Log in

Lebaran, Antara Mudik dan Reuni


Beberapa hari ini, mudik menjadi sesuatu yang sangat akrab di telinga kita. Tak diketahui secara pasti, sejak kapan tradisi mudik ini muncul. Mengapa pula lebaran dipilih sebagai momentum yang tepat untuk merajut nilai silaturahmi ? Bukankah silaturahmi bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun selama sanak-kerabat dan handai tolan sama-sama sepakat dan punya waktu untuk melakukannya ? Bisa jadi inilah salah satu cara khas orang tua kita zaman dahulu dalam membangun relasi sosial. Hubungan kekerabatan dipandang sebagai entitas sikap persaudaraan dan kekeluargaan bermarwah tinggi dalam tatanan sosial di tengah kehidupan masyarakat.

Seseorang yang abai dan tak lagi peduli terhadap jalur kekerabatan leluhurnya dianggap sudah lupa kepada saudara, yang dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, merupakan idiom berkonotasi negatif. Bahkan, seseorang yang bertahun-tahun lamanya tidak pernah sowan kepada orang tua, oleh sebagian masyarakat Jawa, dianggap telah tercerabut dari akar keluarga. Dalam situasi demikian, sangat beralasan apabila menjelang lebaran, mudik dianggap sebagai bagian dari ritual lebaran bagi mereka yang selama ini berada di perantauan. Mereka rela berpayah-payah menantang perjalanan panjang dengan segala macam risikonya.

Demi mempertahankan status kekerabatan, menjaga eksistensi, dan mengokohkan legitimasi agar tidak tercerabut dari akar keluarga, mudik diimajinasikan sebagai ritual wajib yang mesti dilalui. Kegembiraan dan kebahagiaan berlebaran tak akan pernah bisa dinikmati tanpa berkumpul dan menyatu dengan sanak-kerabat di tanah kelahiran. Berbeda dengan mudik, reuni merupakan entitas sikap sosial yang hanya dikenal di kalangan terdidik dan terpelajar, setidaknya pernah mengenyam bangku pendidikan dasar, menengah, atau tinggi. Dalam tatanan sosial masyarakat, reuni tidak pernah muncul sebagai piranti sosial kekerabatan, bahkan terkesan eksklusif lantaran hanya dilakukan orang tertentu yang memosisikan diri pernah makan sekolahan.

Meski terkesan eksklusif dan tidak termasuk piranti sosial kekerabatan, realitas sosial yang terjadi hingga saat ini, reuni tetap marak. Momen lebaran dianggap sebagai situasi paling tepat untuk tempat menyatunya alumni dari sebuah institusi setelah terpisah dalam kurun waktu cukup lama. Reuni mampu membangun ruang kesadaran untuk membangkitkan fitrah persahabatan, bahkan persaudaraan, sebagai makhluk sosial yang pernah melintasi kesamaan nasib dan perjuangan dalam memburu ilmu di sebuah bangku pendidikan untuk menggapai masa depan.

Dalam situasi demikian, reuni, disadari atau tidak, tak jarang menjadi ajang untuk menampilkan identitas kesuksesan lahiriah sesama alumni. Pendidikan boleh sama, tetapi perjalanan nasib hidup memiliki jalan keberuntungan yang berbeda. Sama-sama pernah menempuh pendidikan yang sama, tetapi tampilan dan aksesoris fisik bisa sangat kontras. Nah, selamat mudik menuju tanah kelahiran, semoga lancar dan selamat hingga bertemu dengan sanak-kerabat dan handai-taulan dalam suasana guyup dan rukun. Selamat berlebaran, mohon maaf maaf lahir dan batin, semoga kita kembali ke fitrah kesucian setelah setahun lamanya menjadi makhluk sosial yang serba dhaif dan tak berdaya.(**)

24°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 4.83 km/h

  • 23 Oct 2018 27°C 22°C
  • 24 Oct 2018 26°C 22°C

Banner 468 x 60 px