim Tunggal Ceppy Iskandar pada (29/9) serta aturan hukum lain, sehingga pada (5/10) KPK melakukan penyelidikan baru untuk pengembangan perkara KTP-el melalui proses penyelidikan dengan meminta keterangan sejumlah pihak dan mengumpulkan bukti yang relevan.

"Pada (31/10) KPK menerbitkan sprindik atas nama tersangka SN. SN disangka melangar pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 UU tipikor juncto pasal 55 ayat 1 ke-1," kata Saut di Gedung KPK Jakarta, Jumat (10/11).

Terkait dengan hal itu, Kuasa Hukum Ketua DPR Setya Novanto Fredrich Yunadi menyatakan bakal mengajukan gugatan praperadilan atas penetapan tersangka terhadap kliennya yang kedua kali dalam kasus yang sama, yakni dugaan korupsi proyek pengadaan KTP-elektronik (KTP-el) tahun anggaran 2011-2012. "Kita akan mengajukan gugatan praperadilan," katanya, Jumat.

Tak hanya itu, Fredrich mengatakan juga akan melaporkan KPK ke kepolisian, atas dugaan melakukan tindak pidana melawan putusan pengadilan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 29 September lalu. Fredrich mengungkapkan putusan praperadilan saat itu sudah memerintahkan tidak boleh menyidik Setya Novanto dalam kasus KTP-el.

Penetapan Setnov sebagai tersangka untuk kedua kali dalam kasus yang sama, memang cukup mengejutkan, kendati sinyalemen ke arah itu sebelumnya sudah pernah disampaikan pihak KPK. Namun, mengacu pada pengalaman di masa lalu, orang yang sudah menang di praperadilan, lazimnya sudah bebas melenggang, sebagaimana pernah dialami Komjen Pol Budi Gunawan.

Terhadap penetapan kembali dirinya menjadi tersangka, sudah barang tentu, pihak Setnov tidak bisa menerima dan sebagaimana ditegaskan pengacaranya, akan kembali mengajukan gugatan praperadilan atas pemberian status tersangka tersebut.

Dalam hal ini menjadi sangat menarik ditunggu, bagaimana bentuk perlawanan Setno berikutnya serta bagaimana pula pihak KPK akan berupaya menyiasati. Tentu, KPK tidak ingin 'kehilangan tongkat' untuk kedua kali, yaitu kembali dinyatakan dalam praperadilan.

Sebaliknya, pihak Setnov dan pengacaranya juga sudah menyiapkan senjata jitu, supaya kembali dapat memenangkan praperadilan nanti. Pasalnya, seolah sudah menjadi rahasia umum dan keyakinan banyak kalangan, bahwa Setnov selalu memiliki 'senjata pamungkas' untuk mementahkan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Selain itu, menarik pula dicermati, bagaimana sikap kalangan elite Partai Golkar menghadapi status tersangka Setnov untuk kali kedua ini, apakah elite partai, bisa terus solid atau pecah berkeping-keping dan mulai tergoda untuk memunculkan nakhoda baru ?

Apa pun yang bakal terjadi dan menimpa Setnov, yang pasti Partai Golkar bersama jajarannya sudah sangat terbiasa menghadapi turbulensi politik tersebut. Partai Golkar akan tetap eksis, dengan atau tanpa Setnov. Begitulah seharusnya....(**)    

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

27°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 80%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Nov 2017 28°C 23°C
  • 22 Nov 2017 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px