Log in

Lupakan Perbedaan, Perkuat Kebersamaan


Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menegaskan, dia tidak pernah memberikan perlakuan berbeda terhadap etnis China yang tinggal di Indonesia. Dia menyebut, ketika berkecimpung di dunia usaha banyak temannya yang beretnis China. "Isu itu selalu saja suka terjadi, ndak tahu juga kenapa, di Makassar itu, semua China itu teman saya," ujar Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (15/5). Dia mencontohkan salah satu orang paling dekat dengannya, Sofjan Wanandi yang menjadi ketua tim ahli wakil presiden adalah etnis China.

Jusuf Kalla meminta kepada seluruh elemen masyarakat agar pilkada jangan menyebabkan bangsa Indonesia melupakan hal-hal yang lebih penting. Diharapkan dengan menjaga persatuan dengan baik, maka dapat menciptakan negara yang maju. "Kalau semua bicara hidup demokrasi selalu teriak NKRI, ya demokrasi berarti setelah pilkada, selesai sudah. Kita mendukung siapa yang menang, kemudian siapa yang menang membangun semua rakyat," kata Jusuf Kalla. Wapres JK benar ! Isu pribumi atau nonpribumi, seharusnya tidak lagi dikedepankan, jika Indonesia sebagai sebuah bangsa ingin bergerak maju menuju kedigdayaan, yang membuat kita bisa menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa maju lainnya di jagad.

Sebagai anak bangsa yang hidup dalam wadah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seharusnya dapat melupakan perbedaan dan terus-menerus berupaya memperkuat kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Sangat naif, jika bangsa ini masih terus mempertajam perbedaan. Harus diingat, perbedaan merupakan sebuah keniscayaan. Perbedaan adalah sunnatullah yang harus diterima dan dihormati. Dan, perbedaan kita sebagai sebuah bangsa sudah ada sejak zaman dahoeloe kala. Karenanya, sangat aneh jika perbedaan itu kembali dibesar-besarkan dan potensial mengancam keutuhan kita sebagai sebuah bangsa.

Dalam konteks pentingnya melupakan perbedaan dan senantiasa memperkuat kebersamaan, kita mengimbau semua pihak, utamanya kalangan elite politik, para pemuka agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, dan segenap elemen bangsa, supaya ikut mendinginkan suasana dan bukan malah sebaliknya, ikut 'memanas-manasi'. Selain isu pribumi dan nonpribumi yang belakangan ini kembali mencuat, kita juga disuguhi isu panas lainnya terkait dengan adanya upaya yang menjurus pada pembenturan antarumat beragama, utamanya antara umat Islam dengan nonmuslim, dengan mengedepankan persoalan mayoritas dan minoritas.

Nah, terkait dengan berbagai persoalan krusial ini, kita berharap kiranya pihak berkompeten di pemerintahan, bisa segera turun tangan dan ikut serta mencari solusi untuk mengatasi persoalan yang potensial memicu terjadinya konflik horizontal ini. Diharapkan, pemerintah bisa bersikap adil dan bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada. Agaknya dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya memelopori (mengundang) berbagai elemen di tengah bangsa kita, untuk duduk bersama, membahas sekaligus melahirkan berbagai kesepakatan baru, yang muaranya adalah berupaya melupakan perbedaan dan memperkuat kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk.(**) 

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 98%

Wind: 6.44 km/h

  • 29 May 2017 30°C 24°C
  • 30 May 2017 31°C 24°C

Banner 468 x 60 px