Log in

Media Cetak Harus Tetap Hidup


Fakta di lapangan membuktikan, media yang paling jarang menerbitkan berita hoax adalah media cetak (surat kabar). Sedangkan yang lebih sering memunculkan berita bohong adalah media online dan medsos. Ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan sejumlah pihak.

Sekjen Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat Asmono Wikan, mengungkapkan hal itu dalam seminar pers bertajuk 'Tantangan Media Cetak di Era Digital' di Hotel Garuda Plaza Medan, Kamis (7/11) dirangkai dengan pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) XVI SPS Sumatera Utara 2019, yang dibuka Gubsu Edy Rahmayadi.   

Memang tidak terbantahkan lagi, keberadaan media cetak di era digital saat ini berada dalam situasi terancam dan mengkhawatirkan di tengah maraknya media online. Terbukti banyak media cetak yang gulung tikar, karena tidak lagi mampu bersaing dengan kondisi kekinian yang memang sangat mengedepankan update atau aktualitas berita.

Terancam gulung tikarnya media cetak saat ini juga tidak terlepas dari tingginya biaya operasional dari perusahaan media cetak, yang mengharuskan adanya pengeluaran untuk gaji karyawan serta berbagai dana rutin lainnya. Hal ini diperparah dengan terus melonjaknya harga kertas, yang memaksa perusahaan media ketar ketir.   

Nah, dalam hal inilah diharapkan peran pemerintah memberikan proteksi kepada perusahaan pers untuk menghapuskan pajak kertas dan atau menurunkan harga kertas, demi memberikan jaminan kepada media cetak, supaya tetap hidup dan eksis dalam menjalankan perannya memberikan kontribusi mencerdaskan
kehidupan bangsa.

Kementerian Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia dan Kementerian Keuangan hendaknya bisa berperan menjembatani dan berkontribusi dalam menstabilkan harga kertas demi meringankan beban yang ditanggung oleh perusahaan media. Pemerintah berkewajiban membantu pers, karena pers juga memiliki kontribusi dalam mencerdaskan rakyat Indonesia.     

Kendati media online semakin banyak dan tumbuh bak jamur di musim penghujan. Namun maraknya media online ini diyakini lambat laun juga akan menghadapi fase kejenuhan dan kemunduran, sejalan dengan seringnya muncul komplain banyak pembaca media daring, yang kerap meragukan akurasi dan objektivitas yang terkandung di dalam penyajian berita media online tersebut.

Selain itu, dari segi kualitas SDM pun tidak berlebihan jika dinyatakan media cetak masih lebih unggul, karena para redaktur dan wartawan yang bekerja di media cetak mayoritas sudah teruji kualitasnya, sebab pada umumnya mereka telah mengikuti uji kompetensi wartawan  (UKW) dan aktif di organisasi kewartawanan, misalnya PWI.

Karena pemberitaan di media cetak sudah terbukti lebih bisa dipertanggungjawabkan objektivitas dan akurasinya, maka para pengelola media layak memendam keyakinan, bahwa media cetak tidak akan pernah mati (newspaper never dies) selama masyarakat masih membutuhkan bahan bacaan.

Berbekal sejumlah nilai plus yang dimiliki media cetak tersebut, maka sangat wajar pula jika para pengelola media cetak senantiasa bersikap optimis sembari tetap mengedepankan profesionalisme, dan terus berupaya meningkatkan kualitas konten berita serta tidak mencampuradukkan antara opini dengan fakta. Semoga...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px