Log in

Mengapa Ma'ruf Amin ?


Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia Kiai Haji Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presidennya untuk menghadapi Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Menurut Jokowi, kombinasi antara dirinya dengan Ma'ruf Amin saling melengkapi. "Menurut saya, kami saling melengkapi. Nasionalis-religius," ujar Jokowi di Plataran, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis malam. Ketika ditanya berapa persen target perolehan suara dalam Pilpres 2019 dengan komposisi bersama Ma'ruf Amin ini, Jokowi tidak menjawab lugas. "Targetnya seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote," ujar Jokowi.

Pilihan terhadap Ma'ruf Amin, jelas sangat mengagetkan. Sebab, beberapa saat sebelumnya yang santer disebut adalah nama Mahfud MD. Bahkan, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini dilaporkan, sudah mengurus kelengkapan administrasi untuk memenuhi persyaratan sebagai bakal cawapres. Karena itu, wajar muncul pertanyaan, mengapa Ma'ruf Amin ? Banyak pihak menilai, munculnya nama Ma'ruf Amin sekaligus menggagalkan Mahfud MD, karena pada menit-menit terakhir, masih terdapat tarik-menarik di internal PKB dan PBNU. Konon, sosok Mahfud MD dianggap kurang kental ke-NU-annya, sehingga NU dan PKB lebih menginginkan nama Ma'ruf Amin.

Pasalnya, keberadaan Ma'ruf Amin selain sebagai Ketua Umum MUI, juga masih tercatat sebagai Rois 'Aam PBNU serta dalam kiprahnya sebagai politisi pernah menjadi wakil rakyat dari PPP dan PKB. Itu artinya, figur Ma'ruf Amin memiliki basis yang kuat di kalangan NU dan PKB. Nah, yang membuat pemberian amanah kepada Ma'ruf Amin sebagai bakal cawapres ini adalah usianya yang sudah cukup sepuh, yaitu 75 tahun. Sebenarnya usia ini jauh lebih muda dibanding Mahathir Muhammad yang sudah mencapai usia 93 tahun lebih. Munculnya nama Ma'ruf Amin ini lagi-lagi bisa disebut merupakan keputusan yang diambil di menit-menit terakhir. Sebab, sesuai dengan kabar yang berseliweran di media massa beberapa saat sebelum diumumkan, nama yang terus berkibar adalah Mahfud MD.

Tetapi, di wilayah politik sejatinya memang semua bisa terjadi. Dan, koalisi pendukung Jokowi sudah memberikan bukti terkait dengan seni kemungkinan yang selalu terjadi di dalam konstelasi politik. Dan, bisa dimaknai pula, keputusan menunjuk Ma'ruf Amin sebagai pendamping Jokowi, bertujuan untuk mementahkan tudingan yang muncul selama ini, bahwa Jokowi dan rekan koalisinya kurang 'bersahabat' dengan kelompok Islam. Sebagaimana disampaikan Jokowi di atas, kombinasi dirinya dengan Jokowi merupakan perpaduan antara nasionalis dengan religius. Jika terpilih sebagai pemenang dalam Pilpres 2019 mendatang, tentu tidak ada lagi alasan bagi pihak manapun untuk menyebut Jokowi tidak ramah terhadap kelompok Islam. Tentunya, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, akankah ada perubahan di kubu Prabowo, dalam hal penentuan figur cawapresnya setelah Ma'ruf Amin yang ditetapkan atau figur Sandiaga Uno, yang tetap akan dimunculkan sebagaimana kebar beredar saat ini ? (**)

24°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 4.83 km/h

  • 23 Oct 2018 27°C 22°C
  • 24 Oct 2018 26°C 22°C

Banner 468 x 60 px