Log in

Memaknai Comeback Spektakuler Mahathir


Mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad mencetak rekor baru dengan meraih 119 kursi di perhitungan pemilihan umum (Pemilu) sementara. Komisi Pemilihan Umum sendiri menyebut perolehan Mahathir telah melampaui batas 112 kursi untuk membentuk sebuah pemerintahan. Mahathir sendiri kini telah berusia 92 tahun mengalahkan koalisi pejawat Najib Razak yang tercatat meraih 78 kursi parlemen. "Kami tidak mencari balas dendam. Kami ingin memulihkan supremasi hukum," uajr Mahathir dilansir BBC, Kamis (10/5). Suara kritik yang menyatakan pemilu kali ini tidak bebas dan adil dibalas Mahatir dengan menyatakan koalisi Pakatan Harapan (PH) yang diusungnya telah cukup untuk mengamankan kemenangan dan Barisan Nasional (BN) milik Najib Razak tidak mampu untuk mengejar mereka.

Comeback Mahathir ke dunia politik bisa disebut sebagai sesuatu yang sangat spektakuler dan bisa disebut sebagai sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Kemenangan Mahathir dan mitra koalisinya layak disebut sebagai sesuatu yang fenomenal. Seperti diketahui, Najib Razak dengan BN dan partai utamanya Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) sendiri telah mendominasi politik Malaysia sejak 1957. Namun koalisi yang dulunya kuat kini telah mengalami penurunan popularitas dalam beberapa tahun terakhir. Konon, Najib dianggap telah menerapkan berbagai kebijakan yang dianggap telah menyebabkan Malaysia semakin terpuruk serta ditengarai marak pula perilaku korup. Selain itu, muncul pula tindakan semena-mena terhadap lawan-lawan politiknya.

Sebagai politisi yang sudah kenyang makan asam garam perpolitikan, Mahathir menyadari sepenuhnya, partai bentukannya tidak akan mampu untuk menamatkan Najib. Karena itu dia tidak segan-segan membangun koalisi dengan Anwar Ibrahim bersama istrinya Wan Azizah Ismail. Begitulah politik. Tidak ada lawan abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Demi kepentingan bersama, menumbangkan rezim Najib Razak, Mahathir Mohamad rela merangkul bekas lawan politiknya Anwar Ibrahim serta partai oposisi lainnya. Ternyata perpaduan dua tokoh hebat di tubuh partai oposisi ini (Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim) mampu memengaruhi sekaligus memberikan kepercayaan kepada rakyat Malaysia, bahwa sudah saatnya rezim Najib Abdullah diakhiri dan diganti dengan pemerintahan baru.

Apa yang terjadi di negeri jiran Malaysia ini memang dapat dimaknai sebagai bukti, bahwa rezim yang gagal memang akan selalu mendapatkan hukuman dari rakyatnya. Dengan kata lain, rakyat Malaysia juga sudah tidak percaya dengan kepemimpinan Najib Razak, sehingga mereka merasa diperlukan perubahan kepemimpinan nasional. Memang sangat disayangkan peralihan kepemimpinan nasional itu justru kembali ke tangan Mahathir, yang notabene sudah sangat sepuh. Kita berharap, Dr M panggilan akrab Mahathir bisa bersikap legowo, kendati memenangkan Pemilu, bisa memberi jalan kepada Anwar Ibrahim atau Wan Azizah Ismail sebagai Perdana Menteri. (**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 93%

Wind: 6.44 km/h

  • 16 Aug 2018 30°C 23°C
  • 17 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px