Log in

Menertibkan Manuver Buzzer


Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, aktivitas para buzzer atau pendengung pendukung Presiden Joko Widodo saat ini justru merugikan presiden terpilih periode 2019-2024 itu. Ia mengimbau para pendukung Jokowi tersebut menyebarkan informasi yang positif di media sosial. "Ya, kita melihat dari emosi yang terbangun dari kondisi yang tercipta tersebut justru merugikan. Jadi yang perlu dibangun emosi positif lah," kata mantan Panglima TNI ini di Jakarta, kemarin.

Moeldoko menyatakan, kehadiran buzzer awalnya dimaksudkan untuk memperjuangkan dan menjaga marwah pemimpinnya. Namun, bagi Moeldoko, dalam kondisi Pileg dan Pilpres sudah selesai, keberadaan buzzer sudah tidak diperlukan lagi.

Pernyataan yang disampaikan Kepala Staf Kepresiden tersebut benar adanya dan sebaiknya hal itu harus disertai dengan tindakan nyata berupa upaya penertiban yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan keberadaan dan manuver para buzzer yang sudah tidak diperlukan itu.

Buzzer tiada lain adalah orang-orang yang diberi tugas membangun pencitraan yang positif di media sosial menyangkut seseorang (misalnya Joko Widodo), sekaligus berupaya menangkis serangan atau mendiskreditkan pihak lain yang dianggap sebagai lawan politik.

Nah, kini Pilpres sudah selesai dan konstelasi politik pun sudah mengalami pergeseran. Terbukti Prabowo Subianto sudah memenuhi undangan silaturahmi MRT dengan Jokowi, yang dilanjutkan dengan makan nasi goreng bersama dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Pasca pertemuan itu, peta politik pun sudah mulai bergeser. Saat ini Partai Gerindra justru sudah sangat kompak dengan PDIP. Sebaliknya PKS, PAN, Demokrat juga saling bersinergi dengan Golkar, NasDem, PKB, dan PPP, untuk memuluskan terpilihnya Bamsoet pada pemilihan Ketua MPR RI pekan lalu misalnya.

Nah, terjadinya pergeseran peta politik inilah yang acapkali tidak disadari para buzzer, sehingga beberapa kali memosting ciutan atau tulisan yang merugikan orang atau kelompok yang hendak dibelanya. Dengan kata lain ulah para buzzer ini justru menyebabkan tetap awetnya kegaduhan dan hoax di media sosial.

Sebagaimana pernah ditekankan Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat bertemu di gerbong MRT beberapa bulan lalu, saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya Cebong dan Kampret. Kini, yang ada adalah rakyat Indonesia yang bersatu di bawah lambang Garuda Pancasila dan naungan NKRI.

Karena itu menjadi sangat naif dan menggelikan, ketika para elite politik sudah berdamai, kelompok buzzernya Cebong dan Kampret masih sibuk melakukan kegaduhan di media sosial. Sudah saatnya para buzzer ditertibkan demi mencegah maraknya hoaks sekaligus untuk mewujudkan suasana yang lebih sejuk dan kondusif di tengah rakyat kita.  Monggo... (**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px